Situs Gedeng Mataram, Tempat Singgah Pasukan Kerajaan Mataram Islam di Banjar

Maman Suherman, juru kunci Gedeng Mataram, saat meminta izin untuk peliputan sejarah Gedeng Mataram. Foto: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com) Kota Banjar sejak dulu dikenal dengan sebutan “Karang pamidangan” atau tempat persinggahan. Hal itu terbukti dengan banyaknya situs yang memiliki sejarah tempat singgahnya orang-orang zaman dahulu dari berbagai kerajaan, seperti halnya Situs Gedeng Mataram.

Tempat keramat tersebut berlokasi di tengah-tengah pemukiman warga Lingkungan Cikabuyutan Timur, Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Tempat ini konon menjadi tempat persinggahan pasukan Kerajaan Mataram Islam, saat menyebarkan agama Islam dan memerangi penjajah Belanda.

Perlu diketahui, Kesultanan Mataram merupakan kerajaan Islam terbesar di Jawa yang berdiri sekitar abad ke-17, dan dipimpin oleh Dinasti keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan, yang mana keduanya mengklaim sebagai keturunan dari penguasa kerajaan Majapahit.

Asal-usulnya, kerajaan ini berawal dari suatu kadipaten di bawah Kesultanan Pajang yang berpusat di “Bumi Mentaok,” sebuah lokasi yang berada di Yogyakarta. Lokasi tersebut merupakan hadiah untuk Ki Ageng Pemanahan atas jasanya. Adapun raja pertamanya adalah Sutawijaya atau Panembahan Senapati yang merupakan putra Ki Ageng Pemanahan.

Pada masa keemasannya, Mataram Islam mampu menyatukan tanah Jawa dan Madura. Bahkan, kerajaan ini menjadi musuh VOC di Batavia yang terus memperluas kekuasannya. Dalam proses memerangi penajajah dan menyebarkan ajarakan Islam, pasukan Mataram dikirim ke berbagai wilayah, termasuk ke wilayah Kerajaan Padjajaran yang di dalamnya ada Kerajaan Galuh.

Juru kunci Situs Gedeng Mataram, Maman Suherman (86), saat ditemui Koran HR, Selasa (02/10/2018), menjelaskan, pada zaman dulu, pasukan Mataram yang tengah menyebarkan ajaran Islam di Bumi Pasundan, selalu singgah di lokasi yang saat ini menjadi tempat keramat.

Konon, para pasukan yang diutus tersebut selalu istirahat dan menjadikan situs ini sebagai tempat singgah. Bahkan, dulu ada sebuah masjid tempat pertemuan dan ibadah yang kini menjadi sebuah sekolah.

“Karena sering dijadikan tempat persinggahan, keberadaan pasukan Mataram ini diketahui oleh Belanda dan pasukan kerajaan yang tidak mau di-Islam-kan. Mereka akhirnya terkepung hingga menghilang atau Nyirep dengan begitu saja. Sontak saja, pada waktu itu pasukan tersebut kebingungan karena mereka yakin pasukan Mataram bisa ditangkap, bahkan sudah terlihat di depan mata. Namun, tiba-tiba menghilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga sekarang,” terang Maman, yang juga mantan Kapolsek Lakbok tahun 1960.

Pasca menghilangnya puluhan pasukan Mataram, tempat tersebut dijadikan tempat keramat, karena lokasi ini dipercaya sebagai tempat bertemunya makhluk ghaib dari berbagai wilayah di Banjar dan sekitarnya, yang berhasil di-Islam-kan oleh pasukan Mataram.

Bahkan, lanjut Maman, sebagai tempat yang dikenal keramat, Presiden Soekarno saat muda pernah berziarah ke Gedeng ini. Cerita tersebut diketahuinya setelah Maman mendapatkan foto Soekarno dari seseorang sebagai bentuk simbol bahwa Soekarno pernah ke Kota Banjar.

Selain itu, sampai saat ini juga situs tersebut masih sering diziarahi oleh orang dari berbagai daerah, baik karena ada kepentingan yang bersifat ghaib maupun untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya.

“Yang datang ke saya biasanya mereka mengalami sakit yang sifat penyebabnya ghaib. Rata-rata mereka karena menyimpan barang-barang pusaka peninggalan Mataram. Saat ke sini, barangnya dikasihkan ke saya, dan saya bersama orang-orang tersebut ziarah ke sini Alhamdulillah, setelah itu penyakitnya bisa sembuh,” ujarnya.

Baca Juga: Sepenggal Cerita di Situs Gedeng Mataram Banjar

Maman mengaku, mereka yang datang kepada dirinya itu bukan hanya orang biasa, bahkan orang yang dikenal sebagai dukun kerap datang kepada dirinya untuk meminta bantuan pengobatan.

Sedangkan, ikhwal dirinya dipercaya menjadi juru kunci dan bisa mengobati berbagai penyakit yang bersifat ghaib, Maman mengaku hal itu tidak terpikirkan sejak dari awal dirinya masih menjadi Polisi, baik di Lakbok maupun di Banjar.

Maman juga mengaku kalau dirinya sebagai juru kunci tidak ada kaitannya dengan turunan Mataram, sebagaimana aturan yang berlaku. Sebab, dirinya hanya orang biasa yang kerap membersihkan lokasi situs tersebut.

Ia juga menyebutkan, bahwa juru kunci pertama di situs tersebut adalah H. Ibrahim, dilanjutkan Muhammad, dan Suhanda. Namun, keturunan dari juru kunci Suhanda tidak ada yang meneruskan, hingga akhirnya Maman terpaksa dipilih oleh Dinas Kebudayaan sekitar tahun 1975.

“Kaitannya dengan pengobatan yang saya lakukan, sudah ada izin dari Kejaksaan Negeri Kota Banjar. Pada prinsipnya, di mana saja ketika ada tempat bersejarah maupun keramat, harus dijaga dengan baik. Ini sebagai bentuk penghormatan kita kepada leluhur,” pungkasnya.

Saat Koran HR meliput sejarah Situs Gedeng Mataram, Maman sempat mengajak untuk meminta izin terlebih dahulu ke keramat tersebut. Tak hanya itu, Maman juga sempat menunjukkan beberapa benda pusaka yang diyakini peninggalan pasukan Mataram yang tersebar dari berbagai wilayah di Jawa Barat, baik berbentuk keris, pedang, tongkat, batu dan lainnya. (Muhafid/Koran HR)