Kebangkitan Seni Buhun di Citembong Pangandaran

Turis mancanegara saat ikut serta dalam permainan Seni Gondang. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Masyarakat Dusun Citembong, Desa Cikalong, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran menampilkan atraksi luar biasa dalam peresmian sanggar Paguyuban Seni Dan Budaya Ligar Munggaran.

Dalam penampilannya, sebanyak 7 macam kesenian semuanya ditampilkan dengan baik oleh para seniman, seperti Seni Gondang, Seni Angklung, Seni Tembang Beluk, Seni Karinding, Seni Ketuk Tilu, Seni Tayuban, dan Seni Kuda Lumping.

“Seni jadi ciri budaya bangsa. Jadi, sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi penerus untuk tetap terus melestarikan warisan budaya dari para leluhur,” jelas Aris Kustandar, tokoh seniman yang juga Kepala Dusun Citembong kepada Koran HR, Senin (20/11/2017) lalu.

Aris mengatakan, meskipun Dusun Citembong Cikalong tidak mempunyai apa-apa, akan tetapi memiliki kesenian 7 macam yang ditampilkan itu. Terlebih, asal usul seni buhun yang menjadi ikon budaya Dusun Citembong ini adalah Kesenian Gondang,  Kesenian Tayuban,  Kesenian Tembang Beluk, dan  Kesenian Ketuk Tilu.

Kegiatan yang digelar secara swadaya dari masyarakat ini, lanjut Aris, sebagai salah satu bentuk antusias masyarakat dalam melestarikan warisan leluhur dalam rangka untuk mendapatkan pengakuan dari Dinas Pariwisata Pangandaran bahwa seni ini adalah khas milik masyarakat Dusun Citembong.

“Dulu Kesenian Gondang Dusun Citembong pernah menjadi juara tingkat Kabupaten. Karena lengah, seni ini diakui oleh sekelompok orang saja. Melihat kondisi seperti ini, akhirnya kita sepakat untuk terus tetap mempertahankan kesenian tersebut,” tambah Aris Kustandar.

Di masing-masing RW, sambung Aris, ada Saung Gondang yang mana sampai saat ini sudah diteruskan sampai generasi ke-3, yakni ke anak-anak sekolah tingkat dasar dan pertama. Sementara saat ini, ia mengakui sudah memiliki 10 grup kesenian yang mana satu grup terdiri dari 10 orang.

“Di kami juga ada satu lisung yang usianya sudah 133 tahun dan masih tetap dipakai sampai sekarang. Kita selalu menjadwalkan latihan setiap malam Minggu untuk kuda lumping, malam Senin untuk Karinding, malam selasa untuk Ketuk Tilu, malam Rabu untuk Seni Beluk, malam Kamis untuk ronggeng amen, malam Jum’at untuk Seni Angklung, dan malam Sabtu untuk Gondang,” ungkap Aris.

Aris kembali menceritakan, bahwa Desa Cikalong pernah mendapat penghargaan dan prestasi sebagai salah satu desa percontohan lumbung padi tingkat Provinsi Jawa Barat. Bahkan, di Desa Cikalong terdapat lokasi yang difokuskan di 3 RT saat ini, terdapat 33 lumbung padi. Sehingga, masyarakat tidak pernah khawatir saat krisis padi.

Ketua Sanggar Paguyuban Seni dan Budaya Linggar Munggaran, Kisman, mengatakan, adat tradisi para pendahulu di kampungnya sudah terbiasa menumbuk padi menggunakan lisung dan halu. Sementara saat ini, halu dan lisung menjadi salah satu alat pentas Seni Gondang yang biasa disajikan dalam rangkaian sebelum hajatan di masyarakat.

“Kami juga tampilkan lisung dan halu yang usiannya hampir 133 tahun. Adapun lagu yang disajikan dalam adegan Seni Gondang di antaranya lagu hayam hideung, lagu gambir dan kembang marak,” tuturnya.

Hadir dalam acara tersebut Anggota DPRD Kabupaten Pangandaran dari PAN Alif Suhendi, Ade Ruminah dari Golkar dan Ruspandi dari Nasdem. Mereka sangat antusias dalam peresmian sanggar tersebut. (Mad/R6/Koran HR)

KOMENTAR ANDA