Fakta Soal Makam di Ciamis yang Saat Dibongkar Jasad dan Kain Kafannya Masih Utuh

Pembongkaran pemakaman keluarga di Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang jasad dan kain kafannya masih utuh, Selasa (18/9/2018). Foto: Heri Herdianto/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Peristiwa aneh terkait 3 jasad manusia yang masih utuh saat makamnya dibongkar, meski salah satu makam sudah berusia 35 tahun, di Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, masih menyisakan misteri dan terdapat fakta yang menarik. Bahkan, Engkos Warkos (68), orang yang menggali makam tersebut, mengaku baru pertama kali membongkar makam yang usianya puluhan dan belasan tahun dengan kondisi jasad dan kain kafannya masih utuh.

“Saya sudah 25 tahun jadi tukang gali kubur. Tapi baru kali ini melihat jasad yang sudah puluhan tahun kondisi kerangka dan kain kafannya masih utuh. Maksud utuh di sini jangan diartikan dagingnya masih ada, tapi kerangkanya yang utuh. Kalau dagingnya sudah hancur,” ujarnya, ketika ditemui HR Online, Kamis (20/09/2018).

Berita Terkait: Heboh! Makam 35 Tahun di Ciamis Dibongkar, Jasad dan Kain Kafannya Masih Utuh

Meski yang tersisa hanya kerangka tulang, lanjut Engkos, namun kondisinya masih terbungkus dalam kain kafan yang masih terikat. Biasanya, kata dia, yang pertama kali hancur adalah kain kafan. Kemudian ketika jasad sudah tidak lagi terbungkus kain kafan, perlahan akan hancur dimakan rayap, cacing dan belatung.

“Tapi anehnya lagi tidak ada cacing dan belatung di sekitar lubang makam maupun pada tulang-tulangnya. Selain itu, tidak tercium pula aroma bau busuk,” ujarnya.

Engkos menjelaskan, saat membuka kain kafan yang masih membungkus jasad, terlihat struktur kerangka tulang-tulangnya masih tersusun dalam bentuk tengkorak utuh. Biasanya, kata dia, kalaupun masih tersisa kerangka tulang, posisinya sudah tercerai berai dan tak berbentuk.

“Selain 3 makam ini, ada 7 makam berdekatan yang juga sama dibongkar dan akan dipindahkan lantaran proyek perumahan. Dari 7 makam itu ada beberapa diantarannya sudah berusia sekitar 20 tahunan. Tapi saat dibongkar, semua jasadnya sudah tidak utuh. Ada yang jasadnya sudah rapuh, ada yang tulang-tulangnya berkumpul dan sudah tidak berbentuk serta ada juga yang kondisinya sudah hancur dan berubah seperti abu rokok,” terangnya.

Namun begitu, Engkos enggan mengaitkan soal keanehan jasad dan kain kafannya masih utuh ini dengan urusan gaib. Karena menurutnya kondisi tanah bisa saja menjadi penyebab tiga jasad itu masih utuh.

“Kalau ada orang yang bilang bahwa tiga jasad ini utuh karena faktor tanah, memang masih bisa diterima akal. Karena di sekitar tiga makam itu tanahnya kering. Ditambah di atasnya banyak pohon kayu yang menyebabkan tanah di sekitarnya kering,” ujarnya.

“Berbeda dengan kondisi 7 makam lainnya yang sama dibongkar. Kalau di sekitar 7 makam itu terdapat pohon rindang yang menyebabkan tanahnya lembab. Makanya jasad di 7 makam itu cepat busuk dimakan rayap dan belatung. Dan saat digali pun yang tersisa hanya potongan tulang-tulang yang sudah tercerai berai,” katanya.

Kondisi makam yang jasad serta kain kafannya masih utuh, di Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Selasa (18/9/2018). Foto: Heri Herdianto/HR

Namun, kata Engkos, kalau ada orang yang beranggapan bahwa keanehan itu dipengaruhi faktor gaib, mungkin saja. “Alloh bisa berkhendak apa saja. Apalagi Pak Jaludin dan Pak Sasmita ini semasa hidupnya dikenal orang baik dan saleh. Mudah-mudahan ini pertanda baik bagi almarhum. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Alloh SWT,” ungkapnya.

Sebelumnya, pembongkaran pemakaman keluarga di Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Selasa (18/9/2018), bikin heboh warga setempat. Pasalnya, tiga makam yang dibongkar tersebut, jasad dan kain kafannya masih utuh serta tidak mengeluarkan bau busuk. Maksud dari pembongkaran makam tersebut untuk dipindahkan ke tempat lain menyusul lahannya akan dibangun proyek perumahan.

Adang Suherlan, keluarga pemilik makam, membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, dirinya pun kaget dan tidak percaya ketika menyaksikan proses pembongkaran makam, dimana masih utuh jasad dan kain kafannya serta tidak mengeluarkan bau busuk.

“Semua orang yang ikut melakukan pembongkaran terheran-heran. Karena salah satu jasad, yakni kakek saya, yang sudah meninggal 35 tahun lalu, masih terlihat utuh jasad dan kain kafannya. Juga tidak mengeluarkan aroma bau busuk,” katanya, di lokasi pembongkaran.

Menurut Adang, tiga jasad yang makamnya dibongkar itu, terdiri dari kakeknya, ayahnya dan keponakannya. Kakeknya yang bernama Jalaudin, meninggal 35 tahun yang lalu. Ayahnya bernama Sasmita, meninggal 14 tahun yang lalu. Sementara keponakannya bernama Kaimita Nurkamila, meninggal 4 tahun yang lalu. (Her2/R2/HR-Online)