Saat Pembongkaran Makam Pahlawan di Pangandaran Terdapat 2 Jasad yang Aneh

Pembongkaran makam pahlawan di Blok Cijoho, Dusun Purwasari, Desa Parigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Jum’at (28/09/2018). Foto: Aceng/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Pembongkaran makam pahlawan di Blok Cijoho, Dusun Purwasari, Desa Parigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, yang dilakukan pada Jum’at (28/09/2018), tampaknya terdapat sejumlah fakta yang mengejutkan. Dari 9 makam yang dibongkar, 2 jasad terdapat keanehan. Dari mulai tidak ditemukan sedikitpun tulang sampai ada tengkorak yang tergenang air.

Seperti diketahui, Pemkab Pangandaran akan memindahkan seluruh makam pahlawan yang tersebar di seluruh kecamatan untuk disatukan di suatu tempat pemakaman khusus di Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi. Tempat pemakaman itu nantinya akan dinamai Taman Pahlawan Kabupaten Pangandaran. Pembongkaran makam pahlawan ini pun akan dilakukan di beberapa taman pahlawan yang berada di kecamatan lainnya.

Menurut petugas Tagana Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Pangandaran, Wita, terdapat dua makam yang jasadnya terdapat keanehan. Pertama, makam Almarhum Anhar Supratman, yang pada lobangnya sudah tidak ditemukan apa-apa. Saat dilakukan penggalian, tidak ditemukan sedikitpun tulang atau gumpalan tanah hitam. Biasanya, apabila tengkorak sudah habis dimakan belatung dan cacing, akan berubah menjadi gumpalan tanah hitam.

“Padahal sudah digali sampai kedalaman dua meter dan lebar dua meter. Tetapi tetap saja tidak ditemukan tulang atau gumpalan tanah hitam di lobang kuburan tersebut. Akhirnya, kami mengambil tanahnya saja untuk dipindahkan ke tempat baru,” ujarnya.

Keanehan kedua pada pembongkaran makam pahlawan di blok Cijoho, yakni makam Almarhum J. Hasugian. Saat digali, pada sekeliling lobangnya tergenang air. Jasadnya yang sudah berupa tengkorak masih menyambung utuh antara tulang kepala, leher, tubuh dan kaki. “Anehnya lagi, meski seluruh lobangnya tergenang air, tetapi pada bagian kepalanya tidak ada sedikitpun air. Sehingga pada bagian kepalanya kering,” terang Wita.

Wita menambahkan hanya makam Almarhum J. Hasugian yang lobangnya tergenang air. Sementara makam lainnya, termasuk makam yang berada di sampaingnya, saat dibongkar kondisinya kering.

“Sekarang kan musim kemarau, aneh saja pada galian lobang dua meter sudah mengeluarkan air. Sumur yang lobangnya 10 meter saja pada musim kemarau seperti saat ini sudah pada kering,” ungkapnya. Meski jasadnya tergenang air, lanjut dia, tetapi tidak mengeluarkan aroma bau busuk.

Sementara itu, Purnawirawan Sersan Mayor Roni Sahroni, (63), mengatakan, berdasarkan cerita dari kalangan veteran, Almarhum Anhar Supratman memiliki gelar Prajurit Satu Anumerta. Dia meninggal pada tahun 1957. “Almarhum saat meninggal masih perjaka atau meninggal dalam usia muda,” katanya.

Almarhum Anhar Supratman, kata Roni, semasa hidupnya dikenal sosok yang tampan, gagah, pemberani dan memiliki kedisiplinan tinggi sebagai seorang prajurit. “Tapi dia meninggal bukan saat bertempur, tetapi ketika diperintahkan atasannya membersihkan senjata. Saat membersihkan senjata, tiba-tiba saja peluru meledak dan mengenai tepat di kepalanya,” ujarnya.

Karena ketampanannya, kata Roni, Almarhum menjadi idola para wanita. Sementara karena kedisiplinannya, Almarhum pun sering mendapat kepercayaan atasannya. “Makanya prajurit lainnya selalu cemburu kepada almarhum,” imbuhnya.

TCL

Sebenarnya, kata Roni, Almarhum Anhar Supratman pertama dimakamkan di lokasi yang sekarang digunakan kantor Bupati Pangandaran. Namun, pada tahun 1963, pemerintah membangun taman makam pahlawan di Cijoho Desa Parigi, Kecamatan Parigi. “Jadi, waktu itu makam para veteran yang tersebar dimana-mana dipindahkan ke Cijoho, termasuk makam Almarhum Anhar Supratman,” katanya.

Pada pemindahan pertama pun, lanjut Roni, warga dibuat geger oleh jasad Almarhum Anhar Supratman, dimana jasadnya berbeda dengan jasadnya lainnya yang sama dipindahkan.

“Saat dibongkar, rambut dan kukunya panjang seperti manusia hidup. Selain itu, kulitnya masih utuh dan tidak terkelupas sedikitpun. Sementara pada tangan dan kakinya masih tumbuh bulu yang lebat. Padahal, saat pembongkaran yang pertama, jasadnya sudah dikubur sekitar 6 tahun,” ujarnya. (Ceng2/R2/HR-Online)

Loading...