Begini Strategi Investasi Saham Menurut RELI

Foto : Ilustrasi/ Net

Berita Bisnis, (harapanrakyat.com),- Pasar saham saat ini masih terkoreksi. Pergerakan indeks juga naik turun. Tentu saja kondisi seperti itu memicu kekhawatiran bagi investor alias pelaku pasar. Namun, di sisi lain, kondisi ini dapat menjadi kesempatan bagi investor untuk menambah investasi pada instrumen saham dan turunannya.

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Sriwidjaja Rauf menjelaskan, situasi pasar saham yang tengah volatile atau terkoreksi, sejatinya juga berpeluang memberi keuntungan jangka panjang yang lebih tinggi.

“Koreksi saham justru memberikan kesempatan bagi investor jangka panjang untuk membeli saham-saham atau reksadana saham yang dengan valuasi yang lebih murah,” kata Sriwidjaja, Kamis (12/07/2018).

Menurut Sriwidjaja, investor bisa memilih instrumen reksadana saham yang portfolionya terdiri dari saham-saham blue chips, atau yang berbasis saham indeks IDX30. Dan RELI, memiliki beragam produk investasi, termasuk produk reksadana, yang bisa disesuaikan dengan risiko investor.

Investasi sedari dini, terutama di pasar saham maupun reksadana, sangat penting, karena mampu melawan inflasi. Jika rutin dan disiplin, bukan tidak mungkin keuntungan dari investasi bisa untuk digunakan menambah dana yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan di masa depan.

Sriwidjaja menambahkan, jika seorang investor memiliki tujuan investasi jangka panjang, misal di atas 10 tahun, maka saat ini momen tepat untuk memanfaatkan momentum turunnya harga-harga saham. Sementara, untuk tujuan jangka pendek hingga menengah, bisa dipilih instrumen pasar uang untuk menempatkan dana investasi.

Reksadana pendapatan tetap dengan portofolio obligasi korporasi bisa jadi opsi menarik. Pasalnya, kupon obligasi korporasi umumnya lebih tinggi sehingga dapat mengompensasi dampak penurunan harganya. Selain itu beberapa reksadana berbasis obligasi korporasi juga secara rutin membagikan hasil investasi ke investor.

Sementara, untuk reksadana yang portofolionya SUN saat ini masih cukup volatil. Tapi, kalau harganya turun lebih banyak, juga tetap layak dipilih.

Tentu saja, tak kalah penting, dalam berinvestasi selalu sesuaikan dengan tujuan dan anggaran yang tersedia. Investasikan dana secara bertahap sehingga bisa mendapat average cost of investment yang lebih baik pada saat pasar terkoreksi.

Dalam berinvestasi, pastikan dan tentukan tujuanya, karena akan menentukan produk investasi seperti apa yang harus dimiliki. Tujuan berinvestasi juga harus mencakup jangka waktu berapa tahun akan berinvestasi.

Untuk mengindari kegagalan investasi, ada baiknya mengetahui jangka waktu dalam. Alasnnya karena karakteristik setiap jenis reksa dana berbeda-beda. Semakin pendek jangka waktu investasi, sebaiknya semakin konservatif atau aman produk yang dipilih, sepertihalnya reksadana pendapatan tetap.

“Setiap bentuk investasi pasti ada risiko. Semakin tinggi investasi, semakin tinggi juga risikonya,” kata Sriwidjaja.

Perlu dipelajari juga tentang karakter diri sendiri. Apakah diri kita masuk tipe investor yang moderat, konservatif atau spekulatif.  Kemudian, pilihan investasi yang diambil apakah untuk jangka panjang atau jangka pendek.

Terakhir, jangan simpan telur dalam satu kerajang. Artinya, dalam berinvestasi, investor harus menyebarkan investasi ke dalam beberapa produk dan portofolio, agar dapat meminimalkan risiko.  Pilih produk reksadana paling pas dengan profil risiko dan kebutuhan.

Toh, meski pasar terkoreksi, Sriwidjaja juga menyarankan agar  tidak buru-buru keluar dari pasar kendati volatilitas tengah meningkat.

Pasalnya, koreksi saat ini lebih disebabkan sentimen negatif percepatan pertumbuhan ekonomi AS, yang berujung pada melemahnya rupiah. Selain itu, ekonomi Indonesia diyakini masih tumbuh lebih dari 5 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam yang diperkirakan tumbuh 3 persen tahun ini.

“Lebih baik, investor juga kembali mempelajari isi portofolio dan tujuan investasinya. Selalu jadikan data fundamental ketika membuat keputusan investasi,” tegas Sriwidjaja. (Deni/R4/HR-Online)

Loading...