Jika Kereta Api Banjar-Pangandaran Diaktifasi, Harus Buat Jalur Rel Baru

Jembatan Cikacepit yang berada di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, ini menjadi saksi kejayaan Kereta Api Banjar-Pangandaran yang berhenti beroperasi pada akhir tahun 80-an. Foto: Istimewa

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Jalur Kereta Api dari Kota Banjar menuju Pangandaran sudah lama tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Kondisi itu tentunya membuat sebagian warga prihatin. Pasalnya, jalur transportasi bekas buatan Belanda itu hanya tinggal kenangan.

Kusmana, salah satu warga Kalipucang, mengaku, dirinya masih ingat betul saat masih kecil diceritakan oleh orang tuanya tentang kereta yang melaju dari Banjar ke Pangandaran. Kereta yang melintasi hutan serta terowongan yang menembus pegunungan itu menurutnya sangat menarik, namun sayangnya itu hanyalah dongeng dari orang tua dulu.

“Apalagi dalam pembuatan jalur kereta ini pasti memakan banyak korban. Jadi sangat sayang sekali kalau tidak diaktifkan lagi. Selain memiliki banyak sejarah, dengan adanya reaktifasi jalur kereta Banjar-Pangandaran saya yakin dapat mendongkrak wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran,” katanya.

Sementara itu, Sekda Pangandaran, Mahmud, mengatakan, pihaknya juga berharap yang sama untuk reaktifasi jalur kereta Banjar-Pangandaran kepada pemerintah pusat.

Menurutnya, kereta jalur Banjar-Pangandaran yang terakhir beroperasi tahun 1986 itu sebenarnya bisa menjadi daya tarik tersendiri ketika diaktifkan lagi. Sebab, akan menjadi transportasi alternatif wisatawan dan masyarakat yang akan ke Pangandaran maupun sebaliknya.

“Jika nantinya jalur kereta aktif, maka jalur menuju Pangandaran semakin lengkap, yakni jalur kereta, roda empat maupun roda dua, jalur udara maupun jalur laut. Sementara itu, kita terus melakukan pembenahan di berbagai bidang, termasuk penataan kawasan wisata,” jelasnya.

Mahmud menambahkan, terkait rekatifasi jalur kereta Banjar-Pangandaran, sebagaimana ia kutip dari pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setiawarno, bahwa jika rekatifasi tersebut benar-benar dilaksanakan, maka kurang memungkinkan bila jalur lama digunakan kembali menggunakan kereta modern, terlebih spesifikasi jembatan dan terowongan yang ada saat ini tidak cocok dengan kereta modern.

“Tentunya ini akan memakan anggaran yang besar dan perlu perhitungan yang matang, apalagi jalur kereta yang ada saat ini sudah banyak yang berubah jadi rumah dan lahannya dimanfaatkan oleh masyarakat,” pungkasnya. (Ntang/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar