Bersafari Politik di Ciamis, Cak Imin: Sudah Saatnya Santri Memimpin Indonesia

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar (Cak Imin), saat menggelar kegiatan safari politik di Pondok Pesantren Al Ma’arif Bangunsirna, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (19/03/2018) malam. Foto: Eli Suherli/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-         

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menegaskan, dirinya berniat maju di perhelatan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019 setelah mendapat dorangan dari sejumlah ulama, kyai dan pondok pesantren. Menurutnya, sudah saatnya kalangan santri memimpin Indonesia. Karena dalam sejarah berdirinya republik Indonesia tak lepas dari peranan santri dan ulama yang berjuang bertaruh nyawa untuk merebut kemerdakaan dari tangan penjajah.

“Saya tidak ambisus, tetapi saya berambisi untuk memperbaiki bangsa ini. Saya tidak ambisius, tetapi saya berambisi memakmurkan rakyat Indonesia, khususnya para guru ngaji, ulama dan imam tajuk yang sudah berjuang untuk bangsa ini agar mendapat perhatian dari pemerintah. Saya tidak ambisius, tetapi saya ingin membuktikan bahwa santri bisa memperbaiki dan memajukan bangsa Indonesia,” tegasnya, saat memberikan sambuatan dalam acara safari politiknya, di Pondok Pesantren Al Ma’arif Bangunsirna, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (19/03/2018) malam.

Cak Imin pun dalam kesempatan itu menceritakan awal mulai dirinya mendapat gelar sebagai panglima santri. Menurutnya, hal itu berawal dari perjuangannya bersama PKB pada tahun 2014 yang mengawal agar pemerintah memberikan penghormatan kepada ulama, kyai, santri serta pondok pesantren yang dari sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan dan hingga saat ini tulus dan ikhlas berjuang untuk bangsa Indonesia.

“Waktu Pilpres tahun 2014, saya melakukan pertemuan dengan Pak Jokowi. Saya bilang, Pak Jokowi mau gak didukung sama PKB. Kalau mau didukung PKB, syaratnya beberapa hal. Dan salah satu syarat yang paling penting adalah Pak Jokowi harus memberikan penghormatan serta penghargaan terhadap perjuangan ulama, kyai dan kaum santri yang sudah mengabdikan diri dari saat sebelum kemerdekaan, saat merebut kemerdekaan dan saat mengisi kemerdekaan Indonesia,” terangnya.

Setelah Jokowi terpilih sebagai Presiden, lanjut Cak Imin, akhirnya pemerintah mengakui dengan cara mengesahkan Hari Santri Nasional yang merupakan kebanggaan, khususnya bagi kaum santri dan umumnya bagi umat Islam di Indonesia. “Tetapi, penghormatan dan penghargaan kepada kaum santri tak cukup dengan serimonial saja, tetapi juga pemerintah harus memberikan perhatian melalui politik anggaran dan kebijakan keberpihakan. Termasuk RUU yang tengah kami perjuangkan untuk segera disyahkan di DPR RI, yakni undang-undang tentang Perlindungan dan Pengembangan Pendidikan Madrasah, Pesantren dan Diniyah,” katanya.

Menurut Cak Imin, pemerintah sempat membuat kebijakan ful day school yang mengancam eksistensi pesantren dan diniyah. Namun, kata dia, setelah seluruh ulama, kyai dan santri serta warga nahdiyin melakukan penolakan, akhirnya pemerintah mencabut aturan tersebut. “Makanya kami saat ini tengah memperjuangkan disyahkannya undang-undang yang melindungi eksistensi pesantren, madrasah dan diniyah. Hal itu agar tidak ada lagi yang mengganggu serta mengusik eksistensi pendidikan agama islam di Indonesia,” tegasnya. (Bgj/R2/HR-Online)

KOMENTAR ANDA