Atasi Masalah Limbah, DPRKPLH Ciamis Gencar Sosialisasikan Budidaya “Maggot”

Pemerintah Kabupaten Ciamis saat ini sedang berupaya menyosialisasikan program budidaya telur lalat hitam atau maggot kepada masyarakat. Foto : Deni Supendi/ HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Pemerintah Kabupaten Ciamis saat ini sedang berupaya menyosialisasikan program budidaya telur lalat hitam atau maggot kepada masyarakat. Langkah itu kabarnya merupakan salah satu solusi menangani masalah limbah yang selama ini terjadi di Kabupaten Ciamis.

Kepala Bidang Kebersihan Persampahan dan Pertamanan, Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Ciamis, Bayu Rahmana, saat ditemui Koran HR di lokasi Budidaya Maggot, di Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, beberapa waktu lalu, membenarkan hal itu.

Bayu menjelaskan, maggot mempunyai kandungan protein yang sangat tinggi, sehingga sangat cocok untuk pakan ternak ikan ataupun unggas. Menurut dia, ikan ataupun unggas yang mengonsusmi maggot tidak akan mudah diserang penyakit.

“Kami menyosialisasikan (budidaya magot) ini kepada masyarakat. Dan sekarang sudah berjalan,” katanya.

Lebih jauh, Bayu menandaskan, budidaya maggot tersebut ditujukan untuk menyelesaikan persoalan limbah yang selama ini terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis. Diantaranya seperti masalah limbah tahu, limbah peternakan, limbah tepung aren dan limbah rumah tangga.

Dari hasil studi ke ITB, Bayu mengungkapkan, budidaya maggot menjadi salah satu solusi pilihan untuk menangani masalah sampah atau limbah di Kabupaten Ciamis. Alasannya, menurut dia, karena maggot akan menjadikan sampah dan limbah organik sebagai makanan.

Bayu bersyukur, saat ini sejumlah petani ternak ikan dan unggas di wilayah Kabupaten Ciamis sudah mulai menjalankan program budidaya maggot. Misalnya seperti di Pawindan, Panumbangan dan Banjaranyar.

Terkait mekanisme budidaya maggot, Bayu menegaskan bahwa hal itu cukup mudah. Simpan bibit atau telur maggot di kolam-kolam kecil berisi sampah organik yang busuk. Kemudian didiamkan sampai 18 hari. Maggot pun siap dipanen. Sedangkan jika ingin dikembangbiakkan, biarkan maggot menjadi kepompong dan berubah menjadi lalat dewasa.

“Selain dapat diberikan secara langsung menjadi pakan ternak, maggot juga dapat diolah menjadi pelet ataupun tepung maggot. Di Jawa Barat, budidaya maggot sudah dilakukan di Sukabumi, Cianjur dan Depok,” katanya. (deni/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA