Kendalikan Harga Beras, Bulog Gelar OP CBP di Banjar

Tumpukan karung beras medium di salah satu kios beras di Pasar Banjar, yang dijual melebih Harga Eceran Tertinggi (HET). Di toko tersebut tersedia pula beras Bulog OP CBP. Photo: Nanang Supendi/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Terkait kondisi harga beras medium yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) di tingkat konsumen, Perum Bulog Sub Divre Ciamis melakukan Operasi Pasar (OP) untuk beras kualitas medium dengan harga maksimal Rp.8.500 per kilogram.

Kepala Bulog Sub Divre Ciamis, Sulais, mengatakan, kondisi tersebut memang sudah diantisipasinya sejak satu minggu lalu atau saat menjelang Natal dan tahun baru, yaitu salah satu cara dengan melakukan OP beras kualitas medium untuk menjaga harga beras agar stabil.

“Kami upayakan antisipasi itu atas intruksi Kemenag guna membantu pemerintah daerah mengendalikan harga komoditas pokok, salah satunya beras medium. OP ini kami lakukan di beberapa titik wilayah kerja kami,” terang Sulais, saat dikonfirmasi Koran HR, Selasa (02/01/2018).

Dalam hal ini, pihaknya melakukan OP beras medium pada distributor dan mitra Bulog yang lokasinya tersebar di pasar-pasar tradisional wilayah kerja Bulog Ciamis, yaitu Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar dan Pangandaran.

Di setiap lokasi OP, pihaknya memasang spanduk, dengan menetapkan harga jual maksimal Rp.8.500 per kilogram, sesuai Permendag RI No.57 Tahun 2017 yang mengatur penetapan HET beras  medium dan premium.

Sulais memastikan kualitas beras di OP tergolong baik dan harganya lebih murah dibanding harga pasar pada umumnya. Upaya ini juga dilakukan sebagai bentuk Operasi Pasar Cadangan Beras Pemerintah (OP CBP). Tujuannya untuk menambah pasokan beras medium ke pasar sehingga stok meningkat.

“Harapannya tentu stabilitas harga terkendali, atau terjadinya lonjakan harga bisa ditekan turun kembali. OP ini digelar rencanaya sampai tanggal 31 Januari 2018 mendatang,” katanya.

Selain itu, Perum Bulog Sub Divre Ciamis juga memastikan stok beras untuk wilayah Priangan Timur terbilang cukup dan aman untuk tiga bulan ke depan, yakni sampai musim panen padi kembali. Stok yang ada kini mencapai 10.600 ton.

“Jadi jangan ada kekhawatiran masyarakat, dan kami minta warga tidak melakukan panik buying yang implikasinya bisa ikut menyebabkan inflasi,” harapnya. (Nanks/Koran HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar