Minggu, Mei 22, 2022
BerandaBerita PangandaranMisteri Kuda Sembrani di Madasari Pangandaran

Misteri Kuda Sembrani di Madasari Pangandaran

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Pantai Madasari yang berada di Dusun Bulakbenda, Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran dikenal sebagai salah satu pantai di Pangandaran yang memiliki keindahan. Namun, dibalik keindahan tersebut ternyata tersimpan sebuah misteri kuda sembrani.

Menurut berbagai sumber, Madasari Pangandaran dahulunya diketahui merupakan hutan belantara yang dijadikan tempat persembunyian pada zaman penjajahan belanda. Sebelum dinamakan Madasari, dahulu masih bernama Madang Nyari, yang artinya Madang itu makan, dan Nyari enak. Jadi, secara harfiah nama Madang Nyari berarti makan enak.

Pasca lokasi tersebut menjadi sebuah perkampungan, salah satu pendatang dari Suku Bugis yang bernama Daeng Danti mengubah nama Madang Nyari menjadi Madasari. Dan nama Madasari tersebut, Mada berarti makanan, dan Sari artinya rasa. Secara harfiah nama Madasari berarti makanan yang memiliki rasa enak.

Ukan Suganda, salah satu warga, mengatakan, Pantai Madasari memiliki 12 areal objek wisata, seperti Gedogan, Sodong Gede, Karang Segeh, Batu Leuit, Kalapa Satangkal, Pulau Manggar, Pulau Hawu-hawu, Panon Nyampay, Balekambang, Legok Bancet, Patuguran dan wisata Legok Kalapa.

“Dari 12 lokasi wisata tersebut tentunya memiliki fungsi yang berbeda-beda, namun memiliki keterkaitan dari satu tempat ke tempat lainnya,” kata Ukan.

Sementara dari 12 lokasi tersebut, salah satu tempat yang masih fenomenal dan disakralkan di antaranta wisata gedogan. Konon, lokasi tersebut merupakan tempat penyimpanan kuda sembrani yang diketahui kuda jantan dari bangsa siluman yang dimiliki oleh orang tua zaman dulu.

“Orang tua dulu disini banyak yang punya kuda sembrani. Perlu diketahui, kuda sembrani ini merupakan alat transportasi dari suatu daerah ke daerah lain yang mana jaraknya sangat jauh dan digunakan untuk mengikuti pertemuan penting,” jelas Ukan.

Selain kuda jantan, lanjut Ukan, orang tua zaman dahulu juga memelihara kuda betina biasa. Hal itu, karena kebiasaan kuda sembrani yang menyetubuhi kuda betina warga setempat. Sehingga, banyak kuda betina warga yang hamil meskipun tanpa adanya kuda jantan.

“Makanya warga Madasari Pangandaran rata-rata sampai saat ini tidak mau memelihara kuda jantan. Sebab, jika memeliharanya, kuda jantan tersebut bakal mati mengenaskan yang mana akibat serangan kuda sembrani yang diketahui dari bangsa siluman,” pungkasnya. (Ceng2/HR Online)

- Advertisment -