Selasa, September 27, 2022
BerandaBerita BanjarPaguyuban Nur Suci Banjar Gelar Hajat Bumi

Paguyuban Nur Suci Banjar Gelar Hajat Bumi

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Tradisi hajat hasil bumi di Lingkungan Pataruman, Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, menjadi perhatian warga.

Pasalnya, kegiatan yang berlangsung tiap tahun oleh Paguyuban Nur Suci itu selalu menjadi daya tarik tersendiri karena menyuguhkan suasana keakraban antar sesama warga, terutama warga yang mayoritas berpenghasilan dari membuat bata merah.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hajat bumi tahun ini tampak begitu sederhana. Namun masih memiliki ciri khas yang tidak bisa dihilangkan, yakni kegembiraan warga untuk berebut makanan dan minuman yang telah dibacakan do’a secara bersama-sama.

Diketahui, hajat hasil bumi tersebut merupakan gagasan Paguyuban Nur Suci yang menginjak dua tahun berdiri, setelah dideklarasikan tahun lalu.

Paguyuban ini merupakan perkumpulan warga dari berbagai elemen dan latar belakang, tanpa memandang status dan asal muasal.

Namun, mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu melestarikan tradisi leluhur dan fokus pada kegiatan-kegiatan sosial.

Penasehat Paguyuban, Ujang Bachyan, mengatakan, dirinya sangat bersyukur hajat bumi yang selalu digelar setiap Kliwon di akhir bulan Muharam.

Meskipun tiap tahun digelar dengan konsep yang berbeda-beda, yakni dari segi kemeriahan dengan adanya hiburan, namun pada intinya kebersamaan masyarakat dalam menyukuri nikmat dari Tuhan-lah yang paling penting.

Baca Juga : Sepenggal Cerita di Situs Gedeng Mataram Banjar

“Kita patut bersyukur acara ini bisa digelar setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Alloh SWT. Tanpa adanya limpahan rizki dari Alloh SWT, baik itu berupa kesehatan, rizki serta lainnya, kita tentu tidak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya, saat ditemui Koran HR, di sela-sela kegiatan, Selasa (02/10/2018).

Paguyuban Nur Suci Rangkul Semua Kalangan

UJB, panggilan akrabnya, menambahkan, Paguyuban ini adalah perkumpulan masyarakat yang tidak melihat status dan latar belakang, bahkan asal muasal daerah.

Karena memiliki tujuan yang sama untuk membantu orang lain yang membutuhkan bantuan. Sehingga paguyuban ini hadir dengan mengedapankan kebersamaan untuk berbagi.

“Dalam anggota kita, mau punya rizki sekecil apapun dan ingin membagi ke masyarakat yang membutuhkan, langsung kita laksanakan. Kalau tidak ada, ya sudah, tidak ada paksaan sama sekali. Alhamdulillah selama perjalanan dua tahun ini, kita sudah cukup banyak membantu warga, baik jompo, bedah rumah, renovasi masjid, pemberian alat kebersihan lingkungan, serta lainnya. Mudah-mudahan saja paguyuban ini terus berjalan sebagaimana tujuannya, yakni berbagai dengan sesama,” harap UJB.

Di lokasi yang sama, Ketua Paguyuban, Astudi, menjelaskan, hajat hasil bumi ini selalu digelar di lingkungan masyarakat yang mayoritas memiliki penghasilan dari membuat bata merah.

Kaitannya dengan kegiatan tahunan yang cukup sederhana ini, Astudi menyampaikan, bahwa pada tahun ini yang merupakan tahun politik.

Pihaknya tidak ingin kegiatan tersebut ditumpangi oleh hal-hal yang berbau kepentingan sesaat.

“Kita sudah sepakat bahwa kegiatan semacam ini adalah murni kegiatan yang lahir dari masyarakat. Dan masyarakat menikmatinya. Maka dari itu, untuk tahun ini kita dalam persiapannya juga mendadak, serta hanya anggota paguyuban yang terlibat dalam acara ini. Kaitannya tahun politik ini, kita tentu selalu hati-hati agar kegiatan untuk melestarikan tradisi ini tetap terjaga dengan baik, dan tidak ternodai oleh hal-hal yang rentan,” tandasnya.

Akan Selalu Melestarikan Hajat Bumi

Astudi yang juga akrab dengan panggilan Mbah Jabar ini menambahkan, bahwa pihaknya akan selalu melestarikan tradisi hajat bumi ini.

Hal itu sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh SWT atas limpahan rizki yang telah Alloh berikan.

Selain itu, tradisi ini juga menjadi media edukasi bagi para pemuda maupun generasi penerus. Tjuannya agar bisa mempertahankan warisan leluhur dari kepungan modernisasi.

Pihaknya juga tidak menafikan adanya zaman yang serba modern ini. Akan tetapi, tradisi serta warisan leluhur juga perlu melestarikannya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

“Hal ini juga untuk mengajarkan kepada generasi penerus supaya terus memperkuat silaturahim antar sesama,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)