Beras Mahal, Distan Banjar Paparkan Kondisi di Banjar

Walikota Banjar, Hj. Ade Uu Sukaesih, saat membuka kegiatan Operasi Pasar (OP) untuk beras kualitas medium yang digelar Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan. Photo: Nanang Supendi/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Banjar, Nanan Rohanan, mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki pihaknya selama satu tahun, atau per 31 Desember 2017, tercatat pada luas lahan panen 6.612 hektar menghasilkan produksi Gabah Kering Giling (GKG) sebanyak 42.687 ton, atau setelah di heuler menjadi berasnya 63 persen.

“Aspek ketersedian beras 27.377 ton. Dengan asumsi per orang dalam sehari 0,27 kilogram beras, dan jumlah penduduk Kota Banjar 202.362 jiwa. Maka Kota Banjar ini dalam setahun atau 360 hari hanya membutuhkan beras 18.547 ton. Sehingga, ketersedian beras perhitungannya surplus 8.830 ton,” terang Nanan.

Dia menjelaskan, dengan surplus 8.830 ton itu cukup untuk kebutuhan 163 hari ke depan, atau akan mencukupi konsumsi sampai masa panen tiba pada bulan Februari-Maret mendatang. Jika melihat perhitungan tersebut, sebenarnya warga atau petani Banjar mestinya tak akan kekurangan dan masih bisa menikmati stock beras dengan harga stabil.

“Tapi sekarang harganya mahal itu kan terjadi secara nasional. Artinya, warga daerah lain pun merasakan hal yang sama. Kami tak menampik adanya sejumlah petani yang menjual hasil panennya ke luar daerah,” katanya.

Upaya mengantisipasi ketersediaan beras dilakukan pihak dinasnya dengan cara terus melakukan penguatan lumbung pangan di masing-masing desa/kelurahan. Sampai saat ini jumlah lumbung pangan yang ada di Kota Banjar sebanyak 115 unit kelompok, dengan kisaran total stock gabah 356,84 ton.

Namun, menurut Nanan, dengan kondisi saat ini, jumlah stok yang tersedia sebanyak itu berkurang. Meski begitu, Kota Banjar tidak kekurangan pangan atau tidak terjadi krisis pangan, karena masih tersedia stock 20 persen dari jumlah awal di sejumlah lumbung pangan.

Pihaknya berharap, kondisi melonjaknya harga beras tidak berlanjut dan harga segera stabil. Bahkan, kini mulai berangsur turun setelah sejumlah kios beras di pasar sudah mendapat suplai kiriman dari daerah Jateng. Pemkot Banjar sendiri bersama Bulog sedang melaksanakan Operasi Pasar (OP), yang tiada lain untuk menstabilkan harga di pasaran.

“Saya tak menampik, OP yang digelar itu termasuk pada sebagian wilayah desa/kelurahan penghasil beras di Kota Banjar. Jadi pada prinsipnya, sekarang warga secara menyuluruh butuh bantuan upaya meringankan bebannya. Kita lihat warga yang beli pun kebanyakan buruh tani, bukan petani pemilik atau penggarap sawah,” kata Nanan, yang juga ikut memantau pelaksanaan OP. (Nanks/Koran HR)

KOMENTAR ANDA