Jalur Kereta Api Banjar-Cijulang Dibangun Belanda untuk Ekploitasi Ekonomi

Jembatan kereta di Kalipucang yang merupakan jalur Kereta Api Banjar-Cijulang. Foto: Muhafid/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Jalur kereta api Banjar–Cijulang yang sudah 36 tahun ditutup total atau tidak difungsikan lagi, ternyata memiliki tujuan ekonomi saat awal dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1911. Rencana awal pembangunan jalur kereta ini terlontar dari ide seorang petinggi Belanda F.J Nellensteyn pada tahun 1898.

Seperti dilansir dari Wikipedia, F.J Nellensteyn pada tahun 1898 mengajukan konsesi pembangunan jalur kereta yang menghubungkan daerah Pameungpeuk-Rancaherang-Klapagenep-Cijulang-Parigi-Cikembulan-Kalipucang-Padaherang-Banjar.

Usulan dari F.J Nellensteyn itu ternyata diterima oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun sayang, meski sudah diterima, Nellensteyn malah tidak mengerjakan proyek yang diusulkannya.

Tetapi, pada tahun yang sama, pejabat Belanda lainnya, yakni H.J Stroband mengajukan usulan yang sama. Dia tampaknya memanfaatkan ide Nellensteyn yang sebelumnya sudah mendapat restu dari pemerintah, namun tidak dikerjakan. Tapi, jalur kereta yang diusulkan Stroband rutenya lebih pendek, yakni hanya dimulai dari daerah Banjar sampai Cijulang.

Tapi tak disangka, usulan Stroband malah ditolak pemerintah. Padahal, dia sudah mempersiapkan konsep teknis dan memiliki keinginan kuat untuk mewujudkan jalur kereta api tersebut. Beberapa tahun kemudian, usulan serupa kembali datang dari pihak swasta Belanda, yakni Eekhout van Pabst dan Lawick van Pabst. Respon pemerintahan pun masih sama, yakni menolak.

10 tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1908, Residen Priangan kembali mewacanakan pembangunan kereta api Banjar-Cijulang. Kemudian dengan disertai nota dukungan dari Asisten Residen Sukapura dan Kontrolir Manonjaya, Residen Priangan mengajukan usulan ke pemerintah Belanda.

Dalam usulannya, Residen Priangan menyampaikan alasan bahwa perlu dibangun jalur kereta Banjar-Cijulang untuk meningkatkan eksploitasi ekonomi dan pengembangan wilayah di Priangan timur dan Priangan tenggara. Namun, usulan itu tidak langsung diterima oleh pemerintah Belanda. Usulan itu hanya dijadikan bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

3 tahun kemudian, pemerintah Belanda akhirnya mengabulkan sekaligus merencanakan pembangunan jalur kereta api tersebut. Bukti persetujuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan mengeluarkan Undang-undang pada tanggal 18 Juli 1911. Dalam undang-undang itu intinya menyebutkan bahwa pemerintah kolonial memutuskan untuk membangun jalur kereta api Banjar-Kalipucang-Cijulang sebagaimana yang diusulkan Residen Priangan.

Pembangunan jalur kereta api ini diselesaikan dalam dua tahap. Menurut buku Kereta Api di Priangan Tempo Doeloe yang ditulis Sudarsono Katam, jalur kereta api tersebut dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda bernama Staatsspoorwegen. Jalur kereta ini awalnya hanya dibangun dari Banjar sampai Kalipucang dan diresmikan pada 15 Desember 1916. Kemudian proyek itu berlanjut dengan membuka jalur kereta dari Kalipucang sampai Cijulang dan diresmikan pada tanggal 1 Januari 1921.

Jalur kereta yang memiliki panjang 82 kilometer ini dulunya merupakan jalur yang sibuk. Menurut berbagai sumber, kereta api ini lebih digunakan sebagai alat transportasi untuk mengangkut hasil bumi.

Setelah Indonesia merdeka, jalur kereta Banjar-Cijulang masih terus digunakan. Namun, lebih dominan sebagai alat transportasi massal. Tak sedikit pula kereta api ini digunakan untuk tujuan wisata ke pantai Pangandaran. Namun sayang, pada 1 Februari 1982, kereta api yang dikenal dengan sebutan jurusan Banjar-Pangandaran ini ditutup total. Entah apa penyebabnya.

Sebenarnya, pada tahun 1997, pemerintah Indonesia melalui PT KAI berencana mengaktifkan kembali kereta Banjar-Cijulang. Hal itu ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan rel di sapanjang jalur Banjar-Banjarsari. Malah berapa lokomotif sudah melakukan ujicoba melewati rel yang sudah diperbaiki.

Namun sayang, pada akhir tahun 1997, Indonesia dilanda krisis moneter yang melemahkan berbagai sektor perekonomian. Akibatnya, rencana reaktiviasi jalur kereta Banjar-Cijulang ditutup kembali. Malah bantalan rel yang sudah dipasang pun dibongkar lagi.

Sementara itu, jalur kereta api Banjar-Cijulang memiliki keunikan tersendiri. Yakni jalur kereta ini memiliki terowongan dan jembatan kereta terpanjang di Indonesia. Terowongan terpanjang itu adalah Terowongan Sumber atau Wilhelmina yang memiliki panjang 1.116,10 meter. Terowongan itu berada di Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.

Sementara jembatan kereta api terpanjang adalah Jembatan Cikacepit dengan memiliki panjang 290 meter dan lokasinya berada di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran. Sementara 3 terowongan lagi adalah Terowongan Batulawang dengan memiliki panjang 281,5 meter, Terowongan Hendrik 105 meter dan Terowongan Juliana 147,70 meter.

Di jalur kereta Banjar-Cijulang, terdapat 6 stasiun yakni Statsiun Banjar, Padaherang, Kalipucang, Ciputrapinggan, Pangandaran, Parigi, dan Cijulang. Selain stasiun, juga terdapat 16 halte di sepanjang jalur kereta tersebut, yakni Halte Batulawang, Gunungcupu, Cikotok, Sukajadi, Banjarsari, Banjarsari Pasar, Cangkring, Cicapar, Kedungwuluh, Ciganjeng, Tunggilis, Sumber, Cikembulan, Cikalong, dan Cibenda. (Bgj/Koran HR)