ITB dan London South Bank University Bakal Kelola Sampah Terpadu di Pangandaran

Tim dari ITB dan London South Bank University saat melakukan kunjungan ke Desa Margacinta. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Dalam rangka menunjang standarisasi destinasi wisata berupa pengembangan Sustainable Tourism Development (STD) di Pangandaran, ITB beserta London South Bank University akan membuat desain pengelolaan sampah terpadu di daerah wisata yang potensi sampah plastiknya banyak.

Kompepar Desa Margacinta, Asep Kartiwa, mengatakan, di bidang pengelolaan sampah terpadu harus sudah bisa mengedukasi ke masyarakat bahwa manfaat dari sampah, baik secara finansial maupun non finansial bisa didapat di daerah wisata. Dengan mengambil tiga tingkatan, yakni di desa, kecamatan dan kabupaten, maka pengelolaan sampah terpadu bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk dikembangkan.

“Untuk tiga tingkatan tersebut di Pangandaran, di desa rencananya akan ditempatkan di Desa Batukaras, tingkat kecamatan di Desa Margacinta, dan untuk kabupaten di Desa Karangjaladri,” kata Asep kepada Koran HR, Selasa (15/05/2018).

Asep menjelaskan, bahwa ITB dan beserta London South Bank University tertarik dengan keberadaan Desa Margacinta karena kondisinya masih alami, punya kesenian badud, produk kerajinan makanan, keramahtamahan warganya, dan juga agroculture. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh empat orang yang datang dari London, yakni Mr. Isa, Mrs. Chani, Mr.jhon, dan Mr. Andy saat menggali lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat di Pangandaran.

Setelah itu, di Pangandaran tinggal melakukan aksi nyata berupa perencanaan ke pendidikan masyarakat terlebih dahulu, ke desa, Kompepar serta ke eleman lainnya untuk memilah ketagori sampah dan limbah yang terdapat di daerah wisata.

“Lembaga pengabdian Masyarakat (LPM) ITB dan London South Bank Univercity akan membuat site plan Desa Wisata Margacinta, dan data awal sudah masuk karena memiliki potensi yang besar untuk pengelolaan sampah terpadu. Sehingga site plan nanti akan menjadi panduan untuk pengembangan desa wisata selanjutnya,” jelas Asep. (Mad/Koran HR)

KOMENTAR ANDA