Pengembalian Nama Ciamis Menjadi Galuh Jangan Sekedar Komoditas Politis

Juru Bicara Komunitas Budayawan Galuh Sadulur, Hanif Radinal. Foto: Dokumen HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Sejumlah budayawan dan akademisi meminta rencana mengembalikan nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh jangan hanya sebatas wacana untuk kepentingan politis. Menurut mereka, setelah DPRD Ciamis beberapa waktu lalu melakukan dorongan secara politis agar pengembalian nama Kabupaten Galuh bisa segera terwujud, kini giliran Pemkab Ciamis yang harus memulai melakukan langkah kongkrit.

Apalagi, kedua pasangan calon bupati-wakil bupati Ciamis, yakni Herdiat- Yana D Putra dan Iing Syam Arifin- Oih Burhanudin, pada acara debat publik Pilkada Ciamis, beberapa waktu lalu, menyatakan setuju dan akan mendorong pengembalian nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh.

“Adanya pernyataan lisan dari kedua pasangan calon bupati-wakil bupati Ciamis, yang disampaikan secara terbuka, di hadapan banyak warga, tentunya sebuah kemajuan untuk mewujudkan pengembalian nama Ciamis menjadi Galuh. Kita tunggu saja setelah Pilkada usai, apakah calon bupati-wakil bupati terpilih nanti akan menunaikan janjinya atau tidak. Karena berbicara di hadapan banyak orang seperti itu sudah masuk janji politik, meski tidak tertuang dalam visi misinya,” kata Juru Bicara Komunitas Budayawan Galuh Sadulur, Hanif Radinal, kepada Koran HR, Selasa (19/06/2018).

Menurut Hanif, pengembalian nama Ciamis menjadi Galuh, tak hanya berpegang pada nilai filosofi dan sejarah saja, tetapi juga ada sebuah harapan masa depan untuk kesejahteraan masyarakat dan kemajuan Tatar Galuh.

“Banyak orang bertanya apa manfaatnya apabila nama Ciamis dikembalikan menjadi Galuh untuk kepentingan masa depan? Saya bilang banyak. Salah satunya nama Galuh tak hanya dikenal di nusantara, tetapi juga sudah dikenal di masyarakat internasional. Artinya, nama Galuh memiliki potensi untuk kemajuan daerah,” katanya.

Hanif mencontohkan, di museum Belanda, misalnya, sejarah Kerajaan Galuh terdokumentasi secara lengkap. Selain itu, para budayawan dan peneliti budaya internasional yang konsen terhadap sejarah Indonesia, pasti hapal dengan sejarah kegaluhan. Begitupun warga Indonesia yang konsen terhadap sejarah nusantara sudah hafal betul tentang seluk beluk kegaluhan.

“Saya sering berkeliling Indonesia untuk menghadiri acara budaya nasional. Ketika saya bilang sebagai perwakilan masyarakat Galuh, mereka langsung respon. Di mata mereka Galuh itu sebuah kerajaan besar yang memiliki adat istiadat dan budaya yang salah satunya mempengaruhi peradaban manusia di bumi nusantara,” ungkapnya.

Kebesaran nama Galuh, kata Hanif, sangat berpotensi besar untuk sektor parawisata. Karena apabila dibanding dengan daerah lain di Jawa Barat, hanya Kabupaten Ciamis-lah yang memiliki keistimewaan sejarah dan budaya.

“Justru saya ada khawatirnya juga apabila pengembalian nama Ciamis menjadi Galuh nantinya terwujud. Karena apabila sudah resmi berubah nama menjadi Kabupaten Galuh, dipastikan akan banyak orang dari luar daerah, bahkan dari Negara lain, berdatangan ke Ciamis untuk menelisik sejarah dan keistimewaan kegaluhan. Kalau nanti pengunjung membludak, apa sudah siap fasilitas seperti di objek wisata budaya dan fasilitas hotelnya sudah memadai? Ini tentunya harus dipikirkan juga oleh semua pihak,”ujarnya.

Karena itu, lanjut Hanif, untuk mewujudkan nama Ciamis menjadi Galuh, tidak hanya sekedar sepakat dari semua pihak, tetapi juga harus dipikirkan potensi yang bisa berdampak untuk kesejahteraan rakyat dan kemajuan daerah. “Dalam hal ini, Pemkab Ciamis harus berperan besar dan mengajak semua pihak untuk duduk bersama. Kalau semua element sudah sepakat, mari kita rencanakan progress Kabupaten Galuh kedepan agar bisa berdampak untuk kemajuan daerah,” terangnya.

Menurut Hanif, ketika berbicara pengembalian nama Ciamis menjadi Galuh, tak sedikit orang yang pesimis soal dampak untuk kepentingan masa depan. Sebagian orang, kata dia, hanya mengira pengembalian nama Galuh hanya berorentasi pada aspek nilai dan sejarah saja.

“Saya sudah buktikan sendiri, pada pertemuan budayawan se-Indonesia, perwakilan masyarakat Galuh selalu disejajarkan dengan Kesultanan Yogyakarta, Kesultanan Cirebon dan daerah-daerah lain yang memiliki sejarah kerajaan besar di Indonesia. Galuh itu besar, tetapi belum bisa kita manfaatkan untuk kemajuan daerah. Yogyakarta bisa menjadi kota besar, karena sejarahnya. Kenapa Galuh tidak bisa seperti Yogyakarta, misalnya,” katanya. (Heri/Koran HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar