Begini Kronologi Polisi Gadungan yang Cari Siswa SMAN 1 Parigi Pangandaran

Kampus SMA Negeri 1 Parigi Kabupaten Pangandaran. Foto: Dok

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-Seorang pria berinisial PD (22), warga Desa Cimindi, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran, yang mengaku-ngaku sebagai petugas intel dari Mabes Polri terbilang nekad ketika diduga akan melakukan penipuan di SMA Negeri 1 Parigi, Kabupaten Pangandaran, Rabu (09/05/2018) lalu.

Selain melakukan intimidasi ke sejumlah guru dan meminta akan mencari seorang siswa yang dituduhnya telah menghina Presiden Joko Widodo, saat berkunjung ke Pangandaran, beberapa waktu lalu, polisi gadungan itupun dikabarkan sempat mendatangi rumah kepala SMA Negeri 1 Parigi.

Berita Terkait: Bawa Nama Jokowi, Polisi Gadungan yang Ngaku dari Mabes Polri Tipu Sekolah di Pangandaran

Kepala SMA Negeri 1 Parigi, Drs. H. Eman Hermawan, M.Pd, membenarkan bahwa pelaku sebelum ditangkap polisi sempat datang ke rumahnya. Dia pun mengaku sebelumnya tidak mengenal pelaku. Bahkan, kata dia, dirinya sempat kaget ketika kedatangan seseorang yang mengaku seorang polisi.” Apalagi orang itu datang malam-malam ke rumah. Dari cara dan etikanya pun tidak mencerminkan seorang aparat, sehingga saya pada waktu itu sudah curiga bahwa dia bukan seorang polisi,”ujarnya, kepada HR Online, Jum’at (11/05/2018).

Namun begitu, lanjut Eman, dirinya tetap melayani kedatangan orang itu dan mendengarkan maksud dan tujuan menemuinya. Menurutnya, maksud pria itu datang ke rumahnya, ternyata untuk mengadukan sikap wakil kepala sekolah SMA Negeri 1 Parigi yang dianggap tidak melayani saat orang itu datang ke sekolah. “Sebelumnya orang itu datang ke sekolah, tetapi saya sedang rapat di Ciamis. Jadi, orang itu diterima oleh wakil kepala sekolah,”ujarnya.

Menurut Eman, wajar saja wakil kepala sekolahnya menolak permintaan orang tersebut. Pasalnya, kata dia, wakil kepala sekolahnya sudah curiga bahwa orang itu adalah polisi gadungan. Karena ketika diminta surat tugas dan KTA kepolisian, orang itu tidak bisa membuktikan. Selain itu, ketika ditanyakan identitas siswa yang dituduh melakukan penghinaan, orang itu malah meminta akan mencarinya ke setiap ruangan kelas dengan dalih sudah memiliki sketsa wajah.

“Saat datang ke rumah saya pun ngomongnya seperti ngelantur. Waktu itupun saya sudah yakin bahwa orang itu polisi gadungan dan diindikasikan akan melakukan penipuan,”ujarnya.

Setelah datang ke rumahnya, lanjut Eman, keesokan harinya atau Rabu (09/05/2018), orang itu kembali datang ke sekolah. Kebetulan saat itu dirinya sedang berada di sekolah. “Saat datang yang kedua kalinya, kebetulan bertemu dengan saya langsung. Permintaan dia tetap seperti tempo hari, yakni akan mencari siswa yang dituduhnya telah melakukan penghinaan terhadap Pak Jokowi saat datang ke Pangandaran,” ujarnya.

Menurut Eman, pada waktu itu dirinya menjelaskan bahwa siswa SMA Negeri 1 Parigi tidak mendapat undangan di acara kunjungan Presiden Jokowi saat berkunjung ke Pangandaran. Siswa yang diundang pada acara itu, kata dia, yakni siswa SMA Negeri 1 Pangandaran dan SMK 1 Pangandaran.

“Saya bilang pada waktu itu mungkin Anda salah datang ke sini. Karena siswa kami tidak ikut dilibatkan pada acara Pak Jokowi. Sudah dijelaskan seperti itu, tetapi saja dia ngotot. Dia berdalih siswa yang dituduhnya itu tidak memakai seragam saat datang ke acara Pak Jokowi,” ujarnya.

Selain itu, kata Eman, orang itupun mengaku sudah mendatangi seluruh SMA/SMK di Kabupaten Pangandaran untuk melacak siswa yang melakukan penghinaan terhadap Presiden Jokowi. “Waktu itu saya coba kontak semua kepala SMA dan SMK di Pangandaran untuk menanyakan apakah pernah kedatangan seseorang yang mengaku seorang polisi dan mencari siswa yang melakukan penghinaan kepada Presiden Jokowi. Ternyata semua kepala sekolah mengaku tidak pernah kedatangan. Dari situ saya yakin orang itu adalah penipu,”katanya.

Eman mengatakan, pihaknya waktu itu tetap menolak permintaan si polisi gadungan yang meminta akan mencari siswa yang dituduhnya ke seluruh ruangan kelas di sekolahnya. “Kalau benar ada siswa yang menghina Pak Jokowi, logikanya kenapa tidak ditangkap pada saat kejadian. Malah dicari setelah beberapa minggu kedatangan Pak Jokowi. Lagi pula kalau orang itu kami ijinkan mencari siswa ke ruang kelas, terus terjadi hal yang tidak dinginkan, dipastikan orangtuanya akan menyalahkan pihak sekolah. Makanya kami waktu itu bertahan dan tidak memberikan ijin,”katanya.

Eman mengungkapkan, setelah sejumlah guru melihat dirinya terlibat adu mulut dengan si polisi gadungan, kemudian salah satu guru menghubungi Polsek Parigi. Tak lama kemudian polisi datang dan melakukan penangkapan. “Padahal, saat polisi datang orang itu sudah pergi. Tetapi beruntung polisi bisa mengejarnya dan berhasil ditangkap,” ujarnya.

Berdasarkan informasi dari polisi, kata Eman, benar saja orang itu hanyalah polisi gadungan. Selain itu, orang itupun dikabarkan kerap bermasalah dengan melakukan modus penipuan ke sejumlah orang. (R2/HR-Online)

KOMENTAR ANDA