Minggu, Agustus 14, 2022
BerandaArtikelTradisi Membaca Kitab Kacijulangan di Pangandaran Kini Hampir Terlupakan

Tradisi Membaca Kitab Kacijulangan di Pangandaran Kini Hampir Terlupakan

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Kitab Kacijulangan merupakan rangkaian sejarah masyarakat seputar Cijulang, dan membaca kitab tersebut menjadi salah satu tradisi yang harus dipertahankan oleh masyarakat Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Tradisi membaca Kitab Kacijulangan atau biasa disebut Purwaning Jagat, biasanya dibacakan satu tahun sekali, yakni pada bulan Muharam oleh masyarakat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir ini tradisi tersebut hampir terlupakan, lantaran para kasepuhan yang biasa menggelar tradisi membaca Kitab Kacijulangan banyak yang sudah tutup usia.

Ketua Lembaga Adat Kabupaten Pangandaran, Erik Krisna Yudha Astrawijaya Saputra, Senin (13/08/2018), menjelaskan, isi naskah yang tertulis dalam Kitab Kacijulangan sebanyak 23 halaman itu selain tertera rangkaian sejarah para pendahulu masyarakat seputar Cijulang, juga ada beberapa uga atau pribahasa yang dijadikan dasar pada kehidupan masyarakat, atau sebagai Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) sebuah wilayah.

Erik juga mengatakan, bahwa keberadaan Kitab Kacijulangan yang asli hingga kini belum ditemukan. Namun, berdasarkan informasi salinan kitab tersebut ada di Perpustakaan Nasional.

“Kitab Kacijulangan aslinya bukan ditulis di atas kertas. Menurut beberapa kasepuhan ada yang menyebut terbuat dari kulit kelopak pohon, tapi ada juga yang menyebutkan dari kulit hewan,” katanya, kepada HR Online.

Lebih lanjut Erik menjelaskan, Kitab Kacijulangan ditulis dengan huruf Arab Pagon dalam bahasa Jawa. Adapun isi sejarah yang tertulis diantaranya sejarah geude (sejarah besar), sejarah leutik (sejarah kecil), dan sejarah kenabian.

Selain itu, dalam isi kitab itu juga tertulis hantiga yang memaparkan ilmu hakikat jati diri manusia. Dengan begitu maka Kitab Kacijulangan biasa disebut sebagai Rangkaian Purwaning Jagat.

“Karena Kitab Kacijulangan dinilai sakral sehingga pembacanya pun harus oleh orang yang memiliki tingkat ketasawufan dan tauhidnya sudah kokoh. Dulu biasanya dibacakan oleh Agan Didi. Setalah pupus kemudian diwariskan kepada Abah Sajib, dan selanjutnya diwariskan ke Kuwu Kanta. Lamanya pembacaan Kitab Kacijulangan dari awal hingga akhir biasanya berdurasi 2 jam 30 menit,” jelas Erik.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, bahwa setelah ada yang menyalin ke dalam kertas, Kitab Kacijulangan kemudian disalin lagi ke tulisan laten oleh Prof Edi S Ekadjati, dan saat ini naskah salinan tulisan laten tersebut ada di Perpustakaan Nasional.

Namun, salinan laten dari kitab tersebut tidak diperbolehkan untuk dipinjam maupun difotocopy lantaran sudah masuk sebagai arsip nasional. Jadi hanya boleh bisa dibaca di Perpustakaan Nasional.

Sedangkan, naskah Kitab Kacijulangan yang saat ini ada di sejumlah budayawan adalah naskah tulisan Arab Pagon, itu pun belum ada yang mampu menerjemahkan ke dalam bahasa daerah atau bahasa nasional. (Ceng2/R3/HR-Online)