Selasa, Agustus 9, 2022
BerandaBerita BanjarGP Ansor dan PMII Banjar Kecam Penganiayaan Pimpinan Ponpes Al Hidayah Cicalengka

GP Ansor dan PMII Banjar Kecam Penganiayaan Pimpinan Ponpes Al Hidayah Cicalengka

Ketua GP Ansor Kota Banjar, Supriyanto. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Gerakan Pemuda Ansor dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar sikapi kasus penganiayaan Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hidayah Cicalengka, KH Umar Basri (60), pada Sabtu (27/1/2018) pukul 05.30 WIB, di dalam Masjid Al-Hidayah Kamyang Santiong 03/03, Desa Cicalengka Kulon, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung oleh orang yang tak dikenal.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PC GP Ansor Kota Banjar, Supriyanto, menilai kasus tersebut merupakan tindakan biadab yang seharusnya tidak dilakukan terhadap tokoh ulama.

“Bagi kami, ini menunjukkan ekstrimisme dan radikalisme nyata yang ada di sekitar kita. Maka dari itu, kami harap aparat penegak hukum segera mengusut tuntas kasus ini dan pelaku dihukum seberat-beratnya,” tegas Supriyanto kepada HR Online di sela-sela kegiatan pagelaran kebudayaan IPNU-IPPNU Kota Banjar di Aula Kelurahan Mekarsari, Minggu (28/01/2018).

Untuk itu, kata Supri, ia meminta kader-kader khusus di Banjar untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi-potensi pengacau keamanan dan ketertiba masyarakat, terlebih kepada para ulama di sekitar lingkungan masing-masing.

“Khusus dalam menggunakan media sosial, terutama soal perihal kasus ini, kami meminta supaya hendak berhati-hati pula, apalagi dalam membagikan informasi pun harus jelas sumbernya dan beretika. Jangan sampai menyebarkan yang menimbulkan masyarakat resah,” kata Supri.

Hal senada juga diungkapkan Sirojul Muntaha, Ketua PMII Kota Banjar. Ia memandang, bahwa penganiayaan tersebut terhadap sosok ulama di Bandung merupakan bentuk tindakan yang sangat tidak dibenarkan, baik secara hukum maupun secara moral. Sebab, menurutnya, melukai ulama sama halnya melukai umat.

“Kita harap aparat penegak hukum harus objektif dan tuntas dalam mengusut kasus ini agar di kemudian hari tidak terjadi lagi. Kita juga tidak ingin pada momen Pilkada ini isu SARA merebak dan digoreng sedemikian rupa yang berujung perpecahan umat. Sebagaimana intruksi dari PKC PMII Jabar, kita terus berkoordinasi dengan kader-kader yang ada untuk meningkatkan kewaspadaan dari hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya. (Muhafid/R6/HR-Online)