Selasa, Agustus 16, 2022
BerandaBerita TerbaruSMSI dan Menkominfo Bahas Mitigasi Hoax Pilkada 2018

SMSI dan Menkominfo Bahas Mitigasi Hoax Pilkada 2018

Ilustrasi Hoax. Foto: Ist/Net

Berita Nasional, (harapanrakyat.com),-

Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Teguh Santosa, menegaskan, pengelola media massa berbasis internet atau media siber berkewajiban menjaga ruang redaksi agar terbebas dari hoax atau kabar bohong, fitnah dan ujaran kebencian, khususnya dalam penyelenggaraan Pilkada serentak tahun ini serta Pemilu dan Pilpres di tahun yang akan datang.

“Kami sudah berkomunikasi dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara tentang penyelenggaraan pilkada dan pemilu yang bebas dari kabar bohong dan ujaran kebencian,” katanya, dalam rilisnya, yang dikirim ke redaksi HR Online, Selasa (09/01/2018).

Teguh menambahkan, Menkominfo pada malam ini (Selasa, 9/01/2018) akan menggelar rapat bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk memitigasi dan mengantisipasi hal-hal negatif dari media massa dalam proses pilkada.

“Saat bertemu dengan Menkominfo, Saya sampaikan bahwa SMSI telah menyerukan kepada seluruh anggota untuk meningkatkan kewaspadaan agar tidak terjebak dalam pusaran hoax dan ujaran kebencian,” ujarnya.

Teguh menegaskan pengaruh media sosial di tengah kehidupan masyarakat Indonesia tidak dapat dibantah semakin besar. Namun, menurutnya, harus dipahami bahwa tidak semua informasi yang beredar di media sosial faktual.

“Bahkan, tidak sedikit informasi yang disebar melalui media sosial sengaja diproduksi pihak tertentu untuk sekadar menghancurkan kredibilitas pihak lain, termasuk di dalamnya menggunakan akun anonim yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Teguh mengatakan ruang redaksi media siber yang menghormati kode etik jurnalistik berperan sebagai clearing house yang membantu masyarakat untuk mengetahui mana informasi atau kabar bohong dan mana yang faktual. “Media siber dalam hal ini bisa berperan untuk mengeliminir ujaran kebencian yang bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa,”katanya. (R2/HR-Online)