Selasa, Mei 17, 2022
BerandaBerita BanjarZaman Pra Kemerdekaan, Ponpes di Banjar Ini jadi Sasaran Tembak Belanda

Zaman Pra Kemerdekaan, Ponpes di Banjar Ini jadi Sasaran Tembak Belanda

Kyai Badrun atau KH. Abdurrohim (pakai jubah putih), semasa hidupnya saat menghadiri kegiatan Nahdlatul Ulama. Photo: Istimewa.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Siapa yang tidak kenal dengan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo. Pesantren yang beridiri di Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar tak hanya dikenal umat Islam di wilayah Jawa Barat saja, tapi juga dikenal di pelosok tanah air.

Sejumlah cerita mengiringi proses berdirinya ponpes tersebut, mulai dari kisah nyata, kisah mistis, hingga pada masa zaman perjuangan penjajahan. Menurut KH. Munawir Abdurrohim, awal berdirinya Ponpes yang dikenal pesantren Citangkolo tersebut saat Kyai muda Marzuki Mad Salam (wafat tahun 1968 dalam usia 93 tahun), asal Dusun Grumbul Kelawan, Desa Gung Agung, Kecamatan Bulus Pesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, merasa prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang masih dalam penjajahan kolonial Belanda.

“Mengingat keterbatasan materi yang dimilik, beliau memohon kepada Alloh dan diisyaratkan untuk keluar mencari tempat yang tepat untuk syiar Islam. Beliau berkelana ke berbagai tempat mulai dari Gombong, Tambak, Sitinggil dan tempat lainnya. Nah, pada tahun 1911, beliau tiba di Citangkolo yang mana dikenal hutan belantara, dan konon sangat angker serta banyak binatang buas,” tutur KH. Munawir, yang juga anak pertama dari KH. Abdurrohim, kepada Koran HR, Selasa (02/10/2017) lalu.

Ia berkisah, saat Kyai Marzuki datang, ada tiga keluarga dari Manonjaya, Cineam, Tasikmalaya, dan Rancah, Kabupaten Ciamis, yang tiba-tiba hilang tanpa sebab. Tepat 10 Muharam di tahun Masehi 1911, Kyai Marzuki mendirikan mushola panggung dengan ukuran 2X3 meter. Lima tahun kemudian, lahan di sekitar mushola bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan keagamaan.

“Di tahun 1916, beliau memboyong keluarga dari desa asalnya dengan membawa bayi laki-laki berumur 100 hari yang bernama Badrun. Seiring dengan itu, mushola diperbesar hingga ukurannya menjadi 5X9 meter,” terangnya lagi.

Pada tahun 1923, lanjut KH. Munawir, mushola tersebut berubah menjadi Masjid Jami’ atas permintaan dari Bupati Tasikmalaya saat itu yang selanjutnya semakin banyak pemuda-pemudi belajar agama ke Kyai Marzuki.

Ketika proses pengembangan cikal bakal Pesantren Citangkolo itu, Kyai Marzuki dibantu anaknya, Kyai Mad Soleh yang wafat tahun 1950 serta menantunya. Saat pra kemerdekaan, Pesantren Citangkolo menjadi salah satu basis pergerakan untuk membantu para pejuang dalam merebut kemerdekaan dari tangan kolonial Belanda.

Dengan semangat berjuang, sambung KH. Munawir, pasukan dinamakan Hizbulloh yang dipimpin Kyai Badrun (KH. Abdurrohim setelah namanya diubah) dan membawahi pasukan di wilayah Ciamis, Tasikmalaya, dan daerah sekitarnya.

Karena sudah tercium pergerakannya oleh Belanda, akhirnya Pesantren Citangkolo menjadi sasaran tembakan meriam Belanda dari Banjar. Apalagi kemarahan Belanda memuncak ketika terjadi adanya penggulingan Kereta Api di wilayah Cibeureum, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.

Kemudian, seiring berjalannya waktu, Kyai Badrun diberi amanat untuk melanjutkan perjuangan ayahnya, Kyai Marzuki, untuk menyiarkan agama Islam dengan belajar kembali ke pesantren sebelum berkecimpung di Citangkolo.

Tahun 1960, Pondok Pesantren Citangkolo mengalami kondisi Fatroh (kekosongan pemimpin). Setelah dirintis kembali pada 10 Muharam di tahun 1960, namanya berubah menjadi Ponpes Miftahul Huda, dan pada 10 Muharam tahun 1987 nama Ponpes Miftahul Huda ditambah nama menjadi Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo, seiring kepulangan KH. Munawir belajar dari Mesir.

“Alhamdulillah sejak saat itu Pesantren Citangkolo secara perlahan mulai mengalami perkembangan cukup pesat, hingga saat ini memiliki lembaga pendidikan mulai dari tingkat PAUD, MI, SMP, MTs, SMA, MA serta Perguruan Tinggi STAIMA Banjar. Makanya di tiap bulan Muharam, kita selalu merayakan Haul pendiri Ponpes dengan berbagai kegiatan selama satu bulan penuh,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)

- Advertisment -