Selasa, Agustus 16, 2022
BerandaBerita PangandaranPeringatan Dini Tsunami Berbunyi, Bangunan TES di Pasar Wisata Pangandaran Malah Sepi...

Peringatan Dini Tsunami Berbunyi, Bangunan TES di Pasar Wisata Pangandaran Malah Sepi Pengungsi

Bangunan TES yang berada di Pasar Wisata Pangandaran merupakan tempat evakusi sementara dari ancaman bahaya tsunami. Foto: Istimewa

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Gempa Bumi dengan kekuatan 6,9 SR yang terjadi pada Jumat (15/12/2017) lalu, hingga mengguncang pulau Jawa, dan mengaktifkan Tsunami Early Warning System (TEWS) di pantai Pangandaran, dan membuat warga melakukan evakuasi menuju tempat yang dianggap lebih tinggi dan aman.

Pada evakuasi saat itu, warga dan wisatawan terlihat panik, dan berbondong-bondong menghindar dari bibir pantai. Sepintas hal itu memang wajar terjadi, sebagai langkah mitigasi tsunami sesuai standar evakuasi penyelamatan.

Sementara langkah mitigasi tsunami yang sudah dilakukan pemerintah dikawasan pantai Pangandaran, adalah dengan membangun shelter atau Tempat Evakuasi Sementara (TES), yang berlokasi di pasar wisata Pangandaran.

Akan tetapi Bangunan TES berlantai 3 itu dengan tinggi 12 meter,hibah dari BNPB dan KemenPUPR tahun 2016, ternyata sepi dari para warga dan wisatawan yang melakukan evakuasi menuju ke tempat yang lebih tinggi, agar terhindar dari sapuan ombak tsunami.

Berdasarkan informasi yang dihimpun HR, Bangunan TES tersebut mampu menampung pengungsi hingga 6000 orang.

“Saya juga heran kenapa warga tidak memanfaatkan bangunan TES untuk evakuasi sebagai tempat yang lebih tinggi.  Warga dan wisatawan malah berbondong-bondong ke mesjid agung, dan seolah lupa adanya TES,” ungkap Dayat Sudrajat, Relawan Pos AL kepada HR, Rabu (20/12/2017).

Bangunan TES saat itu, lanjut Dayat, hanya ada 4 keluarga yang melakukan evakuasi ke tempat tersebut, padahal tempat itu mampu menampung ribuan orang. “Apa kurang sosialisasi mengenai fungsi dan kegunaan bangunan TES kepada warga dan wisatawan. Dan memang ternyata, masih banyak yang tidak tahu fungsinya,” ucap Dayat menyayangkan hal tersebut.

Pemkab Pangandaran dan seluruh elemen terkait, diharapkan Dayat mampu mensosialisasikan fungsi dan manfaat bangunan TES, serta memasang rambu evakuasi darurat yang diarahkan ke Bangunan TES.

“Kalau ada yang meyangsikan bangunan TES itu tahan gempa atau tidak, saya rasa sekarang sudah terjawab,” imbuhnya.

Pemanfaatan bangunan TES akan menghindari dari berjubel dan berdesakan, pada saat proses evakuasi seperti yang terjadi kemarin. “Kemarin juga akhirnya warga malah berjubel di Bundaran, yang menurut saya belum tentu aman sebagai langkah mitigasi tsunami,” ketus Dayat.

Kurangnya sosialisasi langkah mitigasi tsunami kepada bangunan TES, diakui oleh Sutan Abdul Rosyid, Relawan Potsar, Kabupaten Pangandaran. Menurutnya, keberadaan dan fungsi bangunan TES, memang belum secara menyeluruh diketahui oleh hotel dan warga.

“Memang ada juga yang tahu fungsinya, tapi takut dengan kekuatan gempa susulan yang dapat merobohkan bangunan TES tersebut. Karena warga tidak tahu, apakah bangunan itu tahan gempa atau tidak,” tuturnya kepada HR.

Sosialisasi bangunan TES untuk wisatawan, Sutan berharap adanya brosur atau peta evakuasi yang mengarah ke TES. “Sesuai SOP BNPB masyarakat harus menjauh laut dan sungai dan bergegas ke tempat tinggi dan aman, apalagi banyak bouys yang rusak, terutama yang dekat Purbahayu,” tambahnya.

Sutan meminta dengan segera pihak DPKPB Kabupaten Pangandaran dan pihak terkait, untuk lebih gencar mensosialisasikan, serta melatih masyarakat agar respon terhadap bahaya bencana, terutama respon terhadap peringatan dini tsunami, khususnya dalam proses evakuasi.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DKPB), Nana Ruhena, mengatakan pihaknya, sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait mitigasi bencana gempa bumi dan tsunmai.

“Warga masih trauma dengan kejadian tsunami pada tahun 2006 lalu, jadi mereka lebih memilih pergi jauh meninggalkan bibir pantai, ketimbang mengevakuasi ke bangunan TES,” ucapnya kepada HR Rabu (20/12/2017).

Pihaknya, lanjut Nana, akan terus melakukan sosialisasi ulang kepada masyarakat mengenai fungsi Bangunan TES, serta terkait gempa bumi dan karakteristiknya. “Tentunya langkah mitigasi tsunami dan gempa memerlukan keterlibatan seluruh stakeholder,” tukasnya. (Mad/HR)