Ela, Kendangers Perempuan dari Kota Banjar

Ela Gustina (18), penabuh kendang wanita asal Kota Banjar. Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Biasanya seorang penabuh kendang Sunda kebanyakan dilakukan oleh seorang laki-laki. Namun, di Kota Banjar ada seorang kendangers perempuan muda yang mahir memainkan alat tersebut. Dia adalah Ela Gustina (18), perempuan kelahiran Banjar 3 Agustus 2000 itu kini tengah menjadi sorotan karena kemahirannya dalam memainkan kendang Sunda.

Ela yang tergabung dalam komunitas Kendangers Yudha Sakti pimpinan Abud Jaenal Abudin, kini telah mahir dalam memainkan alat musik kendang, khususnya kendang Jaipong Dangdut (pongdut).

Hal itu terlihat saat ia manggung di Taman Kota Lapang Bhakti Banjar, pada Sabtu (06/10/2018) malam, dalam kegiatan penggalangan dana bagi korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Sontak saja, aksinya itu langsung menarik perhatian penonton yang hadir. Para penonton banyak yang mengomentari pemain kendang yang hanya mengenyam belajar sampai bangku SMP itu.

“Luar biasa, seorang wanita mungil yang cantik memainkan kendang Sunda yang biasanya alat musik ini dimainkan oleh seorang laki-laki,” ujar Wawan, salah satu penonton, kepada Koran HR.

Dalam aksinya, senyum wanita imut ini terus mengembang selama mengiringi pertunjukkan musik pongdut. Ia memang berbeda dengan gadis-gadis lainnya. Di saat gadis  seusianya keranjingan musik Reggae, namun ia justru mendalami seni tradisonal Sunda, dan mau belajar kendang yang sangat jauh dari hobi kaum muda, khususnya kaum wanita saat ini.

“Saya kira mainnya biasa, tapi ternyata lebih dari itu dan ia pun memainkan kendang seperti halnya pemain kendang laki-laki,” ujar Dede Arif, penonton lainnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Kendangers Yudha Sakti, Abud Jaenal Abudin, mengatakan, saat Ela memainkan kendang memang seperti terlihat mudah. Namun menurutnya, semua itu tidak mudah karena selain skill, juga ketahanan fisik harus bugar dalam memainkan kendang.

“Di komunitas kendangers, Ela memang satu-satunya kendangers perempuan diantara anggota kendangers lainnya. Kelihatannya seperti mudah, namun itu tidak mudah karena harus membutuhkan fisik yang kuat untuk bisa meminkan kendang, apalagi dalam waktu yang tidak sebentar,” jelas Jaenal.

Saat berbincang dengan HR, Ela mengaku sudah mulai memainkan kendang pada saat usianya masih belia, yaitu sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia pun mengaku belajar secara otodidak.

Kecintaannya terhadap dunia seni kemudian membawanya ke dunia panggung hiburan. Ia pun mengaku sudah manggung ke beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah. “Saya sering manggung dengan kelompok-kelompok musik pongdut, dan kerap menggung di berbagai daerah seperti seputaran wilayah Kabupaten Cilacap, Banjar, dan Ciamis,” tuturnya.

Ela juga mengaku kalau dirinya tak memperdulikan mengenai telapak tangannya yang kini menjadi kasar karena terlalu sering memainkan kendang. Sedangkan, untuk mendalami skillnya dalam bermain kendang, kini Ela sering berlatih dengan Komunitas Kendangers Yudha Sakti di basecamp sanggar seni Galih Pakuan pimpinan Abah Asep Sapa’at, di Lingkung Banjar Kolot, Kelurahan Banjar, Kota Banjar.

Perempuan muda tersebut merupakan contoh dari sejumlah remaja yang masih mencintai serta ikut melestarikan budaya negeri sendiri. Sehingga, dalam hal ini harus menjadi inspirasi bagi remaja lain, khususnya para kaum muda di Kota Banjar. (Hermanto/Koran HR)