Tiga Kesenian Khas Kota Banjar Diakui Nasional

Salah satu kesenian khas Kota Banjar. Foto: Istimewa

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Setiap daerah pastinya memiliki kesenian khas tradisional, seperti Ondel-Ondel dari Betawi, Kuda Renggong dari Sumedang, Sisingaan dari Subang, dan kesenian-kesenian khas masing-masing daerah lainnya.

Begitu pula dengan Kota Banjar yang juga memiliki kesenian khas dan telah menjadi ikon kota tersebut. Ada tiga kesenian khas kota Banjar ini, yaitu seni Reog Dongkol dari Desa Karyamukti, Manuk Janur dari Desa Cibeureum, dan Jurig Sarengseng dari Desa Binangun. Ketiga kesenian tradisional ini sudah beberapa kali tampil dalam event provinsi maupun nasional.

Untuk kesenian Reog Dongkol, awal sejarah terbentuknya adalah berlatar belakang dari sebuah cerita legenda Dewi Sri, yang menitipkan sehelai rambutnya kepada Aki Kanayan Tani dan Nini Kanayan Tani, yang kini menjadi salah satu situs cagar budaya di Kota Banjar.

Rambut tersebut oleh Aki Kanayan Tani dan Nini Kanayan Tani kemudian ditanam hingga menjelma menjadi sebuah pohon Aren (Kawung). Keberadaan pohon tersebut menjadi sebuah mata pencaharian, selain bercocok tanam di sawah.

Di Desa Karyamukti, atau tepatnya di Dusun Cigadung, dulunya merupakan daerah yang banyak ditumbuhi pohon Aren. Ketika akan menyadap pohon tersebut, terlebih dahulu diadakan ritual yang kemudian dilanjutkan dengan ninggur mayang Aren.

Dari bunyi tingguran itulah maka lahir sebuah sajian bentuk seni Reog Dongkol yang berarti Lodong dan Kohkol. Guna mengembangkan serta mengenalkan seni Reog Dongkol, maka ada upaya dari sesepuh untuk dikemas dalam bentuk sajian seni pertunjukan.

Untuk pengembangannya ditambah dengan Tari Ronggeng Dongkol, Tari Nderes (Nyadap), Helaran Seni Badawang Kawung, dan Reog Dongkol Mata Holang. Namun sayang, kesenian khas Kota Banjar ini hampir punah, karena kaum mudanya jarang melestarikan kesenian ini.

Kesenian kedua yang menjadi khas Kota Banjar yakni Manuk Janur. Kesenian Manuk Janur merupakan kesenian ciri khas dari masyarakat Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar. Kesenian ini ditampilkan dalam acara khitanan pengantin sunat atau gusaran.

Tradisi yang dilakukan yakni turun mandi oleh pengantin sunat atau gusaran, dengan tujuan agar mereka merasa terhibur oleh penampilan kesenian tersebut, sebelum pelaksanaan sunatan atau gusaran. Selain itu, turun mandi juga sudah menjadi adat tradisi secara turun-temurun warga masyarakat Desa Cibeureum.

Seni Manuk Janur ini sudah beberapa kali pentas, baik di tingkat kota, kabupaten, provinsi, bahkan hingga ke tingkat nasional. Seperti dalam rangka Hari Jadi Kota Banjar, Hari Jadi Kabupaten Garut, perwakilan Kota Banjar pada kegiatan Helaran Seni tingkat Provinsi Jawa Barat di Monumen Perjuangan, Bandung, dan perwakilan Provinsi Jawa Barat pada Hari Ulang Tahun Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Manuk Janur ini adalah replika dari Burung Garuda yang bahannya terbuat dari janur (daun kelapa yang masih muda). Kesenian ini dimainkan oleh sekelompok orang dengan diiringi musik gamelan khas Sunda. Di mana si pengantin sunat atau gusaran naik di atas replika manuk tersebut, lalu diarak oleh pelaku seni serta warga untuk melakukan turun mandi.

Filosofi dari Manuk Janur sendiri adalah burung merupakan hewan yang bisa terbang mengitari angkasa luas, yang artinya diharapkan si pengantin sunat atau gusaran tadi bisa menggapai cita-citanya setinggi langit dan memiliki wawasan luas.

Sedangkan, Janur adalah bagian dari pohon kelapa yang banyak manfaatnya dari ujung pohon sampai ke akar. Artinya, diharapkan si pengantin sunat atau gusaran bisa menjadi berguna bagi nusa, bangsa, serta agama, dan juga masyarakat. Janur juga melambangkan kegembiraan atau sukacita.

Kesenian khas Kota Banjar yang ketiga adalah Seni Jurig Sarengseng dari Desa Binangun, Kecamatan Pataruman. Menurut Nono Tarsono (62), selaku sesepuh seni di Desa Binangun, mengatakan, seni Jurig Sarengseng diilhami dari bentuk seni budaya ngarumat jagat, atau secara definisi untuk memelihara atau menjaga alam di Desa Binangun.

Istilah Jurig di sini menggambarkan sosok atau karakter manusia yang sifatnya serakah. Sedangkan, Sarengseng adalah ujung bambu (bahasa Sunda merang) yang tajam dan membahayakan.

“Kami memegang teguh adat kebudayaan yang merupakan warisan leluhur, khususnya kebudayaan adat Sunda, maka lahirlah kesenian khas dari Desa Binangun yakni kesenian Jurig Sarengseng,” terangnya.

Nono juga menjelaskan, kesenian ini menceritakan supaya manusia bisa menjaga dan melestarikan alam yang merupakan warisan leluhur. “Melalui seni dan budaya ini, kami memberi pesan kepada manusia untuk melestarikan dan menjaga alam,” imbuh Nono.

Kepala Desa Binangun, Udung, menambahkan, kesenian Jurig Sarengseng pernah tampil di event Galuh Ethnic Carnival dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Ciamis ke-376 tahun beberapa pekan yang lalu.

“Selain di event Galuh Ethnic Carnival, kesenian Jurig Sarengseng juga pernah ikut memeriahkan event Asian African Carnival yang digelar di Bandung pada 28 April 2018, dan berhasil menyabet gelar juara 3 se-Asia Afrika,” tuturnya.

Para pemain kesenian Jurig Sarengseng harus ber-makeup hitam legam dengan kostum berbahan kayu. Menurut Udung, hal ini merupakan gambaran dari sifat manusia yang suka merusak alam dan lingkungan.

Kesenian Jurig Sarengseng juga memiliki pesan bagi generasi muda dan pemerintah, supaya bersama-sama menjaga alam dengan tidak merusaknya, seperti melakukan penebangan liar di hutan yang nantinya dapat mengakibatkan rusak lingkungan dan berkurangnya sumber air.

“Kesenian ini memiliki pesan supaya setiap manusia bisa menjaga dan memelihara serta melestarikan lingkungannya,” terang Udung.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banjar, Oom Supriatna, membenarkan, bahwa ketiga kesenian tersebut merupakan kesenian khas asli Kota Banjar, yang telah diakui oleh provinsi dan nasional. (Hermanto/Koran HR)

KOMENTAR ANDA