Senin, Mei 16, 2022
BerandaBerita BanjarVolume Bantuan Pangan Non Tunai di Banjar Berkurang, Ini Penjelasan Bulog

Volume Bantuan Pangan Non Tunai di Banjar Berkurang, Ini Penjelasan Bulog

Komoditi BPNT di salah satu E-Warong di Kecamatan Langensari yang siap disalurkan ke KPM, Kamis (19/10/2017). Foto : Nanang Supendi/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Ciamis yang sedang mendistribusikan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) ke setiap E-Warong di Kota Banjar, menjelaskan berkurangnya volume bahan pangan yang diterima Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dibanding sebelumnya, karena beras yang dikirim punya kualitas lebih bagus.

“Perubahan volume bahan pangan yang diterima KPM BPNT, ya dikarenakan ada perubahan kualitas beras lebih bagus,” kata Kasie Komersial Bulog Sub Divre Ciamis, Yeni, saat dikonfirmasi HR Online, Rabu (18/10/2017).

Dia menjelaskan, jika dalam penyaluran BPNT sebelumnya dengan beras jenis premium 3, sekarang menjadi beras premium 1. Maka dengan adanya kualitas yang lebih bagus, harganya pun lebih tinggi.

[ Berita Terkait : Volume Bantuan Pangan Non Tunai yang Diterima KPM di Banjar Berkurang ]

“Pokoknya sebelum penyaluran komoditi BPNT itu dilakukan, sudah melalui kesepakatan bersama antara Bulog dan Dinas Sosial Kota Banjar. Bahkan hari kemarin kita sendiri langsung ke lapangan dalam menurunkan komoditi BPNT,” tandasnya.

Sementara itu salah satu pemilik E-Warong di wilayah Kecamatan Langensari, Yono menyebutkan, bahwa dirinya tadi sore sudah menerima pengiriman komoditi BPNT dan siap besok untuk menyalurkannya kepada KPM.

“Komoditi BPNT sudah kami terima tadi sore, dan besok siap disalurkan ke KPM,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Banjar, Asep Tatang Iskandar, saat ditemui Koran HR di ruang kerjanya, Selasa (17/10/2017), mengatakan, dalam penyaluran BPNT tahap ini, akan ada perubahan jenis bahan pangan yang diterima KPM.

Jika sebelumnya setiap bulan 10 kilogram beras dan 2 kilogram gula, sekarang jadi 5 kilogram beras, 2 kilogram gula dan 2 liter minyak goreng. “Dilihat volume memang berkurang, tapi itu nilainya tetap sama 110 ribu rupiah. Terjadinya perubahan bahan pangan diperbolehkan asal masih jenis sembako,” terangnya. (Nanks/R5/HR-Online)

- Advertisment -