Soal SRG Ciamis tak Berfungsi, Begini Kata DKUKMP

Sarana resi gudang (SRG) yang terdapat di wilayah Desa Karangpaningal, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis. Foto: Suherman/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan (DKUKMP) Kabupaten Ciamis, Dase Fadlil YM, SH., ketika ditemui Koran HR, belum lama ini, menegaskan, meski bangunan SRG Ciamis tidak berfungsi, tapi tidak diperbolehkan untuk dialihfungsikan seperti yang diharapkan warga Purwadadi.
Dase menjelaskan, SRG tersebut merupakan program kementrian.

Pihaknya tidak bisa memberikan ijin untuk mengalihfungsikan bangunan tersebut sebagai gedung olahraga (GOR) ataupun lapang futsal. Sebagaimana amanat undang-undang, gudang tersebut hanya untuk menyimpan komoditi hasil pertanian.

“Mungkin nantinya bisa saja, gudang ini dikelola oleh daerah, misalkan oleh koperasi ataupun BUMDes. Tapi peruntukannya tetap untuk menyimpan komoditi pertanian,” katanya.

Lebih lanjut, Dase menjelaskan, bangunan SRG Ciamis dikelola oleh pihak ketiga, yakni PT. Pos Indonesia (Kantor Pos) Kota Banjar. Karena merujuk pada arahan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komuditi (Bappebti), SRG itu dikelola oleh pihak ketiga.

Menurut Undang-undang SRG No 9 tahun 2011, Dase menambahkan, pihak ketiga tersebut diantaranya, PT, Koperasi, BUMN atau BUMD. Di Kabupaten Ciamis sendiri terdapat dua SRG, di Karangpaningal Purwadadi dan Benteng Ciamis.

“SRG Benteng Ciamis dikelola PT. Pos Indonesia (Kantor Pos) Ciamis. Segala sesuatu bentuk operasional termasuk mencari komoditi, yang bertanggungjawab dalam pengelolaanya adalah PT. Pos,” katanya.

Diakui Dase, dalam perjalanan kerjasama antara PT. Pos Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Ciamis memang tidak berjalan efektif. Padahal Pemerintah Kabupaten Ciamis sudah membantu melalui bentuk sosialisasi kepada petani di setiap wilayah, baik itu melalui tingkat kecamatan atau langsung di SRG.

“Langkah selanjutnya, nanti kebetulan kami akan ke Bandung. Kami akan menyampaikan jika kontrak dengan PT. Pos Indonesia sudah habis. Dan selama kontrak dengan PT. Pos, kami mengakui tidak pernah ada kemajuan, bahkan untuk aktifitas bisa dikatakan tidak ada. Sebenarnya kami juga malu, padahal perasaan, kami sudah bekerja maksimal membantu PT. Pos,” terangnya. (Suherman/Koran HR)