3 Tulisan Kuno di Pangandaran yang Berusia 4 Abad Ini Akan Diteliti Sejarahnya

Tulisan tangan (manuskrip) yang konon sudah berusia 4 abad yang ditemukan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, akan dilakukan penelitTulisan tangan (manuskrip) yang konon sudah berusia 4 abad yang ditemukan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, akan dilakukan penelitian secara ilmiah. Foto: Madlani/HRian secara ilmiah. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Tiga buah peninggalan kuno berupa tulisan tangan (manuskrip) yang konon sudah berusia 4 abad yang ditemukan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, akan dilakukan penelitian secara ilmiah. Tulisan tangan manuskrip itu salah satunya berupa kertas kuno yang konon secarik surat yang dibuat oleh Sultan Agung Hanyokro Kusumo pada tahun 1628 M dan 1629 M.

Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma meupakan Sultan ketiga dari Kesultanan Mataram. Dia memerintah pada tahun 1613-1645. Di bawah Sultan Agung, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara, termasuk memegang kendali di wilayah Priangan, salah satunya wilayah pesisir pantai selatan Pangandaran.

Selain tulisan tangan sultan Agung, juga terdapat tulisan tangan manuskrip Kitab Purwaning Jagat atau Kitab Kacijulangan dan Paririmbon Sunda. Namun, kedua manuskrip yang konon peninggalan kerajaan di wilayah Kabupaten Pangandaran itu belum diketahui pasti tahun pembuatannya. Hanya saja, apabila menilik pada sejarah Babad Cijulang, dikisahkan pada sekitar abad 16.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceng Hasim, membenarkan bahwa di Kabupaten Pangandaran, sudah ditemukan 3 peninggalan kuno yang diduga sebuah manuskrip.

“Setelah kami teliti dari sekian manuskrip yang ditemukan di wilayah Kabupaten Pangandaran, terdapat 3 manuskrip yang diyakini keasliannya memiliki sejarah dengan kejadian masa lalu. Makanya, ketiga manuskrip itu akan kita teliti secara ilmiah, agar benang merah sejarahnya bisa terungkap secara jelas dan memiliki fakta-fakta sejarah,” ujarnya, Sabtu (04/08/2018).

Pihaknya, lanjut Aceng, sudah melakukan koordinasi dengan Dirjen Kebudayaan untuk melakukan penelitian sebagai bentuk pembuktian sejarah. Apabila hasil penelitian terbukti fakta sejarahnya, maka akan diusulkan untuk didata dan dimasukan ke dalam arsip manuskrip nasional.

“Selain untuk kebutuhan pengujian sejarah, juga hasil penelitian dibutuhkan untuk referensi catatan sejarah masa lalu di wilayah Kabupaten Pangandaran. Hal itu tentunya dibutuhkan untuk sarana edukasi sejarah tentang Pangandaran kepada generasi muda,”ujarnya.

Selain temuan manuskrip, di wilayah Kabupaten Pangandaran pun banyak ditemukan benda-benda kuno yang menunjukan adanya jejak manusia pra sejarah. Benda kuno itu berupa batu berjenis gerabah dan perkakas yang ditemukan di beberapa goa yang ada di wilayah Kabupaten Pangandaran.

Sejumlah peneliti arkeolog meyakini bahwa di beberapa goa di wilayah Kabupaten Pangandaran dulunya pernah dihuni oleh manusia purba atau manusia pada jaman pra sejarah.

Bahkan, peneliti dari Balai Pelestarian Cagar Budaya menemukan sejumlah fosil purbakala berupa gigi gajah purba dan serpihan gerabah, di Goa Peteng dan Goa Panggung atau di kawasan Objek Wisata Goa Sutrareregan, tepatnya di Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Adanya temuan ini tentunya sangat mengejutkan. Pasalnya, di lokasi goa yang sebelumnya jarang di jamaah manusia ini, ternyata ditemukan jejak kehidupan manusia purba. Terlebih, saat ditemukan serpihan gerabah atau alat pertanian di Goa Panggung. Temuan itu menunjukan bahwa manusia purba yang mendiami goa tersebut sudah mengenal pertanian.

Di wilayah Kabupaten Pangandaran sudah ditemukan benda peninggalan bersejarah dari 4 periode atau zaman sejarah. Mulai dari periode pra sejarah, periode klasik, periode penjajahan dan periode Islam. (Mad2/R2/HR-Online)

KOMENTAR ANDA