Warga di Daerah Blok Jambuhandap Pangandaran Miliki Tradisi Bagi Hasil Pertanian

Panen padi di Blok Jambuhandap, Kabupaten Pangandaran. Photo: Mad2/HR.

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Warga di daerah perbatasan Dusun/Desa Bojong, tepatnya di Blok Jambuhandap, Kecamatan Parigi, dengan Dusun/Desa Cikalong, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, memiliki tradisi tersendiri dalam membagi hasil pertanian setelah panen padi.

Aman (45), salah seorang tokoh pemuda Desa Cikalong, Senin (06/08/2018), mengatakan, warga yang berada di daerah Blok Jambuhandap terbiasa membagi hasil panen pertaniaan padi dengan hitungan 6 berbanding 1.

Ketika pemilik sawah akan panen, biasanya mereka melibatkan tetangga sekitar untuk membantu panen padinya. Kemudian, hasil padi yang telah ditimbang harus dibagi dengan orang yang terlibat membantu panen. Bila hasil panennya mencapai 6 kwintal, maka 1 kwintalnya diberikan sebagai upah pada orang yang membatu panen.

Menurut Aman, secara ekonomi penghitungan tersebut lebih menguntungkan bagi orang yang membantu panen, dibandingkan dengan upah buruh berupa uang yang satu harinya dihitung Rp.70 ribu.

“Karena tradisi ini merupakan budaya turun temurun yang dipakai sebagai pedoman bermasyarakat, maka pemilik sawah tidak pernah merasa rugi,” terang Aman.

Dia juga menjelaskan, tradisi bagi hasil pertanian ini bermula dari sebuah sejarah Babad Jambuhandap yang menceritakan tentang pertempuran penguasa Jambuhandap, Eyang Jongkrang alias Sabda Jaya, dengan enam orang pasukan dari Kerajaan Sukapura.

Dalam sejarah tersebut, enam orang pasukan Kerajaan Sukapura ingin menguasai daerah Jambuhandap, tapi pada waktu itu Eyang Jongkrang tetap mempertahankannya sehingga terjadilah pertempuran.

“Pertempuran terjadi di daerah Jambuhandap, kala itu lokasinya berada di tiga perbukitan. Perbukitan tersebut hancur lantaran Eyang Jongkrang dan ke enam orang pasukan dari Kerajaan Sukapuran mengadu ilmu mengeluarkan kesaktiannya masing-masing,” jelas Aman.

Sementara itu, Aki Aceng (67), juru kunci Jambuhandap, menambahkan, ke tiga perbukitan yang hancur itu kemudian dijadikan lahan pertanian sawah dengan luas kurang lebih 4 hektar.

Ketika pertama kali panen padi tahun 1200 Masehi, hasil pertanian dibagi 6 berbanding 1. Hitungan ini merupakan penghargaan bagi 7 orang yang telah meratakan perbukitan melalui pertempuran menjadi areal pesawahan. (Mad2/R3/HR-Online)

 

KOMENTAR ANDA