Di Kota Banjar, Budaya Demokrasi ‘Ditularkan’ Melalui Panggung Sajak

Kegiatan Panggung Sajak di Taman Lapang Bhakti Kota Banjar, Sabtu (24/11/2018). Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Dalam rangka Gerakan Literasi Masyarakat (GLM), Etnografi Institute, Gending Sekar Nusantara, Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK), bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan para awak media di Kota Banjar, menggelar kegiatan Panggung Sajak di Taman Lapang Bhakti Kota Banjar, Sabtu (24/11/2018).

Panggung Sajak ini memiliki misi besar, yakni membangun narasi pembangunan melalui sajak atau puisi sebagai tanda perkembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, juga memberikan ruang ekspresi bagi para pecinta sastra sajak untuk mencurahkan ide atau gagasan yang tertuang dalam sebuah narasi sastra puisi.

Ketua KPU Kota Banjar, Dani Danial Muklis, mengatakan, kegiatan ini merupakan esensi demokrasi, yakni kebebasan untuk menuangkan pendapat. Sehingga, perlu adanya gerakan literasi masyarakat yang membahas mengenai makna penting dari arti demokrasi.

“Untuk menanam sadar berdemokrasi, yaitu dengan terus mengkampanyekan budaya literasi di kalangan masyarakat,” ujarnya.

Ia pun menilai, hadirnya Komunitas Panggung Sajak yang terdiri dari wartawan, sastrawan, budayawan, akademisi, pelajar dan mahasiswa ini merupakan salah satu upaya membangkitkan kembali budaya diskusi yang kerap dilakukan di kota-kota besar di Indonesia.

Selain itu, panggung sajak adalah sebuah wahana, sarana dan ruang untuk siapapun, tak terkecuali yang akan menyampaikan gagasan, harapan dan kritik melalui sajak atau puisi. “Bagi saya, kunci penting dari sajak atau puisi adalah membunyikan kata-kata meletakkan gagasan atau ide untuk menyampaikan sebuah pesan,” katanya.

Menurut Danial, kegiatan panggung sajak adalah sebuah desain untuk menghidupkan kembali dunia sastra. Sehingga, dengan adanya panggung sajak ini, para sastrawan, budayawan dan seniman Kota Banjar bisa berbagi pengetahuan kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Karena, sajak itu identik dengan suara, baik dalam arti sebenarnya maupun dalam arti majazi, yaitu harapan atau cita-cita si pembaca. Terlebih penciptanya yang sangat mungkin juga bisa mewakili harapan masyarakat banyak.

“Maka pada titik ini, dari sudut pandang saya sebagai pejuang demokrasi, dalam hal ini penyelenggara Pemilu, melihat bahwa Panggung Sajak juga ada bentuk literasi demokrasi. Karena melalui panggung ini, kebebasan berpendapat terjamin dan itulah hakikat demokrasi,” tandas Danial.

Senada dikatakan Aditya Tri Wahyudi, dari kalangan wartawan, bahwa Panggung Sajak merupakan komunitas pecinta karya sastra. Menurutnya, komunitas ini sebaiknya bisa dirangkul oleh Pemkot Banjar. Karena, tidak menutup kemungkinan dari Panggung Sajak ini lahir seorang sastrawan handal asal Kota Banjar.

“Di Panggung Sajak ini saya melihat penuh dengan orang-orang bertalenta di dunia sastra. Sangat disayangkan bila tidak dimanfaatkan oleh pihak terkait untuk menggali potensi sastra di Kota Banjar ini,” katanya.

Adit, yang juga wartawan televisi nasional tvOne, menambahkan, Kota Banjar harus memiliki citra khas yang dikenal oleh masyarakat luas melalui kesusastraan, dan dilahirkan oleh mereka yang berada di Panggung Sajak.

Sementara itu, pendiri Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK), Sofyan Munawar, mengatakan, Panggung Sajak merupakan media bersama untuk saling berbagi, saling sharing, sekaligus saling menyemangati satu sama lain untuk terus berkreasi meningkatkan potensi diri.

“Pada saatnya nanti, budaya kreasi, budaya prestasi akan tumbuh bersama meningkatnya budaya literasi di kota kita tercinta. Untuk itu, ayo bergerak dengan sajak,” kata Sofyan.

Pendapat serupa diungkapkan oleh pendiri Etnografi Institute, yang juga sebagai penggerak Panggung Sajak, Syarif Hidayat. Dia menjelaskan, Panggung Sajak tergagas dari banyaknya para kaum milenial di Banjar, yang memiliki hasrat untuk berdiskusi dan menyampaikan gagasanya untuk kemajuan Kota Banjar, namun minim fasilitas dan ruang.

“Maka dari itu, kami menyepakati untuk membuat ruang terbuka bagi masyarakat umum yang ingin berdiskusi melalui ekspresi jiwa sastra sajak. Berharap Panggung Sajak ini bisa jadi embrio narasi pembangunan daerah melalui ruang ekspresi kaum muda masyarakat Banjar,” terangnya.

Diketahui, Panggung Sajak ini sudah dilakukan sebanyak dua kali, dan pesertanya dari semua lapisan masyarakat meliputi mahasiswa, dosen, pegiat literasi, pelajar dan wartawan. (Hermanto/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA