Selasa, Mei 24, 2022
BerandaBerita PangandaranBMKG Cabut Peringatan Dini Tsunami, Warga Pangandaran Berangsur Kembali ke Rumahnya

BMKG Cabut Peringatan Dini Tsunami, Warga Pangandaran Berangsur Kembali ke Rumahnya

Warga Desa Kertamukti, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, saat mengungsi ke tempat aman setelah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 7,3 SR yang berpusat di Kabupaten Tasikmalaya dan sebelumnya dinyatakan berpotensi terjadi tsunami. Foto: Asep Kartiwa/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Setelah BMKG mencabut status peringatan dini tsunami untuk wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat dan sekitarnya, warga di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, berangsur sudah kembali pulang ke rumahnya. Pemerintah Desa setempat pun ikut membantu meyakinkan warga bahwa kondisi sudah aman atau tidak terjadi bencana tsunami.

Kepala Desa Karangjaladri, Kecamatan Parigi, Dedi Kurniadi, mengatakan, setelah BMKG mengumumkan di berbagai media massa bahwa peringatan dini tsunami sudah dicabut dan tidak bakal terjadi bencana lanjutan, pihaknya langsung mengintruksikan seluruh kepala dusun dan ketua RW/RT agar menyampikan kepada warga untuk kembali ke rumahnya. “Alhamdulilah, di daerah kami warga sudah berangsur kembali pulang ke rumahnya,” ujarnya, saat dihubungi HR Online, via telepon selulernya, Sabtu (16/12/2017) dini hari.

Menurut Dedi, warga yang berada di sekitar Bojongsalawe, sebenarnya tidak mendengar adanya bunyi sirine peringatan dini tsunami. Namun begitu, kata dia, ketika bencana gempa mengguncang malam tadi, warga berinisitif untuk mengungsi guna menghindari terjadi bencana susulan. “Warga pun sempat panik karena beredar berita hoax di media sosial yang menyebutkan di daerah Cipatujah Tasikmalaya sudah terjadi tsunami,” ujarnya.

Dedi pun memastikan tidak benar terkait kabar bahwa perairan laut Pangandaran sempat terjadi surut seperti yang beredar di media sosial. “Saya pastikan itu hoax yang disebarkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Bahkan, sirine peringatan tsunami di pantai Bojongsalawe tidak menyala sama sekali,” katanya.

Sementara itu, dari Desa Kertamukti, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, dilaporkan meski status peringatan dini sudah dicabut BMKG, namun kebanyakan warga setempat masih tetap memilih mengungsi guna menjauh dari daerah laut. “Memang ada sebagian warga yang pulang ke rumahnya. Tetapi ada juga yang memutuskan untuk tetap bertahan di sini sebelum kondisi benar-benar aman, ” kata warga setempat, Ika Kartika, kepada HR Online, dini hari tadi.

Sebelumnya, gempa bumi cukup kencang kembali menguncang pantai selatan Jawa Barat, Jum’at (15/12/2017) pukul 23.47 WIB. Dari informasi di twitter BMKG, gempa tersebut berkekuatan 7,3 skala richter (SR) dengan episentrum terletak di koordinat 8.o3 LS, 108.04 BT, tepatnya di Barat Daya Kabupaten Tasikmalaya-Jabar dengan kedalaman 105 Km. BMKG melansir bahwa gempa ini berpotensi tsunami. (Askar/R2/HR-Online)

- Advertisment -