Janji Penghuni Situs Kokoplak untuk Kota Banjar

Bangunan salah satu saung yang berada di Situs Kokoplak, Desa Sinartanjung, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Kota Banjar merupakan daerah di ujung Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kota kecil yang dikenal Karang Pamidangan atau tempat singgah ini juga dikenal dengan hal-hal yang berbau mistis.

Sementara itu, di sejumlah wilayah Kota Banjar juga terdapat berbagai situs cagar budaya yang sampai saat ini masih dijaga dengan baik oleh pemerintah. Seperti halnya Situs Kokoplak di Dusun Pananjung, Desa Sinartanjung, Kecamatan Pataruman.

Diketahui, Situs Kokoplak merupakan cagar budaya yang luasnya sekitar 1 hektar, tepat berada di pinggir Sungai Citanduy dan berdekatan dengan komplek Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pananjung.

Menurut sesepuh Desa Sinartanjung, Unan (78), bahwa Situs Kokoplak dihuni oleh Sanghyang Sanggabuana. Berdasarkan penuturannya, Sanghyang Sanggabuana merupakan turunan Ratu Galuh Bogor, yakni Sanghyang Jagatrasa yang memiliki dua anak, yakni Sanghyang  Sanggabuana dan Langlangbuana.

Pada saat itu, ayah Sanggabuana berpesan kepada anaknya kalau ia akan semedi ke tempat keramat, dan Sanggabuana sebagai anak paling besar diberi kepercayaan untuk memegang kerajaan.

Karena perintah ini, adik Sanggabuana, yakni Langlangbuan, iri terhadap apa yang diterima kakaknya untuk menguasai wilayah kerajaan tersebut. Lantaran keduanya tetap kokoh dengan pendirian masing-masing, hingga akhirnya mereka berdua bertarung.

“Sebagaimana diceritakan dalam Kidung Lakbok, disebutkan bahwa mereka bertarung di Pataruman, Jorelat Lumpat ka Jelat, Ngarandeg di Randegan, Olo di Citangkolo, dan diarey-arey di Cijurey. Setelah itu, Sanggabuana dikejar hingga mendekati Citanduy, dan Sanggabuana pun berubah menjadi buaya putih,” tutur Unan, saat ditemui Koran HR, Kamis (06/09/2018).

Lantaran berubah menjadi buaya putih, lanjut Unan, sontak saja Langlangbuana kaget, karena dirinya mengejar kakaknya sendiri justru berubah menjadi buaya putih. Sehingga, Langlangbuana pun putus asa dan nyirep (hilang secara ghaib) di wilayah Batulawang. Sampai saat ini di wilayah Batulawang terdapat Situs Langlangbuana.

Pasca Langlangbuana menghilang, Sanggabuana langsung menepi ke darat. Sayangnya, ia terjebak di pohon bambu yang berada di pinggir Citanduy, hingga akhirnya ia juga hilang secara ghaib, dan bersemayam di Kokoplak yang dikenal dengan sebutan Mbah Dalem Eyang Sopandi Tambakbaya.

“Mbah Dalem Eyang Sopandi Tambakbaya pernah berjanji, tidak akan memberikan kekayaan untuk masyarakat Pananjung (Kota Banjar), akan tetapi hanya akan memberikan keamanan,” papar Unan.

Jika ingin kekayaan, silakan orang di luar Banjar sampai ke arah Barat seperti Ciamis hingga ke Jakarta, maupun ke arah Timur seperti Jateng, Jatim dan daerah lainnya. Itu pesannya. Maka dari itu, Kokoplak sering dikunjungi oleh orang dari luar Banjar dengan tujuan yang beragam.

Di lokasi Situs Kokoplak, lanjut Unan, terdapat makam orang dulu yang dikenal Ibu Ratu Purbasari, Ibu Ratu Sarimulan dan Ibu Ratu Sarirasa. Selain itu, juga terdapat petilasan Mbah Dalem Eyang Sopandi Tambakbaya.

Di lokasi tersebut dahulu kerap muncul seekor kera putih (ghaib) yang menjaga situs tersebut. Bahkan, sampai saat ini pun kera itu sering muncul. Sementara di bagian pintu, terdapat penjaga yang bernama Mbah Jambu yang berasal dari Bagolo.

“Dulu, Mbah Jambu izin ke saya untuk ikut bersemayam di Kokoplak, setelah ia menempati sejumlah tempat, seperti di Banjarsari tidak diterima. Karena kasihan, saya izinkan saja dia untuk menunggu di Kokoplak dengan syarat tidak mengganggu pengunjung yang datang,” terang Unan.

Pasca Unan menceritakan soal Situs Kokoplak, Koran HR pun berkesempatan berkunjung ke situs tersebut pada Malam Jum’at Kliwon, tepatnya hari Kamis (07/09/2018), sekitar pukul 11.00 WIB.

Dari pantauan di lokasi, tampak sejumlah orang yang diduga datang dari luar Kota Banjar. Mereka tengah berada di pinggir makam sambil berdiam diri atau semedi. Meski tanpa adanya lampu penerangan, namun di lokasi tersebut terasa begitu sepi dan sunyi. (Muhafid/Koran HR)

KOMENTAR ANDA