Kasus HIV/AIDS di Ciamis Terus Meningkat, LSM WISMA: Kami Tak Kaget

Ilustrasi. Foto: Ist/Net

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Ketua LSM Wisma (Penanggulangan HIV/AIDS) Kabupaten Ciamis, Deni Wahyu, mengatakan, dengan ditemukannya 16 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dalam rentang waktu tiga bulan di awal tahun, menunjukan bahwa sudah ada potensi terjadi peningkatan penderita pada tahun 2018.

“Tahun 2017 kemarin ditemukan 37 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis. Sementara tahun ini, baru tiga bulan di awal tahun saja, sudah ditemukan kembali 16 kasus. Artinya, ada potensi peningkatan kasus pada tahun 2018 ini,” katanya, kepada Koran HR, Selasa (10/04/2018).

Deni mengaku tidak kaget apabila kasus HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal itu, kata dia, lantaran tidak ada penanganan serius yang dilakukan berbagai pihak.

“Kami hanya melihat Dinas Kesehatan saja lembaga yang sudah bergerak dalam penanggulangan HIV/AIDS. Tetapi, kalau hanya Dinas Kesehatan saja yang bergerak, ya cuma pada ranah medisnya saja atau melakukan tindakan terhadap orang yang terkena HIV/AIDS. Sementara dalam hal pencegahan yang dilakukan melalui sosialisasi ke masyarakat Ciamis, dirasakan masih sangat kurang. Makanya, kami tidak kaget apabila penderita HIV/AIDS di Ciamis terus meningkat,” katanya.

Menurut Deni, dalam mencegah penularan HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis, butuh koordinasi dari berbagai lembaga. Karena cara untuk meminimalisir penularan HIV/AIDS harus dilakukan dengan cara memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya, pencegahan dan tindakan apabila seseorang tertular HIV.

“Seperti contoh saja, pada temuan 16 kasus tahun ini, 9 diantaranya sudah positif AIDS. Artinya, mereka yang dinyatakan positif AIDS, bisa dikatakan belum paham tentang bahaya penyakit ini. Karena, kalau seandainya mereka paham dan merasa berpotensi tertular, mungkin dari jauh hari atau diperkirakan masih pada tahap positif HIV, sudah melakukan pemeriksaan VCT. Sebab, kalau status penderita masih HIV, bisa dilakukan terapy ARV. Dan kesehatan penderita masih bisa stabil seperti orang yang tidak tertular HIV/AIDS,” terangnya.

Dengan begitu, lanjut Deni, perlu adanya penanganan komperhensif yang melibatkan berbagai lembaga di Kabupaten Ciamis dalam rangka meminimalisir kasus HIV/AIDS.

“Seperti contoh, Dinas Pendidikan harus ikut dilibatkan dalam sosialisasi kepada pelajar. Begitupun Kemenag melakukan hal serupa kepada pelajar madrasah. Dinas Sosial juga harus ikut juga membantu dalam menangani komunitas tertentu yang harus mendapat pendampingan. Apabila butuh dana bantuan untuk pembinaan usaha bagi komunitas tertentu, Dinas Sosial bisa mengajak Baznas untuk membantu pendanaan,” ujarnya.

Apabila semua lembaga bersama-sama ikut bergerak, Deni yakin akan berdampak terhadap penurunan angka kasus HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis.”Kalau semua lembaga pasif, ya tinggal tunggu saja peningkatan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis akan terus meningkat dalam setiap tahunnya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis mencatat 16 kasus HIV/AIDS kembali ditemukan di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dalam rentang waktu tiga bulan terakhir atau dari bulan Januari sampai Maret 2018.

Dari 16 kasus tersebut, diantaranya 9 orang dinyatakan positif AIDS dan 7 orang orang dinyatakan positif HIV. Selain itu, dari jumlah kasus tersebut, penderita banyak ditemukan dari komunitas Lelaki Suka Lelaki (LSL).

Sementara itu, pada tahun 2017, ditemukan sebanyak 37 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis. Sedangkan tahun 2016 tercatat 41 kasus, tahun 2015 tercatat 38 kasus dan tahun 2014 tercatat 39 kasus.

Apabila dihitung dari tahun 2001 sampai tahun 2017, sudah ditemukan sebanyak 337 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis. Namun, dari hasil validasi data terakhir, jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 337 tersebut, diketahui sebanyak 202 kasus yang penderitanya merupakan warga Kabupaten Ciamis. Sementara sisanya atau sebanyak 135 orang merupakan warga dari luar daerah.

Adanya data 135 penderita HIV/AIDS dari luar daerah tercatat di Dinas Kesehatan Ciamis, karena pada tahun 2001 sampai 2013 wilayah Kabupaten Pangandaran masih bagian dari Kabupaten Ciamis. Selain itu, ada juga penderita dari daerah lain yang saat diketahui menderita penyakit HIV/AIDS saat diperiksa di rumah sakit atau klinik yang berada di wilayah Kabupaten Ciamis. (Bgj/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA