Muksin Kenalkan Seni Rogo Jin di Kota Banjar

Muksin, saat menampilkan seni Rogo Jin dalam kegiatan Car Free Day, di Jalan Letjen. Soewarto, Kota Banjar. Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Muksin Fauzi Baljun (40), pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah ini tidak diragukan lagi dalam urusan berkesenian. Ia telah beberapa kali berkeliling Indonesia dan sudah dikenal di sejumlah daerah, terutama di kalangan para seniman.

Kini dia tengah berada di Kota Banjar, Jawa Barat. Tujuannya, selain silaturahmi dengan para seniman Kota Banjar, juga untuk mengenalkan seni Rogo Jin yang didirikannya sejak bulan Juli tahun 1999 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Menurut Muksin, Seni Rogo Jin merupakan seni teater puisi yang diiringi oleh alat musik tiup suling Sunda, namun cara meniup sulingnya menggunakan pernapasan hidung dan tidak melalui mulut.

Dinamai Rogo Jin, karena saat tampil dirinya bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana saja, serta seluruh tubuhnya dicat hitam menggunakan pigmen sablon, sehingga mirip dengan Jin. Dalam teater puisi ini, Muksin selalu membawakan tema tentang sosial kehidupan manusia yang selalu tertindas.

“Berpenampilan serba hitam ini merupakan simbol, bahwa dalam kehidupan ada hitam dan putih. Saat membawakan seni ini, saya pun membawakan puisi tentang sosial dan diselingi tiup suling Sunda dengan menggunakan nafas hidung,” jelasnya, kepada Koran HR, Minggu (09/09/2018), saat dijumpai di acara Car Free Day, Jalan Letjen Soewarto, Kota Banjar.

Karya-karya puisinya memang sudah terkenal di mana-mana, seperti puisi yang berjudul Kegelapan Jiwa, Serambi Mekah, Bertopeng Dalam Kegelapan, serta ratusan puisi lainnya yang dia ciptakan.

Muksin pun sempat berkeluh kesah dan selalu melontarkan kritik kepada pemerintah dalam karangan puisinya. Menurutnya, seorang seniman selalu dipandang sebelah mata, bahkan jarang mendapat perhatian.

“Itulah nasib seniman, bahkan hal seperti ini terjadi di setiap daerah. Tapi saya tak perduli dengan semua itu, yang penting bagi saya adalah bisa terus berkarya. Jika ada kemauan, di situ pasti ada jalan,” tandasnya.

Dia juga mengaku kalau dirinya sudah bertahun-tahun merantau ke sejumlah daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumatera Selatan, Aceh, Kalimantan Timur, dan Banten.

Muksin selalu berpindah-pindah tempat dari satu kota ke kota lainnya hanya untuk beraktivitas seni yang sudah menjadi pilihan dalam hidupnya. Jika ada event-event, dirinya pun selalu diundang dan pasti ikut dalam event tersebut.

Namun menurutnya, jika sedang tidak ada event atau acara seni, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dia tetap berkesenian dengan cara ngamen di jalan atau di tempat-tempat keramaian.

“Sudah tiga hari saya di Banjar. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya coba ngamen di Alun-alun, Car Free Day, dan Taman Kota. Alhamdulillah ada rezekinya, dari ngamen saya dapat hasil 60 ribu rupiah hingga 100 ribu rupiah,” ungkap pria keturunan Arab ini.

Muksin yang juga lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu, mengungkapkan kalau dirinya tidak takut sakit karena harus bertelanjang dada saat pentas, atau memainkan seni Rogo Jin. Sebab, untuk menjaga tubuhnya tetap sehat, setiap hari dirinya selalu memakan satu siung bawang putih.

“Alhamdulillah, selama ini saya selalu menjaga kebugaran tubuh dengan cara memakan satu siung bawang putih setiap hari,” terangnya.

Dalam menampilkan Seni tersebut saat di Car Free Day hari Minggu (09/09/2018) kemarin, mendapat sambutan dan respon positif dari para pengunjung. Tak jarang para pengunjung mengaku kagum, kaget, dan sedikit takut karena saat pentas tubuh pemainnya dicat serba hitam.

“Awalnya saya takut, kok ada orang tubuhnya dicat hitam semua, tapi lama-lama saya pun menikmati pertunjukan seni ini,” kata Mia (26), salah seorang pengunjung Car Free Day.

Pendapat serupa dikatakan Ineu (31), pengunjung Car Free Day lainnya. Menurut dia, Seni ini bagus, terutama saat pemainnya membawakan puisi-puisi yang bertemakan tentang kehidupan manusia, dan pada saat pemain tersebut meniup suling menggunakan hidung.

“Ini aneh dan unik. Di Banjar belum ada seni seperti ini. Puisinya sangat bermakna dan yang lebih unik adalah saat pemain tersebut meniup suling tapi menggunakan hidung,” ujar Ineu. (Hermanto/Koran HR)