Jelang Lebaran, Tukang Ojek di Pamarican Ciamis Ngeluh Sepi Penumpang

Pangkalan ojeg di Desa Kertahyu, Pamarican, Kabupaten Ciamis ini tampak sepi. Para tukang ojeg setempat mengeluhkan sepinya penumpang, meski pada moment jelang hari raya idul fitri. Foto: Suherman/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-Perkembangan teknologi yang kian pesat dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat terus mengikis ekonomi para tukang ojek konvensional di wilayah Desa Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Bahkan, di suasana mejelang hari raya idul fitri, dimana biasanya tukang ojek mendapatkan banyak konsumen, tahun ini faktanya mereka menjerit karena sepi penumpang.

Dari pantauan Koran HR di beberapa titik pangkalan ojek, hampir semua tukang  ojek mengeluhkan kondisi menurunya pendapatan pada masa-masa menjelang hari raya idul fitri (lebaran) saat ini.

Tidak jarang, dalam sehari semalam mereka hanya mengantongi recehan yang tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan untuk berlebaran. Bahkan beberapa pangkalan ojek sudah ditinggal para tukang ojek yang biasa mangkal.

Misalnya saja di pangkalan ojeg Bojongnangka, Kertahayu. Beberapa tahun ke belakang, pangkalan ojek ini selalu dipenuhi tukang ojek, apalagi saat menjelang hari raya Idul Fitri. Tapi kali ini tidak satu pun tukang ojek yang terlihat mangkal.

“Usaha kami hancur setelah merebaknya handphone, sekarang semua calon penumpang selalu dijemput keluarga. Berbeda dengan waktu dulu, saat memasuki jelang hari raya idul fitri, pasti kami selalu kebanjiran rejeki,” kata Harin, tukang ojek, kepada Koran HR, Senin (11/06/2018).

Senada dengan itu, Agung, tukang ojek pangkalan Kertahayu, ketika ditemui Koran HR, Senin (11/06/2018), mengatakan, sejak merebahnya teknologi selular, penghasilannya menurun drastis.

“Calon penumpang pasti sudah dijemput oleh keluarganya. Kami pun tidak bisa memaksakan kehendak apalagi menindak. Kami hanya bisa pasrah dengan harapan masih ada calon penumpang yang mau menggunakan jasa kami,” katanya.

Menurut Agung, penghasilannya sebagai tukang ojek sangat minim, bahkan bisa dikatakan hanya bisa cukup untuk membeli bensin. Dalam sehari semalam, dia hanya bisa mengais rejeki dari jasa ojek sebanyak Rp. 30.000.

Di tempat terpisah, Ibrahim, tukang ojek asal Dusun Buniasih, Desa Kutawaringin, Kecamatan Purwadadi, ketika ditemui Koran HR, Senin (11/06/2018), mengaku biasa mangkal di kawasan Stasiun Banjar.

“Sudah lama saya tidak mangkal di Betrik. Alasannya karena sepi penumpang. Kemarin saya mencoba untuk mengadu nasib, karena biasa jelang lebaran banyak penumpang, namun ternyata sepi. Bahkan sama sekali saya tidak mendapatkan penumpang,” katanya. (Suherman/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA