LSI Deny JA; Tiga Partai Bersaing di Divisi Utama

Tiga partai yang bersaing di divisi utama. Foto: Ilustrasi HR

Berita Nasional, (haranrakyat.com),- Lingkaran Survei Indonesia (LSI Deny JA) kembali merealese hasil survei mengenai Empat Divisi Partai Politik dan Efek Capres/Program. Pengumpulan data dilakukan pada 28 April – 5 Mei 2018, dengan metode sampling multistage random sampling dengan jumlah responden mencapai 1200 orang, wawancara tatap muka responden dan margin of error ± 2.9%.

Elektabilitas partai menjelang 11 bulan Pemilu serentak, menurut peneliti LSI Deny JA, Adrian Sopi menyebutkan terbagi dalam empat divisi. Divisi Utama yaitu tiga partai dengan perolehan suara diatas 10%, ketiga partai itu adalah PDIP, Golkar dan Gerindra.

Divisi menengah diisi oleh dua partai dengan perolehan suara dibawah 10%, dan diatas batas Parliamentary Treshold (PT) 4%. Kedua partai tersebut adalah PKB dan Demokrat.

Untuk Divisi Bawah terdapat lima partai dengan perolehan suara dibawah Parliamentary Treshold 4%. Kelima partai itu adalah, PAN, Nasdem, Perindo, PKS dan PPP.

Sementara Divisi Nol Koma, terdiri dari enam partai dengan perolehan suara di nol koma. Keenam partai itu adalah, Hanura, PBB, PSI, PKPI, Garuda dan Berkarya.

Ketiga partai yang bersaing di Divisi Utama itu dengan perolehan PT, PDIP 21,70%, Golkar 15,3% dan Gerindra 14,70. “Perolehan suara 3 partai ini melampaui perolehan suara mereka saat Pemilu Legislatif 2014,” ujar Adrian Sopa dalam realesenya, Selasa 8/05/2018.

Dua partai yang bersaing di Divisi Menengah memperoleh PT sebesar; PKB 6,20% dan Partai Demokrat 5,80%. Dukungan terhadap kedua partai ini bisa meningkat, jika mulai terasosiasi dengan Capres yang kuat dan program populer.

Lima partai Divisi Bawah ini memiliki nilai dibawah PT, diantaranya, PAN 2,50%, Nasdem 2,30%, Perindo 2,30%, PKS 2,20% dan PPP 1,80%. Jika ditambah Margin of error 2,8%, kelima partai tersebut masih mungkin lolos Parliamentary Treshold 4%.

Sementara itu keenam partai yang berada di Divisi Nol Koma yaitu Hanura 0,70%, PBB 0,40%, Garuda 0,30%, PKPI 0,10%, PSI 0,10% dan  Berkarya 0,10%. Perolehan suara ke enam partai ini walaupun ditambah Margin of Error 2,8%, tetap tidak lolos Parliamentary Treshold 4%. Sisa swing voters masih 23,5%, tanpa usaha ekstra ke enam partai tersebut akan hilang di DPR periode 2019-2024.

Dalam realese survei tersebut, LSI Deny JA juga membahas isu Capres dan Program Populer Mempengaruhi Partai. Hal yang dapat menaikkan atau menurunkan dukungan masyarakat terhadap partai yaitu; yang menyatakan Ada atau tidak ada calon Presiden kuat yang diusung partai, sebanyak 75% responden menyatakan itu.

Ada atau tidak ada program populer yang diusung partai sebesar 74,7%. Sementara ada atau tidak ada skandal partai sebesar 51,7%.

Dengan begitu, dukungan masyarakat terhadap pilihan partai, masih dipengaruhi oleh sosok Capres yang diusung, dan program populer partai tersebut.

Sementara itu terpaan isu yang menghantam Puan Maharani dan Pramono Anung tentang E-KTP, menurunkan PDIP. Responden saat ditanya isu tersebut akan mempengaruhi pilihan untuk tetap memilih PDIP atau tidak akan memilih. Sebanyak 77,0% menyatakan akan memilih PDIP dan tidak akan memilih PDIP sebesar 10.7% dan yang menjawab tidak tahu/tidak jawab sebesar 12,3%.

