Tutupi Kebutuhan Sehari-hari, Sejumlah Guru Honorer Gelar Dagangan di Alun-alun Langensari Banjar

Sejumlah guru honorer saat berjualan di Alun-alun Langensari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Sejumlah guru honorer di Kota Banjar berjualan di kawasan Alun-alun Langensari sejak sore hingga malam hari. Ada yang berjualan kebutuhan sandang, jasa pembuatan henna, penyedia mainan anak-anak, serta profesi sampingan lainnya di luar kegiatan mereka sebagai tenaga pendidik.

Lia Nurmuhibbah, salah satu guru honorer yang menyediakan jasa hena, mengatakan, aktivitasnya di luar mengajar tersebut merupakan pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain menggelar lapak di Alun-alun, dia juga kerap menawarkan jasanya seperti ke pasangan yang hendak menikah, maupun yang suka dengan seni henna.

“Kalau boleh jujur, kesejahteraan guru honorer tentunya sangat jauh dengan yang PNS. Makanya kegiatan seperti ini jadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika hanya mengandalkan gaji, itu tidak mungkin. Sebab, kerap tersendat-sendat. Kita itu mendapatkan tunjangan fungsional per bulannya sebesar 250 ribu rupiah,” tuturnya, kepada Koran HR, beberapa waktu lalu.

Lia berharap, pemerintah lebih memperhatikan lagi kesejahteraan guru honorer. Meski sadar gajinya tidak sebesar dari guru PNS, namun dirinya berharap pemberian gajinya itu berjalan dengan lancar.

“Pekerjaan sampingan ini salah satu hobi dan kemampuan yang saya miliki. Makanya saya manfaatkan sebaik mungkin, sambil mengenalkan henna kepada masyarakat. Soal kebijakan pemerintah, kita tidak neko-neko, hanya ingin diperhatikan saja sebagai tenaga pendidik yang sama-sama berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa,” tandas Lia.

Hal senada juga diungkapkan Robitotun, salah satu guru honorer yang berjualan Sandal Lucu (Sancu), bahwa sebagai guru honorer, dirinya tidak mengharap lebih, apalagi gaji besar seperti halnya PNS. Hanya saja ia mengingatkan pemerintah untuk menjalankan kebijakan yang sudah ada atau kebijakan yang pro terhadap guru honorer.

“Mirisnya, kita mendengar profesi jadi guru honorer itu disalahkan. Mungkin karena pendapatan tidak sebesar guru PNS. Tapi kita sadar itu sudah jadi konsekuensi kita. Meski begitu, kita terus mendidik generasi bangsa, terus bergelora walaupun kondisi kesejehteraan kita harus menghela nafas lebih panjang lagi,” ungkapnya.

Melalui pekerjaan sampingannya itu, Robitotun bersama sejumlah guru honorer lainnya bisa melakukan hal-hal kreatif yang bernilai ekonomi, dan kegiatan tersebut dijadikan sebagai motivasi.

“Kemarin selama bulan puasa kita full menggelar lapak di Alun-alun Langensari. Nah, setelah Lebaran kita rehat dulu sebentar, tapi ada juga yang masih berjualan di tempat-tempat yang ramai, seperti di Bendungan Manganti. Harapannya, dengan kegiatan ini bisa membuka semuanya, bahwa perjuangan guru honorer jangan dipandang sebelah mata, apalagi disalahkan gara-gara gaji kecil,” tandasnya. (Muhafid/Koran HR)

KOMENTAR ANDA