Sejarah di Balik Situs Cagar Budaya Salak Putih Banjar

Situs Cagar Budaya Salak Putih di Dusun Sukaharja, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, diketahui menyimpan sejarah sewaktu zaman Kerajaan Siliwangi. Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Sebuah situs keramat yang berada di Dusun Sukaharja, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, menyimpan sejarah sewaktu zaman Kerajaan Siliwangi. Situs yang bernama Salak Putih itu meski berusia ratusan tahun, namun kondisinya sampai saat ini masih terawat dengan baik.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran HR, situs tersebut memiliki cerita antara Prabu Siliwangi dengan anaknya, Dayang Sumbi. Nama salak putih sendiri diambil dari lokasi keramat yang dipenuhi pohon salak yang durinya berwarna putih.

Sementara itu, keramat tersebut juga sering dikunjungi oleh orang yang menginginkan sesuatu, baik hanya untuk berziarah semata (semedi), maupun mengambil duri yang lekukannya seperti keris. Uniknya, pohon salak putih itu diketahui belum pernah berbuah secara kasat mata. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkan salak putih tersebut.

Menurut juru kunci Situs Cagar Budaya Salak Putih, Yayat, bahwa situs ini memiliki sejarah yang diyakini sebagai tempat istirahat Prabu Siliwangi saat berburu. Di lokasi ini juga Prabu Siliwangi sempat buang air kecil, dan air tersebut diminum oleh babi hutan.

“Pasca meminum air seni Prabu Siliwangi, babi itu hamil. Seketika itu babi tersebut langsung dibawa ke keraton. Saat babi itu melahirkan, yang keluar Dayang Sumbi, yang kita tahu merupakan ibu Sangkuriang,” kata Yayat, saat ditemui Koran HR beberapa waktu lalu.

Dia juga mengatakan, bahwa yang datang ke lokasi Situs Cagar Budaya Salak Putih tidak hanya dari Banjar saja, namun ada pula dari daerah lain yang ada di Jawa Barat, maupun dari luar Jabar.

Tujuannya pun berbeda-beda, baik yang hanya sekedar ingin tahu keberadaan situs, maupun menyalahgunakannya dengan melakukan pemujaan berharap bisa mendapatkan keberuntungan.

“Kalau dari latar belakang tujuan pengunjung itu macam-macam. Biasanya kalau yang jauh karena mendapatkan wangsit untuk datang ke sini. Tapi kalau niatnya tidak baik, tidak boleh ke sini,” terangnya.

Yayat menegaskan, jika masyarakat tujuannya hanya berkunjung semata untuk sekedar ingin tahu, tidak apa-apa. Namun, jika untuk hal-hal yang tidak baik, tentu sangat tidak disarankan. “Kalau yang baik-baik silahkan, tapi kalau yang tidak baik, ya jangan,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)

KOMENTAR ANDA