Angka Kasus HIV/AIDS & Perwal Jadi Pokok Bahasan Rakor KPA Banjar

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar, bekerjasama dengan Bagian Kesejahteraan Sosial (Kesos) Setda Kota Banjar, dan Yayasan Mata Hati, saat menggelar rapat koordinasi yang diikuti seluruh anggota KPA Kota Banjar, dari mulai lingkup SKPD, TNI, Polri dan unsur media, bertempat di Ruang Rapat 2 Setda Kota Banjar, Selasa (17/04/2018). Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Mendesaknya penanganan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kota Banjar, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar, bekerjasama dengan Bagian Kesejahteraan Sosial (Kesos) Setda Kota Banjar, dan Yayasan Mata Hati, menggelar rapat koordinasi yang diikuti seluruh anggota KPA Kota Banjar, dari mulai lingkup SKPD, TNI, Polri dan unsur media, bertempat di Ruang Rapat 2 Setda Kota Banjar, Selasa (17/04/2018).

Dalam rapat tersebut, selain membahas soal meningkatnya jumlah kasus, juga membahas tentang pentingnya Perwal Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS. Karena, sampai saat ini Kota Banjar belum memiliki payung hukum yang lebih spesifik untuk penanganan kasus tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun Koran HR dari KPA Kota Banjar, jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 tercatat sebanyak 98 kasus, tahun 2016 sebanyak 198 kasus, 2017 sebanyak 240 kasus, dan di tahun 2018 mengalami peningkatan hingga mencapai angka 287 kasus. Sementara itu, sejak tahun 2004 hingga tahun 2018 tercatat 15 ODHA yang meninggal dunia.

Pengelola Program KPA Kota Banjar, Boni Mastriolani, mengatakan, peningkatan jumlah ODHA tersebut menjadi tugas bersama dalam pencegahan serta penanggulangannya. Terlebih, masyarakat maupun stakeholder juga memiliki peran yang sama untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanggulangannya.

“Peningkatan dari tahun ke tahun tentunya harus disikapi bersama. Kami melihat, dengan kondisi ini justru kepeduliannya kurang menggigit, terutama OPD. Maka dari itu kami mengajak mereka untuk bersama-sama melakukan langkah-langkah yang tepat untuk persoalan ini,” kata Boni, kepada Koran HR.

Dia menyebutkan, jumlah ODHA yang saat ini mencapai 287 itu didominasi oleh usia produktif, yakni remaja. Sementara itu, dari sisi kelompok resiko didominasi oleh LSL sekitar 100 orang.

Melihat kenyataan itu, pihaknya menegaskan kembali bahwa, pencegahan dan penanggulangan masalah HIV/AIDS di Kota Banjar bukan hanya tugas KPA ataupun aktivis HIV/AIDS saja, namun OPD dan media yang juga sebagai anggota KPA, serta masyarakat umum, termasuk tokoh agama.

“Kita juga memerlukan bantuan untuk mengubah stigma ODHA di tengah-tengah masyarakat. Kami juga menghimbau kepada semua pihak untuk tidak melakukan kegiatan yang beresiko menularnya HIV/AIDS, seperti halnya seks bebas,” ujarnya.

Adapun kaitannya dengan Perwal tentang Penanggulangan dan Pencegahan HIV/AIDS, Boni menyampaikan sampai saat ini masih berada di Dinas Kesehatan, selanjutnya diserahkan kepada Bagian Hukum Setda Banjar, untuk diusulkan kepada walikota.

“Semua sudah direvisi, dan tinggal ditandatangani oleh Kepala Dinas Kesehatan, yang selanjutnya diusulkan ke Plt Walikota Banjar,” pungkas Boni. (Muhafid/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar