Rabu, Agustus 17, 2022
BerandaBerita CiamisSerangan Babi Hutan Semakin Merajalela, Petani Desa Mekarbuana Ciamis Kerepotan

Serangan Babi Hutan Semakin Merajalela, Petani Desa Mekarbuana Ciamis Kerepotan

Seekor babi hutan yang menggasak tanaman palawija dan tanaman padi berhasil ditangkap warga. Foto : Eji Darsono/ HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Hama babi semakin merajalela menggasak area tanaman palawija milik petani di Desa Mekarbuana, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis. Akibatnya, petani mengalami gagal panen lantaran tanaman mereka rusak diserangan hama babi.

Maman, petani Desa Mekarbuana, ketika ditemui Koran HR, Minggu (07/01/2018) lalu, mengungkapkan, saat ini hama babi hutan sangat merepotkan para petani. Alasannya karena hewan yang hidup di semak itu seringkali menyerang ladang atau sawah ketika malam hari. 

“Tanaman umbi-umbian dan berbagai tanaman palawija maupun padi seringkali menjadi sasaran serangan babi hutan. Akibatnya, para petani sering mengalami gagal panen,” katanya.

Petani lainnya, Sutiana, mengungkapkan, petani sudah berupaya membur dan memasang jerat untuk menangkap babi. Tapi babi hutan tersebut seolah sudah mengetahui adanya jerat yang dipasang petani.

“Hama yang sering bergerombol itupun sering luput dari jeratan, sehingga tanaman padi maupun tanaman palawija tetap hancur diobrak-abrik babi hutan,” katanya.

Di tempat terpisah, Iing, petani lainnya, memberikan trik mengatasi serangan babi hutan. Salah satunya dengan cara menggunakan terasi yang dicampur dengan kapur barus.

“Caranya, terasi dicampur dengan kapur barus, kemudian bulatkan sebesar bola pingpong. Setelah itu bungkus dengan kain hitam. Gantungkan dengan ketinggian 30 centimeter, di sekitar ladang maupun sawah. Bau yang menyengat akan mengurangi niat babi hutan masuk ke ladang maupun sawah,” katanya.

Iing menjelaskan, campuran terasi dan kapur barus tersebut mengeluarkan bau mirip aroma harimau. Menurut dia, metode itu berhasil digunakan petani di Bengkulu untuk mengusir hama babi hutan.

Kasi Kesejahteraan Desa Mekarbuana, Anda Lesmana, mengungkapkan, sudah berbagai upaya dilakukan untuk mengusir hama babi tersebut, baik dengan cara diburu (ditembak) maupun menggunakan jerat.

“Namun, babi yang dapat dilumpuhkan hanya satu dua ekor saja,” katanya.

Anda menjelaskan, meski lahan pertanian di jaga, kawanan babi terus menggasak memasuki lahan pertanian, sehingga petani cenderung memilih tanaman ladangnya ditanami tanaman keras.

“Padahal, tanaman palawija merupakan sumber penghasilan penting yang dapat diandalkan untuk menyokong ekonomi,” katanya. (Dji/Koran HR)