Saluran Irigasi Merjan di Pangandaran Tersendat, Begini Dampaknya

Sebagian saluran irigasi Merjan di wilayah Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, yang tidak teraliri air akibat adanya kebocoran di sejumlah titik. Photo: Aceng/HR.

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Saluran irigasi Merjan sepanjang kurang lebih 45 kilometer di Kabupaten Pangandaran, yang diharapkan mampu mengairi sekitar 1.631 hektare lahan sawah, selama kurang lebih empat tahun ini tidak mendapatkan perawatan. Kini, saluran tersebut hanya mampu mengairi areal pesawahan sekitar 800 hektare saja.

Ketua Mitra Cai Tirta Marga, Hamim, mengatakan, sepanjang saluran induk maupun saluran sub skunder tidak mendapat perawatan, sehingga terjadi pelumpuran yang mengakibatkan pendangkalan terhadap saluran.

Selain itu, juga terjadi 15 titik kebocoran pada saluran induk, seperti di Blok Cibayawak, Desa Kertayasa, yang berbatasan dengan Desa Margacinta. Kemudian di Blok Leuwi Bunder, Dusun Cibunian, dan di Blok Curug Landung, Dusun Karangkamal, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran.

“Air terbuang percuma dikarenakan kebocoran, seperti terlihat kebocoran besar terjadi di aliran sungai di Dusun Cibunian, Desa Margacinta. Diperparah lagi pepohonan liar tumbuh di mana-mana, ini juga menjadi penyebab terhambatnya aliran air. Pengusaha kayu menambah ketidaklancaran aliran air, banyak penebangan kayu di sepanjang saluran irigasi Merjan,” terang Hamim, Selasa (03/04/2018).

Menurutnya, para pekerja yang melakukan penebangan pohon tidak membersihkan ranting-ranting yang menimpa saluran Merjan, sehingga menjadi penyebab tersumbatnya saluran air. Atas kondisi tersebut, kelompok Mitra Cai Tirta Marga hanya mampu melakukan perawatan di saluran cacing (saluran tersier), dengan dana dari para petani yang dikumpulkan oleh kelompok.

Saluran Induk yang seharusnya memiliki lebar 2 meter di dasar saluran, kini rata-rata hanya sekitar 1 meter akibat terjadinya pelumpuran, dan tumbuhnya pepohonan liar di sepanjang jaringan irigasi.

Lebih lanjut Hamim mengatakan, pasokan air dari hulu sebenarnya memiliki ketinggian sekitar 60 centimeter. Namun, pasokan airnya tidak bisa sampai mengairi semua lahan pesawahan akibat adanya kebocoran dan penyumbatan.

Seperti yang terjadi di areal pesawahan Kampung Balengbeng, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, tepatnya di Blok Cikaputihan, Blok Cikapundung, Blok Sapidada, dan Blok Kedunglaban tidak mendapat pasokan air.

“Akibatnya, para petani di lokasi tersebut belum bisa manggarap lahan pertaniannya. Padahal, jadwal sebar benih padi seharusnya sudah dimulai sejak 25 Maret-1 April 2018,” jelas Hamim.

Sebagai Ketua Mitra Cai Tirta Marga, Hamim berharap pihak yang berwenang segara melakukan upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pasalnya, para petani sangat memerlukan air untuk bisa kembali menggarap sawahnya. Karena sangat disayangkan, aset yang dibangun dengan dana miliaran rupiah dan juga menyangkut kepentingan hajat hidup orang banyak ditelantarkan seperti itu.

Di tempat terpisah, Kepala Pelaksana Teknis Badan Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Wilayah Ciwulan Cilaki, pada Kantor Sub Unit Pelayanan Kabupaten Pangandaran, Oom, mengatakan, semua kerusakan yang ada sudah diusulkan pihaknya ke Balai PSDA Ciwulan Cilaki. Namun, sampai sekarang belum direalisasikan.

“Sebenarnya dari tahun 2014, saya mengusulkan perbaikan saluran irigasi ini, dan usulan tahun ini untuk tahun 2019. Kami juga akan terus mengusulkan sampai direalisasikan,” tandas Oom. (Cenk/R3/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA