Lestarikan Tradisi yang Hampir Punah, Lampion Hiasi Malam Takbir di Lakbok Ciamis

Penerbangan 99 lampion di sela-sela pawai obor di Lapang Desa Sukanagara, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Foto: Muhafid/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Pekik takbir yang menggema pada malam Hari Raya Idul Fitri 1439 H disambut gembira seluruh umat muslim di seluruh penjuru dunia. Selain sebagai pemungkas bulan ramadhan yang sudah dilakukan selama satu bulan penuh, pada malam kemenangan tersebut masyarakat mewujudkan kegembiraannya dengan berbagai cara, termasuk dengan menggelar pawai.

Di Desa Sukanagara, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, malam takbir Hari Raya Idul Fitri 1439 H menjadi sangat istimewa. Biasanya pada malam tersebut hanya dilakukan pawai dengan berkeliling untuk mengumandangkan takbir sambil menabuh bedug saja, namun pada malam tersebut lebih meriah lagi dengan adanya pawai obor serta penerbangan 99 lampion sebagai bentuk syukur, doa dan harapan di malam hari raya Idul Fitri.

Pawai obor yang diprakarsai para pemuda setempat menarik perhatian masyarakat. Bahkan, 10 abid, 200 obor, 13 obor seribu, 200 lilin serta 99 lampion penuh warna menjadi rebutan warga untuk ikut serta dalam pawai tersebut.

Wahid Nurhamid, Ketua Panitia, mengatakan, pawai obor dalam malam hari raya idul fitri merupakan tradisi yang semakin hari semakin langka, terlebih penerbangan lampion pada hari-hari besar islam sampai saat ini sudah tak ada lagi kabarnya. Padahal, tradisi tersebut sangat perlu dilestarikan.

“Terakhir di desa kami digelar kegiatan ini pada tahun 2015, seperti pawai obor dan penerbangan balon api yang menggunakan plastik besar. Karena sudah cukup lama tidak digelar lagi, kami bersama para pemuda dan berkoordinasi dengan aparat pemerintah setempat dan keamanan kegiatan ini berjalan dengan lancar,” katanya kepada Koran HR, Kamis (14/06/2018).

Wahid menambahkan, bahwa penerbangan balon besar yang menggunakan plastik dilarang karena alasan keamanan penerbangan. Namun, kondisi itu tidak mematahkan kreatifitas para pemuda yang menggantinya dengan penerbangan lampion sebanyak 99 buah.

“Tentunya ini tidak dilarang, dan sudah kita komunikasikan dengan aparat kemanan yang mana hasilnya sudah kita buktikan sendiri melalui kegiatan ini,” imbuhnya.

Sebagai tradisi yang perlu dilestarikan, lanjut Wahid, pawai obor, abid serta penerbangan lampion di desanya tersebut menjadi motivasi daerah lain untuk bisa dikembangkan lagi, apalagi di setiap perayaan hari-hari besar Islam.

“Ini sebagai bentuk kebahagiaan warga dan semuanya kita ini swadaya. Jadi, bentuk gotong royong serta nilai-nilai kebaikan dari kegiatan semacam ini perlu dikembangkan agar tidak punah ditelan zaman,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)

KOMENTAR ANDA