Pergerakan Tanah Hantui Warga Cibenda Ciamis

Kondisi tanah di Dusun Cibenda, Desa Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Foto: Suherman/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Pergerakan tanah tebing terus terjadi dan melanda wilayah Dusun Cibenda, Desa Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Pergerakan tanah tebing itu terjadi ditengarai akibat tingginya intensitas hujan di wilayah tersebut.

Menurut keterangan warga, pergerakan tanah di wilayah itu sebenarnya sudah sejak lama terjadi. Namun seiring waktu, pergerakan tanah tersebut makin kuat hingga mengakibatkan tanah amblas serta mengalami retakan yang sangat besar dan dalam.

Aktifitas pergerakan tanah itupun menghantui 43 kepala keluarga (KK) yang tinggal di wilayah tersebut. Warga merasa khawatir pergerakan tanah akan membawa dampak buruk bagi tempat tinggal mereka. Untuk itu, sebagian warga terpaksa harus mengungsi dan tinggal di rumah kerabat.  

Rohmanah, warga Dusun Cibenda RT 01 RW 01, ketika ditemui Koran HR, Senin (12/02/2018), membenarkan, dirinya merasa khawatir dengan pergerakan tanah yang melanda wilayah tempat tinggalnya.

“Sejak adanya pergerakan tanah di wilayah ini, saya selalu merasa was-was dan takut terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Apalagi ketika hujan turun, saya jadi sangat khawatir, bahkan jika hujan turunnya malam hari, saya suka tidak bisa tidur,” katanya.

Kepada Koran HR, Rohaman menuturkan, rumah miliknya mengalami kerusakan pasca terjadi pergerakan tanah. Kerusakan terjadi pada bagian dinding rumah. Dia berharap pemerintah daerah mengantisipasi dan mencarikan jalan keluar untuk menindaklanjuti musibah yang dia alami.

Kepala Dusun Cibenda, Haerika, ketika ditemui Koran HR, Senin (12/02/2018), menuturkan, sebanyak 43 KK terancam keselamatannya akibat terjadinya pergerakan tanah yang  disertai retakan hebat.

“Warga merasa terancam keselamatannya lantaran pergerakan tanah terus terjadi. Bahkan saat ini pergerakan tanah terus mengalami peningkatan. Tanah yang amblas saat ini sudah mencapai kedalaman tiga meter lebih dengan panjang sekitar lima ratus meter,” katanya.

Menurut Haerika, pergerakan tanah yang terjadi saat ini bukan hanya mengancam 43 KK yang berada di bawah bukit, tapi juga dikhawatirkan akan berdampak lebih parah bagi warga lain jika terjadi longsor.

“Dan saat ini sudah beberapa rumah mengalami kerusakan. Bahkan rumah milik Ade Sodikin sudah dikosongkan karena kerusakannya cukup parah sekali. Selain merusak bangunan rumah, pergerakan tanah yang terjadi kali ini juga membuat beberapa kuburan di pemakaman mengalami amblas serta retakan besar,” terangnya.

Kepala Desa Neglasari, Deni Nono Sunaryo, menyatakan hal serupa. Menurut dia, pergerakan tanah yang terjadi di Dusun Cibenda sudah lama ia laporkan ke pihak BPBD. Namun sampai pergerakannya kian menjadi belum ada tanggapan serius dari pihak BPBD.

“Sejak awal terjadinya pergerakan tanah, kami telah melaporkannya ke Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui BPBD. Bahkan kami tidak hanya sekali melaporkannya, namun belum ada upaya apapun dari pemerintah,” katanya.

Pergerakan tanah di Dusun Cibenda ini, kata Deni, sudah terjadi sejak tiga tahun silam. Namun seiringnya waktu, pergerakan tanaha terus terjadi hingga saat ini. Bahkan akibat tanah sudah di wilayah itu amblas hingga kedalaman 3 meter. Selain itu banyak muncul retakan besar dengan diameter kedalaman yang cukup dalam.

“Kami selaku pemerintah desa sangat berharap adanya upaya penanggulangan kasus ini demi tercipta keamanan serta kenyamanan bagi warga. Karena jika hal ini tetap dibiarkan, kami khawatir tiba-tiba pergerakan tanah ini menjadi longsoran besar yang dapat mengancam ratusan jiwa warga kami,” ungkapnya. (Suherman/Koran HR)

KOMENTAR ANDA