Ritual Lempar Celana Dalam di Astana Gede Kawali Ciamis Disesalkan

Celana dalam tampak nyangkut di pohon. Celana dalam itu milik peziarah yang melakukan ritual mandi dan melemparkan celana dalamnya, di kolam Cikawali yang berada di areal situs Astana Gede Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Foto: Heri Herdianto/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Kasi Pembinaan Kesenian Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ciamis, Eman Hermansyah, menyesalkan adanya aktivitas ritual menyesatkan yang dilakukan sebagian peziarah wanita di kolam Cikawali situs Astana Gede Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Aktivitas ritual itu yakni melakukan mandi di kolam Cikawali, kemudian sesudahnya melempar celana dalam yang dipakainya. Ritual itu diyakini sebagai cara untuk membuang sial dan termotiviasi ingin telihat cantik serta segera mendapatkan jodoh.

“Memang benar menurut sejarah bahwa kolam Cikawali tempat pemandian Diah Pitaloka Citra Resmi yang merupakan puteri dari Raja Kerajaan Galuh. Tetapi, tidak ada alasan tempat itu digunakan untuk aktivitas aneh, seperti ritual lempar celana dalam dan aktivitas lainnya yang berbau musrik,” tegasnya, kepada Koran HR, Senin (10/09/2018).

Eman mengatakan, keberadaan situs harus dijadikan ajang edukasi untuk mengenalkan sejarah masa lalu kepada generasi penerus. Selain itu, areal situs pun harus dijaga dan dirawat keasliannya dengan melakukan aktivitas yang positif serta tidak mengundang polemik di masyarakat.

“Sebagaimana UU RI no 11 tahun 2010 tentang Pelestarian Pengembangan dan Pemanfaatan Situs Cagar Budaya menekankan pelestarian untuk menjaga arel situs dan dimanfaatkan dengan hal positif. Artinya, kami sangat menyesalkan adanya aktivitas tersebut,” ujarnya.

Celana dalam wanita tampak berserakan dan nyakut di pohon bambu yang berada di sekitar area kolam Cikawali situs Astana Gede Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Celana dalam itu milik peziarah yang dilempar usai melakukan ritual mandi di kolam tersebut. Foto: Heri Herdianto/HR

Dihubungi terpisah, Kepala Desa Kawali, Ismail Marjuki, mengaku tidak mengetahui adanya ritual lempar celana dalam di situs Astana Gede. Dia malah menyarankan agar HR mengkonfirmasi ke juru kuncinya. “Lebih baik tanyakan ke juru kunci, karena dia lebih tahu seluk beluk aktivitas peziarah,” katanya, saat dikonfirmasi Koran HR, Senin (10/09/2018).

Hingga berita ini ditulis, Koran HR belum berhasil mengkonfirmasi Juru Kunci Astana Gede Kawali. Namun, saat mendatangi Astana Gede, berhasil menemui Petugas Tiket Astana Gede, Lia Apriliani, untuk mengkonfirmasi terkait hal tersebut. Lia pun mengaku tidak tahu persis soal ritual lempar celana dalam dan banyaknya ditemukan celana dalam wanita di area kolam Cikawali.

“Tapi, tidak menutup kemungkinan ritual itu benar adanya. Kalaupun ritual itu ada, kemungkinan besar pelakunya peziarah yang datang dari luar daerah dan masuk tanpa didampingi petugas atau juru kunci. Itupun dilakukan mereka pada malam hari. Jadi tidak terpantau oleh petugas,” katanya saat dikonfirmasi Koran HR, Senin (10/09/2018).

Sementara itu, Emping Sopiah (59), warga Kecamatan Cipaku, mengatakan, istilah buang sial dengan cara mandi dan melempar celana di kolam Cikawali atau di tempat keramat lainnya, termasuk mandi di tujuh muara, pernah mendengarnya. Namun, berdasarkan informasi yang didapat, orang yang meyakini mitos tersebut kebanyakan atas perintah orang pintar atau dukun.

“Mereka yang melakukan itu biasanya termotiviasi ingin wajahnya terlihat cantik atau ingin segera mendapat jodoh yang diinginkannya,” ujarnya.

Baca juga: Biar Cantik, Ada Ritual Mandi dan Lempar Celana Dalam di Astana Gede Kawali Ciamis

Seperti yang diberitakan harapanrakyat.com, Jum’at (07/09/2018), ada pemandangan aneh apabila berkunjung ke sekitar lokasi kolam Cikawali yang berada di areal situs Astana Gede Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Betapa tidak, di sekitar kolam banyak ditemukan celana dalam wanita, baik yang nyangkut di pohon ataupun berserakan di tanah. Ternyata, celana dalam itu milik para peziarah yang dibuang usai menggelar ritual mandi di kolam Cikawali.

Menurut Budayawan Ciamis yang juga warga di Astana Gede Kawali, Fahmy Husnulyaqin, banyak peziarah wanita yang melakukan ritual mandi di kolam Cikawali. Mereka meyakini bahwa kolam yang airnya disuplai dari sumber mata air ini dulunya sering digunakan tempat mandi oleh Diah Pitaloka Citra Resmi yang merupakan puteri dari Raja Kerajaan Galuh.

“Diah Pitaloka ini terkenal dengan kecantikannya. Bahkan, dia sempat dinginkan oleh Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit untuk dipersunting menjadi istrinya. Namun, pernikahan keduanya batal menyusul terjadinya tragedi perang bubat yang menjadi sejarah kelam dalam perjalanan Kerajaan Galuh dan Majapahit,” ujarnya, Kamis (05/09/2018).

Karena dulunya tempat mandi Diah Pitaloka, membuat kolam Cikawali diburu para peziarah wanita. Namun, wanita yang mandi di kolam itu, kebanyakan mereka yang memiliki problem dalam kehidupannya atau berharap wajahnya ingin menjadi cantik dan menarik.

Entah bagaimana awalnya, setiap peziarah wanita usai melakukan ritual mandi di kolam tersebut, pastinya langsung melempar celana dalamnya. Celana dalam yang dilempar, bukan yang baru. Justru yang sudah dipakainya. Ritual lempar celana dalam itu sebagai simbol membuang sial dan berharap keberuntungan dalam kehidupannya.

Saat ritual membuang celana dalam, ternyata ada tata cara dan tidak sembarang melempar. Ritual mandi biasanya dilakukan malam hari. Seusai mandi, kemudian peziarah harus melemparkan celana dalam bekas pakainya ke arah belakang dari posisi dia berdiri. Posisi berdirinya bebas, bisa dari arah mana saja. Ritual itu sering dilakukan pada malam rabu atau malam jum’at. (Edji/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA