Jumat, Mei 20, 2022
BerandaBerita CiamisWarga di Bantaran Cileueur Ciamis Masih Buang Hajat dan Limbah RT ke...

Warga di Bantaran Cileueur Ciamis Masih Buang Hajat dan Limbah RT ke Sungai

Pipa paralon yang digunakan untuk pembuangan limbah rumah tangga (Limbah RT) tampak terlihat menjulur dari rumah warga ke Sungai Cileueur. Foto: Istimewa

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Koordinator Program Kotaku Kabupaten Ciamis, Dede Heryadi, mengatakan, pihaknya dalam program Kotaku sebagai pihak konsultan pendamping yang membantu Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Ciamis dalam membuat pemetaan kawasan permukiman kumuh.

Dari hasil penelitian lapangan dan kajian terhadap kawasan kumuh di bantaran Sungai Cileueur, ditemukan empat masalah yang harus ditangani, yakni masalah sanitasi, ketersediaan air minum, jalan lingkungan dan drainase.

“Masalah sanitasi yang ditemukan, yakni warga di sekitar bantaran Cileueur masih ada yang membuang hajat (kotoran manusia) ke sungai. Tentunya ini problem yang harus ditangani. Nantinya, kami akan melakukan sensus lapangan guna mengetahui seberapa banyak warga di bantaran sungai Cileueur yang belum memiliki MCK,” ujarnya, kepada Koran HR, belum lama ini.

Setelah sensus dilakukan, lanjut Dede, ada dua program yang digulirkan, diantaranya membantu membuatkan MCK atau membangun septitank di perumahan warga yang masih membuang hajat ke sungai. “Jadi, kalau masalahnya belum punya MCK, maka akan kami buatkan. Namun, apabila sudah memiliki MCK, tapi pembuangan hajatnya ke sungai, maka akan kami buatkan septitank. Artinya, jangan ada lagi warga yang membuang hajat ke sungai Cileueur,’ terangnya.

Masalah lainnya di bantaran Sungai Cileueur, kata Dede, yakni masih banyaknya warga yang membuang limbah rumah tangga (Limbah RT) langsung ke sungai. Sungai, menurutnya, harus steril dari berbagai limbah dan hanya untuk menampung air hujan. “Untuk mengatasi hal ini, nanti kita akan membuatkan drainase. Jadi, limbah rumah tangga tidak langsung mengalir ke sungai, tetapi tertahan terlebih dahulu di drainase. Dengan begitu, air yang mengalir dari drainase ke sungai sebelumnya sudah tersaring dan bercampur dengan air hujan,” ungkapnya.

Dede mengatakan, selain masalah sanitasi, di bantaran Sungai Cileueur pun ditemukan permasalahan infrastruktur, diantaranya kerusakan jalan lingkungan dan ditemukan beberapa tanggul yang terancam jebol. Untuk mengatasi hal itu, kata dia, harus dilakukan perbaikan jalan lingkungan dan membangun Tembok Penahan Tebing (TPT) di beberapa titik. “Jadi, untuk program infrastrukturnya, akan membangun TPT dan membangun sekaligus memperbaiki jalan lingkungan yang mengalami kerusakan,” ujarnya.

Dede mengungkapkan, dari sembilan desa/keluaran di Kabupaten Ciamis yang ditetapkan sebagai kawasan permukiman kumuh, memang di bantaran sungai Cileueur paling urgent yang harus segera ditangani. “Selain posisinya berada di pusat kota Ciamis, juga dari segi jumlah penduduk di daerah itu sangat padat. Dengan begitu, harus mendapat penanganan prioritas,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pemkab Ciamis melalui Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Ciamis, kini tengah mendesain penataan kawasan permukiman kumuh yang berada di wilayah Ciamis kota. Kawasan kumuh dipandang urgent untuk segera ditangani, yaitu di bantaran sungai Cileueur atau tepatnya di empat titik wilayah Keluruhan Ciamis dan Kelurahan Maleber, Kecamatan Ciamis, yakni di Lingkungan Janggala, Kedungpanjang, Limusnunggal dan Barak.  (Dok/Koran HR)

- Advertisment -