Selasa, Agustus 9, 2022
BerandaBerita CiamisAkibat Musim Kemarau, Warga di Ciamis Ini Terpaksa Mandi dan Nyuci di...

Akibat Musim Kemarau, Warga di Ciamis Ini Terpaksa Mandi dan Nyuci di Sungai

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Setelah hampir dua bulan memasuki musim kemarau, beberapa daerah di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, sudah dilanda kekeringan, salah satunya di Dusun Sukaharja, Desa Petirhilir, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Galian sumur yang biasa menjadi sumber air untuk kebutuhan rumah tangga, kini sudah kering. Warga setempat pun terpaksa menggunakan air sungai untuk keperluan mandi dan mencuci pakaian.

Ketua RW 02 Dusun Sukajarja, Desa Petirhilir, Ucen Husen, mengatakan, warga di kampungnya mengandalkan sumur untuk mendapat air bersih. Namun, tambah dia, semenjak dua bulan terakhir ini mengalami kemarau, sumur di sebagian besar rumah warganya sudah tidak mengelurkan air.

“Di daerah kami hanya ada satu mata air, itupun pasokannya terbatas. Kami juga sudah berupaya menggali sumur di aliran sungai kering. Tetapi tidak mengeluarkan air. Akhirnya kami terpaksa memanfaatkan aliran sungai dangkal yang masih ada sedikit air mengalir,”ujarnya, Selasa (31/07/2018)

Untuk menuju ke lokasi sungai yang masih terdapat aliran air tersebut, lanjut Ucen, warga harus berjalan kaki sekitar 2 kilometer. “Alhamdulilah di beberapa titik sungai Cisepet masih ada air yang mengalir. Sehingga kami masih mendapat air untuk keperluan mandi dan cuci pakaian,”katanya.

Menurut Ucen, musim kemarau baru berlangsung hampir dua bulan pun warganya sudah kesulitan air bersih. Apalagi, kata dia, jika terjadi kemarau panjang hingga berlangsung 6 bulan.

“Kalau menurut perakiraan cuaca BMKG katanya musim kemarau akan berlangsung sampai September. Tetapi kami berharap mudah-mudahan tidak sampai September. Karena belum memasuki dua bulan saja kami sudah kelimpungan air bersih,”ujarnya.

Ucen menambahkan, sebenarnya pemerintah daerah beberapa tahun lalu sudah membangun sumur bor berikut bak penampungannya. Hal itu dipersiapkan untuk penanggulangan apabila terjadi krisis air bersih di kampungnya. “Namun, sumber bor yang dibangun pemerintah itu sekarang sudah tidak mengeluarkan air. Katanya sih akibat tersumbat tanah. Makanya, bak penampung air sudah tidak lagi difungsikan, karena tidak ada sumber mata airnya,” ungkapnya.

Dengan begitu, Ucen berharap pihaknya meminta Pemkab Ciamis untuk intens menyalurkan bantuan air bersih ke kampungnya. Karenanya, sudah tidak ada lagi sumber air yang bisa diandalkan ketika musim kemarau tiba.

“Di saat kemarau seperti ini, air bersih bagi warga kami sangat besar artinya. Jangankan air satu mobil tangki, satu ember kecil saja bagi kami sudah menjadi barang mahal. Memang begitu kondisinya. Air bersih selalu menjadi masalah bagi kami ketika di musim kemarau,”ujarnya.

Sementara untuk keperluan masak dan minum, lanjut Ucen, warga di kampungnya terpaksa membeli air galon atau mencari air bersih ke sumber mata air. Karena air sungai tidak mungkin digunakan untuk minum dan memasak.

Sementara itu, Tati Haryati (58), warga setempat, mengaku dirinya yang dibantu anaknya hampir setiap hari mengambil air dari sungai dengan menggunakan jerigen. Air dari sungai itu dibawa ke rumahnya untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian.

“Kalau saya tidak selalu mandi dan nyuci di sungai, tetapi terkadang mengambil airnya saja. Kalau tidak banyak orang, baru mandi di sungai. Tapi kalau banyak orang, terpaksa mengambil airnya saja dan mandi serta nyuci di rumah,” ujarnya, Selasa (31/07/2018)

Menurut Tati, jarak dari rumahnya menuju sungai sekitar 1 kilometer. Selain lumayan jauh, juga medan jalan yang dilewatinya pun turun naik. Sebab, posisi sungai berada di bawah permukiman penduduk setempat. “Ya lumayan cape sih. Apalagi kalau mengambil air menggunakan jerigen. Sudah berat bawa jerigen, juga medannya turun naik begitu. Tapi gimana lagi, air sumur di rumah sudah kering,” ujarnya.

Sementara untuk keperluan minum dan memasak, Tati mengaku mengambil air dari sebuah mata air yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya. “Meski ada mata air, tapi tidak bisa mengambil banyak, karena ngocornya hanya sedikit. Harus menunggu lama untuk mengisi satu jerigen air. Selain itu, banyak warga lain yang sama mengambil air dari mata air tersebut. Terkadang kami sering antri,” katanya.

Sementara itu, Polres Ciamis ikut membantu menyalurkan air bersih untuk warga di Dusun Sukaharja Desa Petirhilir, Kecamatan Baregbeg. “Kami mendapat informasi bahwa warga di sini sangat kesulitan air bersih. Makanya, kami yang dibantu instansi terkait membantu menyalurkan air bersih untuk warga,”ujar Kapolres Ciamis, AKBP Bismo Teguh Prakoso, usai menyalurkan air bersih di Desa Petirhilir, Selasa (31/07/2018) siang.

Bismo juga mengatakan pihaknya sudah mendapat data dari BPBD terkait daerah-daerah di Kabupaten Ciamis yang kesulitan air bersih. Di hari pertama, lanjut dia, pihaknya baru menyalurkan air bersih ke dua daerah. “Insyaallah, kami akan datangi satu persatu daerah yang mengalami krisis air bersih,” pungkasnya. (Her2/R2/HR-Online)