Ritual di Leuweung Gede, Tim Sepakbola Kampung Kuta Ciamis Sulit Dikalahkan

1. Leuweung (Hutan) Gede yang berada di kawasan adat Kampung Kuta atau tepatnya di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dikeramatkan oleh warga setempat. Foto: Subagja Hamara/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Leuweung (Hutan) Gede yang berada di kawasan adat Kampung Kuta atau tepatnya di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tak hanya menyimpan mitos keangkerannya, tetapi juga hutan ini dipercaya sebagai tempat suci untuk berdoa bagi orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup. Meski begitu, tempat ini pantang dijadikan tempat pesugihan atau meminta sesuatu yang menunjukkan ketamakan seperti kekayaan.

Ketika Koran HR mengunjungi Leuweung Gede, beberapa waktu lalu, bertemu dengan seorang warga setempat bernama Rasman. Pria paruh baya itu banyak bercerita tentang sisi lain dari hutan yang dikeramatkan tersebut. Menurutnya, warga adat Kampung Kuta dan warga sekitar di luar kawasan adat, masih mempercayai bahwa memanjatkan doa untuk keselamatan di Leuweung Gede selalu dikabulkan.

Rasman mengenang ketika dia masih muda atau sekitar pertengahan tahun 80-an. Menurutnya, waktu itu pemuda desa setempat mengikuti turnament sepakbola antar kampung se- Kecamatan Rancah (waktu itu belum dimekarkan menjadi Kecamatan Tambaksari). Sebelum berlaga di turnamen, seluruh pemain diantaranya Rasman, menggelar ritual di kawasan Leuweung Gede untuk meminta keselamatan dan tentunya agar tim sepakbola Desa Karangpaningal meraih gelar juara.

“Kalau menurut warga di sini menyebutnya Nyekar. Sehari sebelum pertandingan, kami yang diantar oleh sesepuh Kampung Kuta melakukan Nyekar ke Leuweung Gede. Dalam ritualnya, sepatu dan koas tim sepakbola yang akan kami pakai diletakkan di tanah sembari kami yang dibimbing sesepuh memanjatkan doa,” ujarnya.

Rasman

Benar saja, kata Rasman, esoknya saat turun pada pertandingan, seluruh pemain termasuk dirinya seperti memiliki semangat dan kekuatan ganda. Terlebih, kata dia, badan terasa ringan dan bola seperti terus menempel di kaki. Sementara tim lawan, seringkali membuat kesalahan saat mengusai bola.

“Tim sepakbola desa kami tidak pernah kalah dan selalu menang pada setiap pertandingan. Padahal, para pemain tim lawan banyak yang memiliki skil di atas rata-rata. Sementara pemain kami skilnya biasa-biasa saja, karena memang jarang latihan,” katanya.

Menurut Rasman, ketangguhan tim sepakbola Desa Karangpaningal masih terkenal hingga sekarang. Bahkan, pada setiap event tournament sepakbola antar kampung, baik saat bergabung dengan Kecamatan Rancah dan kini sudah dimekarkan menjadi Kecamatan Tambaksari, pasti selalu menjadi juara. “Tetapi, kalau mau Nyekar ke Leuweung Gede, dilarang melakukan pesugihan atau meminta untuk kekayaan. Itu pantrangan,” tegasnya mengingatkan.

Sementara itu, Tokoh Masyarakat Kecamatan Tambaksari, Angga Nugraha, membenarkan bahwa tim sepakbola Desa Karangpaningal dikenal tangguh dan sulit dikalahkan oleh tim dari kampung lain di Kecamatan Tambaksari maupun Kecamatan Rancah.

“Bahkan, piala bergilir tournament sepabola antar kampung selalu direbut oleh tim sepakbola Desa Karangpaningal. Karena setiap digelar tournament, pasti jadi juara,” kata Anggota DPRD Ciamis ini, saat berbincang dengan Koran HR, beberapa waktu lalu.

Angga juga mengaku heran apabila menonton tim sepakbola Desa Karangpaningal saat berlaga. Pasalnya, kata dia, dilihat dari materi pemainnya, kebanyakan bukan pemain sepakbola yang sering berlatih atau serius menggeluti olahraga sepakbola. “Dalam kesehariannya pun para pemainnya tidak terlihat sering berlatih. Mereka malah kebanyakan yang sudah bekerja dan setiap hari konsentrasi mencari nafkah dalam pekerjaannya,” ujarnya.

Sementara para pemain dari tim lawan, kata Angga, rata-rata pemuda yang sering berlatih dan serius menggeluti olahraga sepakbola. “Tapi saat tim sepakbola Desa Karangpaningal bertanding, pasti sulit dikalahkan. Meski tim lawan bermaterikan pemain bagus, tetap saja kalah. Dan ini fakta. Orang-orang di Kecamatan Tambaksari dan Kecamatan Rancah sudah tahu soal ini,” katanya meyakinkan.

Angga mengatakan, dari informasi yang diperoleh dari tokoh Desa Karangpaninggal, memang benar sebelum tim sepakbola Desa Karangpaningal akan bertanding, pasti ada ritual Nyekar ke Leuweung Gede.

“Saya tidak tahu apakah karena Nyekar mereka menjadi hebat atau karena faktor lain. Hanya saja menurut sesepuh setempat katanya sudah menjadi kebiasaan setiap warganya memiliki keinginan, termasuk para pemain sepakbola, pasti melakukan Nyekar di Leuweung Gede. Dan itu katanya kunci sukses tim sepakbola Desa Karangpaningal selalu menjadi juara,” ujarnya.

Sementara itu, Leuweung Gede atau yang sering disebut Hutan Larangan merupakan tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat adat Kampung Kuta. Warga adat setempat benar-benar menjaga kawasan hutan itu agar tidak dirusak oleh manusia.

Bahkan, untuk memasuki ke wilayah hutan keramat, diberlakukan sejumlah larangan. Diantaranya, tidak boleh menebang pohon dan merusak sumber daya hutan lainnya, memakai baju dinas, memakai perhiasan emas, memakai baju hitam-hitam, membawa tas, memakai alas kaki, meludah dan berisik ketika berada berada di kawasan hutan keramat tersebut. Apabila melanggar larangan-larangan itu, konon akan terjadi malapetaka kepada orang yang melanggarnya.

Semua larangan-larangan itu bertujuan agar kawasan hutan tidak tercemar dan tetap terjaga ekosistemnya. Maka jangan heran apabila masuk ke kawasan Leuweung Gede masih terlihat pohon-pohon besar yang usianya sudah puluhan tahun. Makanya, sumber air di kawasan Kampung Kuta masih terjaga dengan baik.

Di beberapa sudut hutan banyak terdapat mata air yang bersih. Maka jangan aneh kalau berkunjung ke rumah penduduk di kawasan Kampung Kuta tidak akan menemukan sumur, karena sumber air dari beberapa mata air sangat melimpah. Selain itu, juga ada larangan menggali sumur di kawasan Kampung Kuta. Mungkin karena kontur tanahnya labil, sehingga berbahaya apabila banyak galian sumur.

Di kawasan penduduk Kampung Kuta pun terdapat banyak larangan. Diantaranya seperti dilarang membangun rumah dengan atap genting, mengubur jenazah, memamerkan harta dan kekayaan serta mementaskan kesenian yang menampilkan lakon cerita, semisal wayang. Sejumlah larangan itu apabila dilanggar, diyakini oleh masyarakat setempat akan mengundang malapetaka. Dan hal itu konon sudah pernah terbukti. (Bgj/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA