Rabu, Mei 25, 2022
BerandaBerita CiamisDPRD Ciamis Diminta Dorong Terbitkan Perda HIV/AIDS

DPRD Ciamis Diminta Dorong Terbitkan Perda HIV/AIDS

Ilustrasi HIV/AIDS. Foto: Ist/Net

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Ketua LSM Wisma (Lembaga Penanggulangan HIV/AIDS) Kabupaten Ciamis, Deni Wahyu, mengatakan, kasus temuan HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis yang setiap tahunnya  selalu menunjukan angka yang cukup tinggi, harus menjadi perhatian semua pihak. Menurutnya, dalam penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis, perlu dibuat payung hukum berupa Peratuaran Daerah (Perda) agar peran dan strategi penanganan bisa lebih terarah dan terkoordinasikan.

Deni mengatakan pihaknya dan para penggiat sosial di bidang penanggulangan HIV/AIDS sudah mendorong DPRD Ciamis agar mengusulkan Raperda tentang Penanggulangan HIV/AIDS yang digagas melalui hak inisiatif. “Permintaan dari kami waktu itu sudah direspon oleh beberapa Anggota DPRD. Dan mereka berjanji akan memasukan usulan tersebut pada agenda Prolegda tahun 2018 mendatang,” katanya, kepada Koran HR, pekan lalu.

Menurut Deni, apabila penanggulangan HIV/AIDS sudah memiliki payung hukum, tentunya akan memudahkan dalam menyusun strategi penanganan dan pembagian peran serta tugas antara pemerintah, lembaga dan masyarakat dalam meminimalisir jumlah kasus temuan HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis.

“Artinya, harus jelas berbagi peran dan tugas. Pemerintah melalui beberapa dinas terkait menyusun program dan strategi serta menyediakan anggarannya. Sementara kami dari LSM yang didorong oleh KPAD melakukan edukasi tentang penanggulangan HIV/AIDS ke masyarakat serta melakukan pendamingan terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Apabila pola itu sudah tercipta, saya yakin dapat meminimalisir kasus HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis,” terangnya.

Deni menambahkan, agar pola tersebut menjadi program yang berkelanjutan, maka harus diamanatkan melalui Perda. Hal itu agar ada penekanan bahwa penanggulangan HIV/AIDS merupakan amanat yang diperintahkan oleh perundang-undangan. “Kalau tidak diatur dalam Perda, jadinya seperti sekarang ini, dimana pemerintah daerah seperti tidak memiliki arah dalam melakukan penanggulangan HIV/AIDS. Sementara kasus HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis dalam setiap tahunnya terus menunjukan angka yang mengkhawatirkan,” tandasnya.

Menurut Deni, LSM di Ciamis yang bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS hingga saat ini masih mengandalkan bantuan program dari luar negeri. Sementara pemerintah daerah hingga saat ini belum mendorong secara maksimal program-program dalam penanggulangan HIV/AIDS.

“Bantuan program dari negara donor tidak akan setiap tahun ada. Tahun ini saja kami menginduk ke Kota Tasik karena memang untuk Ciamis tidak mendapat bantuan dari negara donor. Makanya, dalam hal ini perlu adanya campur tangan pemerintah daerah, salah satunya mengalokasikan anggaran untuk program penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis,” katanya.

Menurut Deni, pada tahun 2017 ini kasus HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis berjumlah 37 kasus. Dan tahun-tahun sebelumnya pun jumlah kasus yang ditemukan selalu berada di angka 37 sampai 40 kasus.

“Untuk ukuran Kabupaten Ciamis yang dimana kota kecil, jumlah kasus HIV/AIDS di kisaran 37-40 kasus dalam setiap tahunnya, sudah terbilang cukup tinggi. Dan jumlah tersebut dalam setiap tahunnya sulit ditekan. Kalau seandainya kondisi ini dibiarkan atau tanpa penanganan serius dari pemerintah daerah, tidak menutup kemungkinan jumlah penderita akan terus bertambah banyak pada tahun-tahun berikutnya,” katanya.

Berdasarkan analisa medis, tambah Deni, penularan virus HIV/AIDS bagaikan gunung es. Artinya, kalau satu penderita HIV/AIDS ditemukan, berarti akan berpotensi menularkan ke 100 orang lainnya.

“Makanya, rantai penularan virus HIV/AIDS ini harus diputus dengan cara penanggulangan melalui sosialisasi dan edukasi ke masyarakat tentang pencegahan penularan HIV/AIDS. Selain itu, memberikan pendampingan kepada ODHA yang salah satu tujuannya agar tidak menularkan penyakitnya ke orang lain,” ujarnya.

Menurut Deni, setiap ditemukan penderita HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis, kerap kali kondisi kesehatannya sudah drop atau stadium penyakitnya sudah dinyatakan AIDS. Kondisi itu, kata dia, menunjukan bahwa pemahaman masyarakat Ciamis terhadap penyakit HIV/AIDS masih rendah. Dengan kondisi itupun menyebabkan angka kematian ODHA di Kabupaten Ciamis cukup tinggi.

“Kalau masyarakat sudah diberi pemahaman tentang HIV/AIDS, dipastikan mereka yang merasa berpotesi tertular akan dengan sukarela memeriksakan kesehatannya. Kalau saat diperiksa ternyata mereka tertular HIV, tentunya masih bisa diberi terapi pengobatan ARV guna menjaga daya tahan tubuhnya agar tidak drop. Dan fakta membuktikan bahwa saat ini banyak penderita HIV yang rajin menjalani terapi ARV, mereka bisa menjalani hidup secara sehat dan beraktivitas seperti biasa,” katanya. (Bgj/Koran-HR)

Berita Terkait

Hingga Tahun 2017, 69 Warga Ciamis Meninggal Akibat Sudah Terkena AIDS

Hingga 2017, 202 Warga Ciamis Mengidap HIV/AIDS, Mayoritas Tertular dari Hubungan Seksual

Di Ciamis, Banyak Penderita yang Tertular HIV/AIDS Saat Merantau

Penderita HIV/AIDS Banyak Ditemukan di Kecamatan Ciamis dan Banjarsari

 

- Advertisment -