Sementara itu, Jokowi terasosiasi paling kuat dengan PDIP. Saat responden ditanya partai mana yang akan mengusung Jokowi sebagai calon Presiden. Sebanyak 65,0% responden menjawab PDIP. Sementara yang menjawab gabungan partai lain sebesar 20,0% dan menjawab tidak tahu/tidak jawab sebesar 15,0%.

Dalam survei tersebut juga menyatakan, kasus pengadilan Setya Novanto mengganggu dukungan terhadap Golkar. Saat responden ditanya apakah berita tersebut akan mempengaruhi untuk tidak tetap memilih partai Golkar atau tidak akan memilih partai Golkar.

Sebanyak 84,5% responden tetap akan memilih partai Golkar, dan tidak akan memilih partai Golkar sebesar 5,3%, dan yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab 10,2%.

Kepemimpinan baru Arilangga Hartato dengan meluncurkan 4 Program Golkar ternyata cukup disukai seperti program Sembako Murah disukai sebesar 87,5%, Program Lapangan Kerja Tersedia disukai sebesar 84,4%, Program Rumah harga terjangkau dan mudah akses disukai sebesar 82,4%, dan Program Teknologi tinggi untuk keadilan dan kesejahteraan disukai sebesar 76,9%.

Program Golkar ini yang menaikkan suara Golkar kembali. Namun tingkat pengenalan program ini baru dikenal <15%. Semakin program ini dikenal, semakin baik dukungan untuk Golkar.

Dalam survei tersebut juga menyatakan Prabowo Ter-asosiasi kuat dengan Gerindra. Sebanyak 80,9% responden menjawab bahwa Prabowo akan diusung jadi Capres oleh Gerindra. Oleh partai gabungan hanya sebesar 5,3%, dan yang menjawab tidak tahu/tidak menjawab 13,8%.

Sementara itu, belum ada partai yang terasosiasi kuat dengan Gatot Nurmantyo. Responden yang menjawab Gabungan partai sebesar 9,5% dan tidak tahu/tidak menjawab sebesar 90,5%.

Jika demokrat dan PKB mencalonkan Gatot, kedua partai tersebut akan terdongkrak posisi partainya. Demokrat memperoleh 16,50% dan PKB 15,80%.

Jika Gerindra mencalonkan Gatot, maka Gerindra memperoleh 19,80%. Disamping mendapatkan dukungnan dari pendukung Prabowo, Gerindra juga mendapatkan suara dari pendukung Gatot Nurmantyo.

Dalam survei itu juga dalam isu ketiga yaitu partai bawah dan nol koma. 5 partai di divisi bawah yaitu PAN, PPP, PKS, Nasdem dan Perindo masuk ke dalam Divisi Bawah disebabkan oleh; 1. Partai-partai tersebut tidak terasosiasi kuat dengan Capres yang kuat., 2. Tidak ada program dari partai-partai tersebut yang dikenal dengan luas., 3. Tapi untuk Perindo yang merupakan partai baru,posisi ini sudah merupakan suatu prestasi.

Sementara ke enam partai di Divisi Nol Koma seperti Hanura, PSI, PBB, PKPI, Partai Garuda, dan Partai Berkarya masuk ke dalam partai Divisi Nol koma disebabkan oleh:

Hanura: Isu perpecahan partai, tidak terdengar programnya, dan tidak terasosiasi kuat dengan Capres yang kuat.

PSI: Publisitas yang cukup tapi melakukan blunder kasus sunny Tanuwijaya yang membuat PSI ditinggal pemilih anti korupsi.

PBB: tidak cukup publikasi untuk menarik pemilih islam yang menjadi programnya.

PKPI, Partai Garuda, dan Partai Berkarya: Tidak terdengar kiprahnya.

Jalan tol partai untuk menaikkan dukungan dengan sisa waktu 11 bulan, partai-partai bisa melakukan hal berikut untuk menaikkan dukungan:

  1. Terasosiasi kuat dengan Capres yang kuat
  2. Memiliki program yang popular dan dikenal luas.
  3. Tidak terkait skandal
  4. Public expose isu positif partai secara masif dan terstruktur. (Sbh/Koran HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar