Begini Cara Lindungi Data dari Kejahatan Siber!

Berita Teknologi, (harapanrakyat.com),- Di Indonesia, enkripsi lambat laun bisa menjadi kebutuhan atau bahkan kewajiban bagi perusahaan atau individu yang terkena imbas General Data Protection Regulation (GDPR) keluaran European Union (EU).

Pasalnya, saat ini siapapun yang mempunyai urusan bisnis dengan negara-negara Eropa wajib menerapkan enkripsi untuk pengamanan data. Alasannya, kekuatan solusi enkripsi dalam menjaga kerahasiaan data menjadi sangat penting.

Hasil studi tren global enkripsi yang dilakukan pada tahun 2018 ini, menemukan fakta bahwa penggunaan enkripsi telah berkembang selama 13 tahun terakhir. Teknologi ini memberikan dampak positif terhadap postur keamanan organisasi.

Dan 43 persen mengungkapkan bahwa organisasi mereka mempunyai strategi enkripsi yang diterapkan secara konsisten di seluruh perusahaan. Hal itu dilakukan guna melindungi data sensitif terhadap penjahat siber, membantu organisasi mengatasi persyaratan kepatuhan GDPR yang kompleks, dan menjaga terhadap human error.

Technical Consultant PT Prosperita – ESET Indonesia, Yudhi Kukuh, dalam keterangan resminya, Selasa (14/08/2018), menuturkan bahwa kini globalisasi enkripsi di dunia juga merambah ke Indonesia.

Untuk itu, kata Yudhi, ESET Indonesia melalui ESET Endpoint Encryption Powered by Deslock, juga ikut berpartisipasi dalam meningkatkan keamanan dunia digital nasional dengan menggunakan teknologi enkripsi mutakhir. Teknologi ini digunakan untuk melindungi keamanan data dari berbagai ancaman serangan siber.

“Di era Big Data seperti sekarang ini, dengan eskalasi kejahatan siber yang terus tumbuh signifikan, ESET Endpoint Encrytion akan menutup setiap peluang pencurian dan eksploitasi data,” katanya.

Menurut Yudhi, enkripsi merupakan rekomendasi dari General Data Protection Regulation (GDPR) atau Undang-undang privasi yang digagas oleh Uni Eropa. Ketentuan ini sebagai salah satu pilihan terbaik dalam perlindungan data.

“ESET Endpoint Encryption telah memenuhi standarisasi dunia, dan menjamin data tetap aman baik dalam penyimpanan maupun saat bergerak,” tandasnya.

Yudhi menambahkan, berdasarkan investigasi pelanggaran data yang dilakukan Verizon pada Bulan Maret 2018, hampir sepertiga serangan atau 73 persen berasal dari eksternal. Sisanya 28 persen merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh orang dalam.

“Laporan tersebut berdasarkan analisis terhadap 53.000 insiden di dunia nyata, termasuk 2.216 kasus pelanggaran data yang dikonfirmasi. Ancaman ini terus meningkat, karena masih banyak perusahaan yang belum mengimplementasikan enkripsi dalam strategi keamanan perusahaan mereka,” katanya. (Deni/R4/HR-Online)