“Kentrong” Tradisi Warga Parungsari Banjar Bangunkan Sahur

Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Komunitas Parungsari United, di Lingkungan Parungsari, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, saat melakukan tradisi Kentrong untuk membangunkan sahur warga setempat. Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Hampir di setiap daerah memiliki tradisi yang khas saat bulan Ramadhan. Seperti tradisi main bedil lodong, bagi-bagi takjil, dan tradisi lainnya. Di Kota Banjar sendiri, ada tradisi unik yang dilakukan sejumlah anak muda saat bulan Ramadhan.

Tradisi unik itu bernama Kentrong dan dimainkan oleh sejumlah pemuda yang tergabung dalam Komunitas Parungsari United, di Lingkungan Parungsari, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat.

Kentrong adalah sebuah tradisi yang dilakukan untuk membangunkan orang ketika waktu sahur tiba. Sejumlah pemuda tersebut berkeliling kampung sambil memainkan musik dangdutan menggunakan alat musik dari limbah berupa ember plastik, dan gitar ukulele.

Mereka pun saat menyanyikan lagu disesuaikan dengan irama musik qosidah atau lagu religi lainnya. Pada intinya, semua lagu yang dibawakan ketika membangunkan sahur bernafaskan Islami.

Galih (25), salah seorang pemuda dari Komunitas Parungsari United, mengatakan, tradisi Kentrong ini mulai dilakukan kembali pada tahun 2014. Menurut Galih, dirinya bersama teman-temannya melakukan ini dengan sukarela.

“Kami melakukan kegiatan Kentrong ini sejak bulan Ramadhan tahun 2014. Hal ini kami lakukan untuk membangunkan orang supaya tidak kesiangan saat sahur,” kata Galih, kepada Koran HR, Minggu (03/06/2018) dini hari.

Janu (20), pemuda lainnya, menambahkan, kegiatan Kentrong ini awalnya hanya sekedar iseng sambil begadang. Namun, lama-kelamaan terasa banyak manfaatnya, karena selain membangunkan orang untuk sahur, juga sekaligus untuk beribadah.

“Awalnya kami hanya iseng sambil begadang saat bulan Ramadhan. Tapi kami berpikir positif dan ingin membantu warga melalui kentrong, sebab khawatir warga kesiangan saat waktu sahur tiba.

Senada dikatakan Trisna (20), pemuda lainnya. Menurut dia, tradisi Kentrong ini merupakan seni ritmis yang sejak dulu sering dilakukan, dan sekarang mulai kembangkan lagi oleh mereka.

“Kalau dulu alat musiknya hanya kentongan dari bambu, tapi sejak tahun 2014, kami menambahkan gitar dan ukulele, sehingga lebih ada irama melodisnya,” terang Trisna.

Para pemuda ini melakukan tradisi Kentrong selama bulan Ramadhan yang dimulai setiap pukul 02.00 dini hari. Apa yang mereka lakukan disambut positif oleh sejumlah warga setempat. Seperti diungkapkan Mimi (55), warga Parungsari. Menurutnya, tradisi Kentrong ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, dan dianggap warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan.

“Saya apresiasi mereka selama melakukan tradisi Kentrong. Mereka biasanya keliling kampung. Tradisi Kentrong ini dari sejak zaman dulu sudah ada, tapi kalau dulu biasanya menggunakan beduk atau kentongan kecil untuk membangunkan warga pada saat sahur. Namun, memasuki zaman modern, oleh mereka ditambah alat musiknya,” jelas Mimi.

Saat melakukan tradisi Kentrong, tak sedikit warga yang memberi makanan kepada mereka. Komunitas Parungsari United pun kedepannya akan terus melakukan kegiatan tersebut selama bulan Ramadhan. (Hermanto/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA