(Pilkada Ciamis) Iing versus Herdiat, Pertarungan Politik Dua Babak

Dua Calon Bupati Ciamis, Iing Syam Arifin dan Herdiat. Foto: Dok

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Pilkada Ciamis tahun 2018 bisa dibilang berbeda dengan Pilkada Ciamis tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, meski tahapan pilkada belum dimulai, namun aroma pertarungan politik sudah terasa kentara dalam setahun terakhir ini. Hal itu tentunya tak lepas dari persaingan dua bakal calon bupati yang terbilang kuat, yakni sang petahana Iing Syam Arifin, dan penantangnya, Herdiat.

Akibat pertarungan politik yang digeser sebelum waktunya, membuat Pilkada Ciamis terjadi dalam dua babak. Sebut saja saat memperebutkan rekomendasi partai politik (parpol) merupakan babak pertama. Sementara pertarungan pada tahapan kampanye hingga hari pencoblosan merupakan babak kedua.

Kondisi itu bisa terjadi, karena terdapat trend baru dalam penentuan pengusungan calon kepala daerah di hampir seluruh parpol. Pertimbangan hasil survei elektabilitas menjadi syarat utama apabila bakal calon kepala daerah ingin mendapat rekomendasi parpol. Kondisi itulah yang mendorong seluruh bakal calon untuk bergerak ke masyarakat lebih awal guna meningkatkan elektabilitasnya.

Yang menarik, sang petahana Iing Syam Arifin dan penantangnya, Herdiat, mendaftar di delapan parpol yang sama dari sebeles parpol yang memiliki kursi di DPRD Ciamis. Dari delapan parpol tersebut, Iing Syam Arifin berhasil merebut empat parpol, yakni Golkar, Hanura, PKB dan PPP. Sementara Herdiat juga berhasil merebut empat parpol, yakni PKS, Partai Gerindra, Partai Demokrat dan Partai Nasdem. Hanya tiga parpol yang tidak diperebutkan, yakni PDIP, PAN dan PBB.

PDIP dan PAN tidak diperebutkan, karena ketua parpolnya menyatakan maju di Pilkada Ciamis. Kini kedua ketua parpol tersebut, yakni Oih Burhanudin (Ketua DPC PDIP Ciamis) menjadi calon wakil bupati, Iing Syam Arifin dan Yana D Putra (Ketua DPD PAN Ciamis) menjadi calon wakil bupati, Herdiat.

Apabila melihat hasil di babak pertama, pertarungan politik antara Iing Syam Arifin versus Herdiat bisa dikatakan berakhir imbang. Dari pertarungan di delapan parpol, Iing mendapat empat parpol dengan jumlah kursi 16 (Golkar 6 kursi, Hanura 2 kursi, PKB 4 kursi dan PPP 4 kursi). Sementara Herdiat pun sama mendapat empat parpol dengan jumlah kursi 16 (PKS 5 kursi, Gerindra 4 kursi, Demokrat 4 kursi dan Nasdem 3 kursi).

Namun, setelah disepakati paket pasangan Iing Syam Arifin- Oih Burhanudin, dengan menambah 12 kursi PDIP, membuat kekuatan Iing unggul pada jumlah kursi parpol apabila dibanding dengan Herdiat. Karena setelah ditambah PDIP, pasangan Iing-Oih didukung oleh koalisi gabungan parpol dengan memiliki 28 kursi di DPRD Ciamis. Sementara pasangan Herdiat-Yana didukung oleh koalisi gabungan parpol dengan memiliki 22 kursi di DPRD Ciamis. Jumlah itu setelah PAN yang memiliki 5 kursi dan PBB 1 kursi bersepakat menjalin koalisi dengan PKS, Gerindra, Demokrat dan Nasdem.

Berebut Restu ‘Beringin’

Pertarungan politik antara Iing versus Herdiat, berlangsung sengit ketika berebut rekomendasi Partai Golkar. Bahkan, pertarungan dalam perebutan restu “beringin” disebut-sebut sebagai barometer parpol lain dalam menentukan arah koalisi. Kondisi itu bukan karena Golkar memiliki kekuatan lebih dibanding parpol lain, tetapi lantaran Iing dan Herdiat sama-sama mengklaim dirinya sebagai kader Golkar.

Pertarungan berebut restu ‘beringin’ pun berlangsung alot dan memakan waktu cukup panjang. Sebelum keluar rekomendasi, DPD Partai Golkar Ciamis menggelar pleno diperluas untuk menjaring suara dari struktur partai. Dalam pleno itupun dibuat semacam voting terbuka untuk memilih Iing Syam Arifin atau Herdiat. Hasilnya, sekitar 79 persen struktur Partai Golkar memilih Herdiat dan sisanya memilih Iing.

Namun, beberapa bulan berselang, DPP Partai Golkar mengeluarkan surat penetapan pengusungan calon bupati Ciamis. Keputusan DPP Partai Golkar itu tampaknya membuat struktur Partai Golkar Ciamis, terkejut. Pasalnya, Iing Syam Arifin yang kalah saat voting dalam pleno diperluas, justru yang mendapat rekomendasi.

Riak pun muncul dari mayoritas struktur Partai Golkar Ciamis. Mayoritas Ketua PK Golkar Ciamis mengajukan protes ke DPP Partai Golkar, karena keputusan menetapkan  Iing Syam Arifin sebagai calon bupati dianggap tidak mendengar suara mayoritas struktur partai. Namun, DPP Partai Golkar tak bergeming dan teguh pada keputusannya.

Melalui surat ketetapan nomor R-540/Golkar/XI/2017 tertanggal 21 November tahun 2017 tentang pengesahan pasangan calon kepala daerah Kabupaten Ciamis, DPP Partai Golkar tampaknya menguatkan surat keputusan yang sudah dikeluarkan sebelumnya. Pada surat keputusan tersebut menegaskan bahwa Partai Golkar mengusung Iing Syam Arifin sebagai Calon Bupati Ciamis dan berpasangan dengan Oih Burhanudin sebagai calon Wakil Bupati Ciamis.

Sebelumnya melalui surat ketetapan nomor 1297/G/IX/2017 tertanggal 6 September 2017, DPP Partai Golkar pun sudah mengeluarkan keputusan yang menyatakan mengusung Iing Syam Arifin sebagai calon bupati Ciamis. Namun, pada surat tersebut tidak menyebutkan intruksi untuk didaftarkan ke KPUD dan tidak menyebutkan siapa calon wakil bupati-nya. Surat tersebut hanya memuat tiga intruksi, yakni melakukan koordinasi dengan calon bupati, membangun koalisi dan mengusulkan tiga nama kandidat calon wakil bupati.

Surat ketetapan itupun sempat menuai polemik di internal Partai Golkar Ciamis. Karena sebagian fungsionaris Partai Golkar beranggapan bahwa surat ketetapan itu belum bersifat final dan dapat berubah.

Namun, pada surat rekomendasi kali ini, terdapat dua salinan yang ditandatangani Ketua Harian DPP Partai Golkar, Nurdin Halid dan Sekjen DPP Partai Golkar, Idrus Marham, dalam menetapkan pasangan Calon Bupati-Wakil Bupati Ciamis, Iing Syam Arifin- Oih Burhanudin. Salinan pertama berisi penetapan pasangan calon yang dibubuhi tandatangan bermateri atas nama Ketua Harian DPP Partai Golkar, Nurdin Halid dan tandatangan Sekjen DPP Partai Golkar, Idrus Marham.

Sementara pada salinan kedua berisi penetapan pasangan calon dan penegasan intruksi DPP Partai Golkar kepada DPD Partai Golkar Kabupaten Ciamis. Pada surat itu tertera empat intruksi yang harus dijalankan oleh pengurus DPD Partai Golkar Kabupaten Ciamis.

Pertama, DPD Golkar Ciamis dintruksikan untuk menindaklanjuti keputusan tersebut sesuai dengan ketentuan organisasi dan peraturan perundangan yang berlaku. Kedua, mengintruksikan untuk mendaftarkan pasangan calon yang sudah ditetapkan ke KPUD sesuai jadwal yang ditetapkan. Ketiga, menegaskan bahwa keputusan tersebut bersifat final dan mengikat bagi seluruh jajaran pengurus/fungsionaris/kader dan anggota Partai Golkar. Dan terakhir menegaskan bahwa segala tindakan yang bertentangan dengan hasil keputusan ini akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan organisasi yang berlaku.

“Hari ini kami sudah menerima surat keputusan dari DPP Partai Golkar tentang pengusungan pasangan Calon Bupati-Wakil Ciamis yang diberikan kepada pasangan Iing Syam Arifin-Oih Burhanudin,” kata Sekertaris DPD Partai Golkar Ciamis Baim Setiawan, saat menggelar konferensi pers, di kantor DPD Partai Golkar Ciamis, Selasa (26/12/2017).

Dengan turunnya surat rekomendasi tersebut, lanjut Baim, maka proses penjaringan calon kepala daerah di internal Partai Golkar Kabupaten Ciamis, sudah selesai. “Ada dua bakal calon bupati Ciamis yang mendaftar ke Golkar, yakni Pak Iing Syam Arifin dan Pak Herdiat. Setelah turun rekomendasi dari DPP Partai Golkar yang menyatakan mengusung Pak Iing Syam Arifin berpasangan dengan Pak Oih Burhanudin, maka selesailah sudah tahap penjaringan calon di internal Golkar,” ujarnya.

Baim menegaskan, sebagaimana yang tercantum dalam surat ketetapan tersebut bahwa keputusan mengusung Iing Syam Arifin-Oih Burhanudin bersifat final dan mengikat untuk seluruh fungsionaris dan kader Golkar.  “Dalam surat ketetapan itupun ditegaskan bahwa segala tindakan yang bertentangan dengan hasil keputusan itu akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan organisasi yang berlaku. Artinya, kami minta kepada seluruh fungsionaris dan kader Golkar Ciamis agar patuh dan taat pada keputusan partai,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Ciamis, Ganjar M Yusuf, mengaku khawatir terhadap soliditas kader Golkar pasca turunnya surat rekomendasi dari DPP Partai Golkar. Menurutnya, tak bisa dipungkiri bahwa di tubuh Partai Golkar Ciamis sudah terbelah menjadi dua kubu setelah Iing Syam Arifin dengan Herdiat berebut surat rekomendasi DPP.

“Maka perlu ada konsolidasi di internal Golkar untuk bersama-sama sepakat mengamankan intruksi partai. Karena apabila pengurus DPD Golkar Ciamis dan pengurus PK Golkar Ciamis belum bersatu, mau seperti apa nantinya. Sebelum kita mengajak ke partai lain, ya di dalam dulu harus dikonsolidasikan,” katanya, saat memberikan pernyataan, saat menggelar konferensi pers, di kantor DPD Partai Golkar Ciamis, Selasa (26/12/2017).

Ganjar pun mengajak kepada seluruh pengurus DPD Golkar Ciamis, PK dan kader serta simpatisan Partai Golkar untuk bersama-sama dan bersatu untuk memenangkan Iing-Oih di Pilkada Ciamis. “Keputusan mengusung Iing-Oih sudah tidak bisa diganggu gugat, karena sudah final. Tapi, kalau ada yang menggugat sah-sah saja. Silahkan kalau bisa. Tapi catat pengurus Golkar yang tidak taat kepada surat keputusan partai, maka sudah masuk pembangkangan dan melanggar aturan partai,” tegasnya.

Selain di internal Golkar, lanjut Ganjar, konsolidasi dengan parpol pengusung yakni PDIP, Hanura, PKB dan PPP pun harus segera dilakukan dengan membangun komitmen dalam strategi pemenangan. “Harus ada komitmen dalam strategi pemenangan. Hal itu agar seluruh kader dari 5 parpol pengusung ini bekerja semua dan tidak ada saling dorong. Jadi diperjelas masing-masing tugasnya. Hal itu agar tercipta koordinasi yang baik untuk memenangkan pasangan Iing-Oih,” ungkapnya.

Namun, pasca jajaran pengurus DPD Partai Golkar Kabupaten Ciamis mengumumkan surat rekomendasi DPP Partai Golkar nomor R-540/Golkar/XI/2017 tertanggal 21 November tahun 2017 tentang pengesahan pasangan calon kepala daerah Kabupaten Ciamis, tampaknya muncul pernyataan mengejutkan dari Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Ciamis, Slamet Triana. Surat rekomendasi tersebut ternyata masih polemik.

Melalui keterangan pers yang dikirim secara tertulis ke redaksi HR Online, Jum’at (29/12/2017) pagi, Trian–sapaan akrab Slamet Triana–, menganggap bahwa surat rekomendasi DPP Partai Golkar nomor R-540/Golkar/XI/2017 tertanggal 21 November tahun 2017 tentang pengesahan pasangan calon kepala daerah Kabupaten Ciamis, yang mengusung pasangan Iing Syam Arifin-Oih Burhanudin, sudah tidak berlaku. Pasalnya, lanjut dia, surat rekomendasi yang ditandatangani oleh Ketua Harian DPP Partai Golkar, Nurdin Halid dan Sekjen DPP Partai Golkar, Idrus Marham itu dikeluarkan pada masa kepengurusan Ketua Umum Setya Novanto.

“Jadi, berdasarkan arahan dari DPP Partai Golkar dan DPD Partai Golkar Jabar bahwa surat rekomendasi pengusungan kepala daerah yang didaftarkan ke KPUD harus yang ditandatangani oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar (baru), Airlangga Hartarto. Dan surat rekomendasi tersebut hingga saat ini belum kami terima,” katanya.

Dengan begitu, lanjut Trian, proses penjaringan calon bupati Ciamis di internal Partai Golkar belum berakhir. Dan dua orang pendaftar, yakni Iing Syam Arifin dan Herdiat, statusnya masih sama sebagai bakal calon bupati Partai Golkar. “Makanya, selama surat rekomendasi DPP Partai Golkar yang ditandatangani Ketua Umum Airlangga Hartarto, belum saya terima selaku Ketua DPD Partai Golkar Ciamis, maka belum bisa membicarakan koalisi dengan parpol lain. Apalagi melakukan deklarasi dukungan kepada salah satu pasangan calon,” ujarnya.

Trian mengaku di internal Partai Golkar Kabupaten Ciamis pun secara resmi belum membahas mengenai keputusan akhir Pilkada. “Jangankan ikut deklarasi, rapat di intenal Golkar Ciamis saja belum kami lakukan,” ujarnya.

Mengenai arah koalisi di Pilkada Ciamis, kata Trian, Golkar kini dihadapkan pada dua pilihan, apakah bergabung dengan pasangan Iing Syam Arifin-Oih Burhanudin atau pasangan Herdiat-Yana D Putra. “Sementara surat rekomendasi DPP Partai Golkar yang ditandatangani Ketua Umum Airlangga Hartarto, rencananya akan terbit maksimal pada tanggal 2 Januari 2018,” pungkasnya. (Koran-HR)

KOMENTAR ANDA