Kamis, Mei 26, 2022
BerandaBerita BanjarTerkendala Kewenangan Wilayah, Tanggul Jebol di Perbatasan Langensari-Lakbok Belum Ditangani

Terkendala Kewenangan Wilayah, Tanggul Jebol di Perbatasan Langensari-Lakbok Belum Ditangani

BPBD, Kepala Desa Kujangsari dan Sekmat Langensari saat meninjau lokasi tanggul yang sebelumnya jebol. Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Sebuah tanggul sungai yang berada di perbatasan antara Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, dengan Desa Puloerang, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, sekitar bulan Maret 2017 lalu mengalami jebol lantaran adanya pengikisan tanah seiring debit air sungai meningkat.

Sebelumnya, setelah adanya koordinasi antara kedua desa tersebut bersama BPBD Kota Banjar, tanggul sepanjang 15 meter dengan lebar sekitar 3 meter itu ditutup oleh warga kedua desa itu menggunakan tanah dalam karung dari BPBD Kota Banjar.

Pasca dilakukan penutupan sementara pada tanggul yang jebol beberapa bulan lalu, aliran sungai Blok Nyumbang yang berujung di Sungai Apur Sukamelang itu kembali meluap hingga sawah-sawah yang ada di sekitarnya terendam banjir. Bahkan, sebagian areal pekarangan rumah warga turut terdampak banjir.

Untuk diketahui, lokasi jebol tanggul tersebut berada di Desa Puloerang yang berdampak pada areal pesawahan di wilayah Desa Kujangsari. Selain itu, mayoritas pemilik sawah di sekitar lokasi tersebut merupakan warga Kujangsari dan sekitarnya. Lantaran lokasinya berada di wilayah perbatasan, sehingga muncul persoalan terkait penanganannya.

Kepala Desa Kujangsari, Siti Aisyah, mengatakan, pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin agar penanganan tanggul jebol tersebut segera diselesaikan. Akan tetapi, karena penanggulangan dengan penutupan karung berisi tanah bersifat sementara, kondisi hujan yang terus mengguyur dan debit air sungai tersebut meningkat membuat air masuk ke areal pesawahan.

“Padahal itu lokasinya di Desa Puloerang. Tetapi mayoritas pemilik tanah orang Kujangsari. Maka dari itu, mau tidak mau kita juga harus berperan menangani persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” kata Siti, kepada Koran HR, saat ditemui sedang meninjau lokasi tanggul jebol bersama Sekretaris Camat Langensari, Jajat Sudrajat, berserta petugas BPBD Kota Banjar, Senin (16/10/2017).

Siti menambahkan, dalam penanganan tanggul jebol itu, ia melibatkan warganya untuk menutupi tanggul. Selain itu, koordinasi dengan berbagai pihak terkait juga ia tempuh demi masyarakatnya yang sebagian adalah petani.

“Kita dengan pemerintah kecamatan maupun BPBD terus melakukan komunikasi intensif soal penanganan ini. Karena wilayahnya di perbatasan, kita juga melakukan koordinasi dengan Desa Puloerang agar mereka mendorong supaya melakukan koordinasi ke Pemkab Ciamis. Kalau ini ditangani sama kita sendiri ya repot juga urusannya, apalagi wilayahnya bukan di Desa Kujangsari,” tutur Siti.

Di lokasi yang sama, Petugas BPBD Kota Banjar, Uman Suhaman, mengatakan, pihaknya langsung melakukan komunikasi dengan BPBD Provinsi untuk merekomendasikan ke Dinas PU Provinsi Jawa Barat, terkait penanganan tanggul jebol ini. Sebab, wilayah sungai tersebut adalah kewenangan PSDA untuk wilayah Tasikmalaya.

Menurut Uman, jika lokasi tanggul jebol ini berada di wilayah Kota Banjar, tentu sudah ditangani. Sebelumnya juga BPBD Kota Banjar memberikan karung untuk penutupan tanggul jebol ini yang diisi dengan tanah. Namun hal itu sifatnya hanya sementara.

Bila akhir dari solusi tanggul jebol tersebut harus permanen, lanjut Uman, maka harus dilakukan bronjong. Hasil perhitungannya, untuk tanggul jebol itu membutuhkan sekitar 20 bronjong.

“Nah, sekarang tinggal persoalan penanganan di provinsi. Kalau soal harga material batu untuk bronjong, tentu ini akan dua kali lipat karena jaraknya ke lokasi cukup jauh dan sulit ditempuh menggunakan kendaraan roda empat. Pada prinsipnya, ini harus dipermanenkan supaya tidak jebol lagi. Bila hanya menggunakan karung tanah, ini sifatnya hanya sementara,” tandas Uman.

Dari pantauan Koran HR di lapangan, pengikisan tanah tanggul selain karena debit air meningkat, diduga aktifias bercocok tanam warga juga menjadi penyebab menipisnya tanggul. Bahkan, tanggul yang lebarnya sekitar 3 meter lebih itu kini hanya bisa dilalui oleh sepeda motor maupun sepeda kayuh. Selain itu, tanggul yang tampak masih lebar juga ditanami warga hingga hampir ke bibir sungai dan di bibir sawah.

Saat dikonfirmasi, hingga berita ini diturunka Koran HR belum mendapatkan keterangan lebih lanjut soal tanggul tersebut dari Kepala Desa Puloerang. (Muhafid/Koran HR)

- Advertisment -